
Tepat pukul 04.00 sore, Jasmine kembali menghubungi Sena untuk menanyakan janji makan malam mereka, karena wanita itu sudah kembali ke rumah tantenya sejak sejam yang lalu.
" Jasmine, ini baru jam 4 dan aku baru akan memulai pekerjaan aku! Kenapa kamu sudah menelepon." Ucap Sena ketika menjawab panggilan dari sahabatnya.
Dan Sena bisa mendengar tawa Jasmine dari seberang sana. " Maaf Sena aku hanya ingin memastikan saja kalau makanan malam kita ini nggak akan ditunda untuk alasan apapun, Aku kenal kamu loh! kamu itu mudah sekali berubah pikiran." Sahut Jasmine, membuat Sena memutar bola matanya malas.
Walaupun Jasmine tidak akan bisa melihat ekspresinya itu. " Jasmine ayolah aku sudah berjanji sama kamu dan kali ini aku tidak akan mengingkari janjiku lagi, oke." Ujar Sena, wanita itu mencoba meyakinkan sahabat-nya.
" Huuuffhhh," terdengar helaan nafas berat dari seberang sana, sebelum wanita itu kembali menyahuti ucapan Sena. " Baiklah, apa menu makan malam kita hari ini? Kamu yang merekomendasikan tempat, aku kurang tahu makanan paling enak disini dimana?"
Cukup lama, Sena terlihat berpikir! Hingga wanita itu menemukan solusi untuk mereka berdua." Begini saja! Aku sedang ingin makan sarmale, apalagi di nikmati dengan jagung dan krim asam! Aku sampai ngiler membayangkan itu." Ucap Sena sembari membayangkan makanan sejenis somay itu.
Tapi bedanya somay itu kubis-nya di rebus begitu saja sementara sarmale kubis di isi daging yang di campur nasi dan bahan lainnya.
" Baiklah malam ini kita akan makan itu saja." Putus Jasmine. " Apa kamu tau restoran yang menjual menu itu?" Lanjutnya membuat Sena mengeleng kepalanya, walaupun Jasmine tidak dapat melihat hal itu.
" Aku tidak tahu Jasmine, Tapi lebih higienis kalau kamu yang membuatnya sendiri."
" Kamu selalu tahu, caranya merepotkan sahabatmu, Anara! . " Sena pun tertawa. " Baiklah aku akan menyiapkannya untuk kita berdua awas kalau sampai kamu tidak datang."
" Iya bawel! Aku akan sampai di rumah tante-mu, begitu pekerjaan aku selesai." Sahut wanita itu. " Jas, udah dulu ya, aku udah di ruangan nih! Mau siap-siap, sampai jumpa nanti malam."Lanjutnya.
" Baiklah, semangat dr Senara Cecilia Aditama, semoga semua berjalan lancar dan pasien kamu sehat kembali." Sahut Jasmine dari seberang sana.
" Amiin, doa yang sama untuk kamu juga." Setelahnya, panggilan itu benar-benar berakhir.
Setelah selesai berbicara dengan Jasmine,. Singa pun melangkah masuk ke dalam ruangan steril itu.
Wanita itu tidak lupa untuk mensterilkan tubuhnya mulai dari mencuci tangan menutup kepala hingga tidak ada sehelai rambut pun yang terlihat kemudian menggunakan baju steril berwarna putih dilapisi lagi dengan yang berwarna hijau, tak lupa sarung tangan dan masker.
"Sudah siap?" Tanya Sena kepada dua orang asisten satu perempuan dan satu lagi laki-laki yang akan menemaninya.
" Sudah dok." Jawab yang pria.
__ADS_1
Sena pun menghampiri pasien yang kini sudah berbaring di tempat meja khusus itu.
Sena mengangguk wanita itu pun menghampiri pasiennya, "Selamat sore bapak."
" Sore dok." Balas Pasian, suaranya hampir tidak terdengar.
" Pak sebelum kita mulai kita berdoa dulu ya." Tutur Sena dengan begitu lembut hingga membuat sang pasien pun merasa nyama.
Setelah mendapatkan anggukan dari lelaki paruh bayah itu, mereka pun memberi sedikit jeda waktu untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing! Karena Sena selalu memulai pekerjaan dengan doa, itulah pesan mamanya.
Ningsih selalu berkata kepada putrinya itu sesulit apapun pekerjaan dia kalau di mulai dengan doa! Semua akan menjadi mudah dan Sena selalu melafalkan hal itu di setiap langkahnya.
