
Usai menemani Lian sarapan, Sena di antara kembali ke rumah sakit." Terima kasih, nanti sore aku jemput." Ucap Lian, sembari memberanikan dirinya mengusap kepala calon istrinya itu.
"Ngapain jemput! Aku bawa motor juga." Sahut Sena, namun Lian hanya menunjukkan senyumnya tanpa ingin membalas ucapan Sena
Pria itu, berbalik kemudian melangkah pergi meninggalkan Sena. Sementara Sena sendiri tidak begitu peduli ia langsung bergegas menuju ruangannya.
Pagi itu Sena memulai pekerjaannya seperti biasanya dan saat jam makan siang dia bersama Jasmine makan siang bersama di kantin, walaupun pihak rumah sakit selalu menyiapkan makanan untuk tenaga medisnya tapi entah mengapa mereka lebih suka menghabiskan waktu di kantin rumah sakit.
"Bagaimana hubungan kamu dan Lian?" Tanya Jasmine saat ini keduanya sedang duduk bersama di kantin sembari menikmati hidangan yang baru saja di suguhkan pelayan kantin itu.
"Entahlah." Jawab Sena.
" Kamu belum ingin memaafkan dia?" Tanya Jasmine lagi. " Jujur saja, aku sampai terkejut waktu itu, saat tahu kalian memiliki hubungan. Karena sejak dulu aku tidak pernah dengar dia dekat dengan siapa pun dan aku ingat waktu di kecelakaan dalam keadaan tak sadar, dia selalu menyebut nama seorang wanita, ah kamu ingat dulu pernah bercerita tentang sepupuku yang baru sembuh, itu Lian." Lanjutnya menginginkan Sena.
Karena saat mereka masih berkuliah, Jasmine memang sering menceritakan tentang Lian tapi dia hanya menyebutkan sepupuku begini dan begitu serta bla bla bla hingga membuat Sena merasa perasaan yang bercampur-campur dan ternyata orang itu adalah Lian.
" Ya aku ingat." Sahutnya.
"Dia sangat sayang sama kamu Sena, tidak bisakah kamu memaafkan dia, tuhan saja maha pemaaf dan penyayang, masa kita yang manusia biasa tidak." Ujar Jasmine menasehati sahabatnya itu. Bukan karena dia membela sepupunya, dia hanya ingin membantu meluruskan hubungan mereka karena sebentar lagi mereka akan menikah, tidak mungkin kan mereka akan hidup seperti ini.
"Aku udah maafin dia kok." Jawab Sena tanpa menatap kepada Jasmine. " Tapi untuk bersikap manis seperti dulu rasanya masih sakit." Lanjut Sena menunjuk dadanya dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf_"
"Nggak papa Jasmine, aku tahu kamu hanya ingin membantu kita baikkan. Terima kasih." Sena langsung memotong ucapan Jasmine dan langsung diangguki wanita itu.
"Sama-sama, semoga kalian selalu Langgeng ya." Sena tersenyum simpul sembari mengangguk kecil.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Dan sore Harinya Lian menepati janjinya untuk menjemput Sena seperti yang dia katakan pagi tadi.
Tidak seperti pagi tadi, sore itu Sena langsung masuk kedalam mobil Lian, meninggalkan motornya di parkiran rumah sakit.
Karena Sena sudah bertekad untuk mencoba memulai lagi dari awal dengan Lian sebelum mereka benar-benar melangkah kehubungan yang lebih serius ini.
"Langsung pulang?" Tanya Lian, langsung diangguki oleh wanita itu." Nggak mau mampir beli sesuatu dulu?" Tanya Lian lagi, namun kali ini Sena menggeleng kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah, mana kunci motor kamu! Nanti aku suruh orang aku untuk jemput terus antar ke rumah." Sena dengan canggung mengeluarkan kunci motor dari dalam tasnya untuk di berikan kepada Lian.
Setelah itu Lian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit itu. Sesekali pria itu melirik kearah Sena dengan senyum yang tidak pudar diwajahnya. Dan Sena yang menyadari itu hanya bersikap biasa saja.
