
"Kak Sena." Teriak Daffa saat wanita itu menghentikan laju motornya, tepat di samping teras rumah mereka. " Kak Sena bawah apa?" Tanya Daffa lagi, sembari menghampiri Sena.
" Es krim dan susu buat kamu." Jawab Sena, Namun Daffa justru melangkah mundur sembari menggeleng kepalanya.
" Nggak Nanti badan Daffa merah-merah, udah gitu sakit lagi." Ucapannya. Karena dia sendiri tahu akan alergi yang dia punya.
Daffa mengetahui hal itu, bukan karena di beritahu Ningsih, tapi dia tahu sendiri. Waktu itu Daffa begitu ingin makan es krim namun Ningsih menolak karena ada kandungan susunya. Namun Daffa diam-diam menerima es krim pemberian mama temannya dan akhirnya dia merasakan sakit itu, Daffa pun segera di larikan ke rumah sakit, sejak saat itu Daffa tidak mau lagi mau mencobanya.
"Ini aman kok! Dan susunya juga terbuat dari kacang kedelai, rasanya enak, sudah ada kandungan buah di dalamnya. Es krimnya juga terbuat dari buah segar tanpa campuran susu. Coba deh." Ucap Sena untuk meyakinkan anaknya. Namun Daffa tetap waspada dan ragu-ragu untuk mengambilnya. " Sayang, ayo ambil. Kakak nggak akan nyakitin kamu nih."
Namun Daffa masih tetap tidak bergeming. Hingga Sena mengeluarkan satu kemasan es krim, membukanya kemudian memberikan kepada Daffa.
" Kak_"
" Coba dulu, ayo." Desaknya lagi, sembari terus mei Daffa, bocah itu pun dengan perlahan mendekatkan bibirnya.
Dan Daffa bisa merasakan dinginnya es krim itu. Di lidahnya. Namun tidak terjadi apapun. Daffa pun mencoba lagi dan benar saja tidak terjadi apapun padanya.
" Terima kasih kak." Ujarnya, kemudian melanjutkan menikmati es krim pemberian sana.
__ADS_1
" Sama-sama, Kalau kamu mau lagi! Ambil di kulkas, tapi ingat secukupnya dan jangan berlebihan." Daffa adalah anak yang pintar dan penurut! dia selalu mengingat apa yang di katakan kakak dan mamanya. bahkan dia tidak pernah melanggar larangan mereka, terkecuali insiden es krim itu.
Daffa pun menjawab dengan anggukan kepala saja. Sembari mengikuti langkah Sena, masuk kedalam rumah.
" Sayang apa itu?" Tanya Ningsih.
" Hanya es krim dan susu buat Daffa, tenang aja mah, itu bukan susu sapi kok." Jawab Sena saat menyadari perubahan wajah mamanya.Namun sedetik kemudian Ningsih langsung bernafas lega.
" Sini sayang, biar mama yang simpan, kamu langsung makan aja! Mama udah siapkan makanan kamu di meja. " Ucap Ningsih, sembari meraih kantung plastik yang di bawa Sena.
" Iya mah."
Disisi lain, Jasmine yang baru tiba di rumah paman dan tantenya. Terus bercerita bagaimana kesehariannya di luar. Karena ini pertama kalinya dia datang ke Indonesia.
Mamanya Jasmine dan mamanya Leni kakak adik. Sebelum menjadi istri dari papanya Jasmine, mamanya berkerja mengantar turis berkeliling. Padahal mereka bukan termasuk orang yang kurang mampu, hanya saja mamanya Jasmine itu tipikal orang yang cerewet dan pekerja keras, sama seperti Jasmine- lah. Karena pekerjaan inilah mamanya Jasmine dan papanya saling kenal, saat itu mereka sedang berlibur di Bali dan mamanya Jasmine yang bertanggung jawab mengantar mereka. Setelah menikah mamanya Jasmine langsung mengikuti papanya jarang sekali pulang ke negara asalnya, Tapi satu yang hebat dari mamanya Jasmine, wanita selalu mengunakan bahan Indonesia saat di dalam rumah sehingga Jasmine dan adik serta kakaknya dapat berbahasa Indonesia dengan baik, bahkan sang papa yang dulunya tidak bisa sama sekali, sekarang sudah bisa.
" Siapa nama teman kamu? Apa dia asli sini juga atau sama seperti kamu?" Tanya Ray.
" Dia asli sini paman! Namun menuntut ilmu sampai ke tempat aku." Jawab Jasmine.
__ADS_1
" Siapa namanya?" Giliran Ani yang bertanya.
" Namanya Anara! Seorang dokter spesialis jantung sama seperti, Jasmine. Sayangnya dia tidak tertarik kepada laki-laki, padahal dia cantik banget. Hmm kalau sedikit saja dia tertarik pada pria, sudah aku jodohkan dengan Lian, mereka itu cocok. Sama-sama cantik dan ganteng, sukses pula."
" Cocok dong, sama Lian! Lian juga tidak tertarik sama perempuan." Sahut Ani sediki menyindir saat melihat Lian yang baru pulang.
" Mah, jangan menyindir aku tidak akan terpengaruh." Ucapannya mencium pipi Ani, kemudian berbalik untuk menyapa Jasmine." Hai Jasmine, bagaimana hari pertama kamu disini?" Tanyanya Lian sembari mendaratkan bokongnya tepat di samping Ani, mamanya.
"Menyenangkan dan mungkin aku akan betah tinggal disini." Jawabnya.
" Ya itu harus." Lian menanggapi seadanya.
" Oh iya, apa benar kamu tidak tertarik kepada wanita?" Tanya Jasmine saat teringat akan sindiran Ani barusan, Membuat Rey dan Ani terkekeh kecil.
"Ya kamu benar, karena aku sudah punya seorang wanita yang aku cintai, hingga Wanita lain terlihat tidak menarik di mataku." Jawabnya, kemudian beranjak dari tempatnya lalu meninggalkan mereka.
" Seperti apa wajah wanita itu hingga membuat Lian sampai tidak melirik wanita lain?" Tanya Jasmine ingin tahu.
"Jangankan kamu, Tante dan paman mu ini saja ingin melihatnya, sayang nya itu tidak akan pernah bisa, karena dia sudah meninggal." Ucap Ray. Membuat Jasmine melongo.
__ADS_1