Dan percaya atau tidak, semua langkah Sena mulus karena ada doa serta bimbingan wanita sehebat Ningsih.
Bukankah doa yang bisa menembus langit ketujuh adalah doa seorang ibu dan sampai saat ini Sena masih berpegang teguh dengan kepercayaan itu dan selalu menuruti apa yang di katakan mamanya.
Bagi Sena, selama ada mama Ningsih di belakangnya dia akan tetap kembali bangkit keres apapun dunia menjatuhkannya.
Setelah selesai berdoa Sena pun memulai pekerjaannya. Di mulai dari pembiusan yang di lakukan pada lengan kanan pasien, kemudian dilanjutkan dengan penusukan pada pembuluh darah arteri dengan mengunakan seldinger. Setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan alat wayar (semacam kawat gitu.).
Pemasangan wayer sendiri, bertujuan untuk memastikan pekerjaannya tetep berada dalam pembuluh darah.
Setelah pemasangan wayar dan alat-alat yang akan di masukkan ke jantung pasien, barulah kemudian dilakukan katerisasi pada jantung, yaitu dengan melihat pembuluh darah jantung tiga dimensi dengan mengunakan kateterisasi khusus, selanjutnya pemasangan balon atau ring jantung.
Selama proses pemanasan Ring jantung pasien tetap sadar, karena dia hanya di berikan pembiusan lokal yang tidak akan membuatnya tertidur.
Proses ini biasanya hanya memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit sampai satu jam. Tapi karena kasus pasien kali ini cukup kompleks dan dia harus memasang lebih dari satu ring. Sena menghabiskan waktu di rumah itu hampir tiga jam.
" Huuuffhhh." Sena bernafas lega sembari melepaskan maskernya begitu dia melangkah keluar dari ruangan itu.
Nia yang menunggunya di luar pun, membantunya melepaskan baju steril dan segala atribut yang di gunakan Sena.
" Kenapa belum pulang?" Tanya Sena.
__ADS_1
Wanita itu terkekeh, seraya menjawab. " Dokter saja belum pulang, bagaimana mana saya bisa pulang."
" Ya tinggal pulang aja! Memangnya saya tahan kaki kamu." Sahut Sena, sedikit bercanda.
Dan Nia hanya mengeleng kepalanya sembari tersenyum. " Oh iya, kebetulan kamu masih disini? Nanti kamu keruang NICU ya. Minta salinan rekam medis bayi itu taruh dan taruh di meja saya." Nia mengangguk sebagai jawaban.
Setelah itu mereka kembali ke ruangan kerjanya, kedua wanita itu berjalan melewati koridor rumah sakit sembari bercerita.
" Oh iya, aku langsung pulang. Jangan lupa rekam medis bayi itu. Letakkan saja di meja kerja aku besok aku akan melihatnya dan satu lagi hasil EKG, pasien tadi suruh Ewin untuk foto dan kirim ke aku."
" Baik dok."
" Maaf ya Nia merepotkan! Aku duluan ya! Sampai jumpa besok."
" Hati-hati dok."
" Iya." Jawab Sena tanpa menengok kebelakang.
Wanita itu sampai di rumahnya pukul setengah delapan malam. Saat itu Ningsih dan Daffa sudah selesai makan malam. Karena Sena sudah memberi tahu jika dia akan makan malam bersama Jasmine.
Sena pulang ke rumah hanya untuk membersihkan dirinya serta berganti pakaian.
" Kak mau pergi ya." Tanya Daffa saat melihat sang ibu, sudah rapih begitu keluar dari kamarnya sembari menenteng tas-nya.
" Iya sayang, kak Sena ada janji sama teman." Jawab Sena, wanita itu menghampiri Daffa yang sedang nonton bersama ibunya, kemudian mencium puncak kepala anak itu.
" Boleh Daffa ikut? Daffa ingin menjaga kak Sena, ini kan sudah malam." Ucapnya sembari menatap khawatir kakaknya.
" Sayang _"
" Boleh ya kak! Daffa janji nggak asal makan lagi, Daffa juga udah makan tadi sama mama, ini aja Daffa masih kenyang. Daffa ikut cukup ingin menjaga kak Sena aja, please boleh ya." Ucap Daffa sembari menunjukkan puppy eyes-nya sehingga membuat Sena tidak tega untuk menolak keinginannya.
Sena menatap kepada mamanya, meminta persetujuannya dan wanita paruh bayah itupun mengangguk kepala mengiyakannya.
__ADS_1