Usai menemani Lian sarapan, Sena di antara kembali ke rumah sakit." Terima kasih, nanti sore aku jemput." Ucap Lian, sembari memberanikan dirinya mengusap kepala calon istrinya itu.
"Ngapain jemput! Aku bawa motor juga." Sahut Sena, namun Lian hanya menunjukkan senyumnya tanpa ingin membalas ucapan Sena
Pria itu, berbalik kemudian melangkah pergi meninggalkan Sena. Sementara Sena sendiri tidak begitu peduli ia langsung bergegas menuju ruangannya.
Pagi itu Sena memulai pekerjaannya seperti biasanya dan saat jam makan siang dia bersama Jasmine makan siang bersama di kantin, walaupun pihak rumah sakit selalu menyiapkan makanan untuk tenaga medisnya tapi entah mengapa mereka lebih suka menghabiskan waktu di kantin rumah sakit.
"Bagaimana hubungan kamu dan Lian?" Tanya Jasmine saat ini keduanya sedang duduk bersama di kantin sembari menikmati hidangan yang baru saja di suguhkan pelayan kantin itu.
"Entahlah." Jawab Sena.
" Kamu belum ingin memaafkan dia?" Tanya Jasmine lagi. " Jujur saja, aku sampai terkejut waktu itu, saat tahu kalian memiliki hubungan. Karena sejak dulu aku tidak pernah dengar dia dekat dengan siapa pun dan aku ingat waktu di kecelakaan dalam keadaan tak sadar, dia selalu menyebut nama seorang wanita, ah kamu ingat dulu pernah bercerita tentang sepupuku yang baru sembuh, itu Lian." Lanjutnya menginginkan Sena.
__ADS_1
Karena saat mereka masih berkuliah, Jasmine memang sering menceritakan tentang Lian tapi dia hanya menyebutkan sepupuku begini dan begitu serta bla bla bla hingga membuat Sena merasa perasaan yang bercampur-campur dan ternyata orang itu adalah Lian.
" Ya aku ingat." Sahutnya.
"Dia sangat sayang sama kamu Sena, tidak bisakah kamu memaafkan dia, tuhan saja maha pemaaf dan penyayang, masa kita yang manusia biasa tidak." Ujar Jasmine menasehati sahabatnya itu. Bukan karena dia membela sepupunya, dia hanya ingin membantu meluruskan hubungan mereka karena sebentar lagi mereka akan menikah, tidak mungkin kan mereka akan hidup seperti ini.
"Aku udah maafin dia kok." Jawab Sena tanpa menatap kepada Jasmine. " Tapi untuk bersikap manis seperti dulu rasanya masih sakit." Lanjut Sena menunjuk dadanya dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf_"
"Nggak papa Jasmine, aku tahu kamu hanya ingin membantu kita baikkan. Terima kasih." Sena langsung memotong ucapan Jasmine dan langsung diangguki wanita itu.
"Sama-sama, semoga kalian selalu Langgeng ya." Sena tersenyum simpul sembari mengangguk kecil.
\=\=\=\=\=\=
Dan sore Harinya Lian menepati janjinya untuk menjemput Sena seperti yang dia katakan pagi tadi.
Tidak seperti pagi tadi, sore itu Sena langsung masuk kedalam mobil Lian, meninggalkan motornya di parkiran rumah sakit.
Karena Sena sudah bertekad untuk mencoba memulai lagi dari awal dengan Lian sebelum mereka benar-benar melangkah kehubungan yang lebih serius ini.
"Langsung pulang?" Tanya Lian, langsung diangguki oleh wanita itu." Nggak mau mampir beli sesuatu dulu?" Tanya Lian lagi, namun kali ini Sena menggeleng kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah, mana kunci motor kamu! Nanti aku suruh orang aku untuk jemput terus antar ke rumah." Sena dengan canggung mengeluarkan kunci motor dari dalam tasnya untuk di berikan kepada Lian.
Setelah itu Lian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit itu. Sesekali pria itu melirik kearah Sena dengan senyum yang tidak pudar diwajahnya. Dan Sena yang menyadari itu hanya bersikap biasa saja.
__ADS_1