Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Bukan salahnya


__ADS_3

"Kepergian papa itu sudah takdir nak! Masalah yang terjadi dengan kamu sama Lian itu hanya penyebab saja, bukan salah Lian." Ucap Ningsih, menguatkan putrinya sekaligus ini menyudahi kebencian yang putrinya itu kepada pria yang sesungguhnya dia cintai.


"Tetap saja mah, ini salah Lian! Karena dia lari dari tanggung jawabnya waktu itu." Sena tetap kekeh menyalahkan, membuat Ningsih menggeleng kepalanya.


"Dengarkan mama." Wanita paruh baya menangkup wajah putrinya agar tetap menatap kepadanya." Andai Lian mau bertanggung jawab, papa tetap akan ninggalin kita, karena apa, karena papa terkejut mendengar apa yang terjadi dengan kamu! Dan jika ada yang ingin tetap kamu salahkan disini, kesalahan itu ada apa kalian berdua yang melewati batas, bukan hanya Lian saja." Ucap Ningsih membuat Sena terdiam karena menyadari kesalahannya.


"Yang melakukan hal itu kalian berdua bukan Lian tidak akan bisa melakukannya jika kamu tidak memberi jalan Sena, Jadi berhenti salahkan dia. Apa yang terjadi dan apa yang kamu rasakan selama ini itu akibat dari perbuatan kalian. Disini tuhan menghukum kamu dengan semua rasa sakit serta penyesalan dan disana tuhan menghukumnya dengan cara yang sama. Dan mungkin ini saatnya untuk kalian di persatu kan! Jadi berhenti menyalahkannya." Lanjutnya sementara Sena masih terdiam mencerna apa yang di ucapkan Ningsih.


"Menikahlah dengan Lian, Mungkin saat ini Daffa belum bisa menerima kenyataannya karena kalian terlalu lama meninggalkannya, tapi mama yakin suatu saat dia akan membutuhkan peran kalian sebagai mama dan papanya."


"Apa mama tidak marah dan benci sama Lian atas apa yang telah dia lakukan kepada Sena?" Tanya Sena.

__ADS_1


Bukannya menjawab wanita paruh bayah itu justru balik bertanya." Apa dengan mama marah dan membencinya bisa menghilangkan papa kamu? Apa dengan mama marah bisa mengembalikan anak mama yang cantik cantik ini serta kehormatannya. Apa dengan menghukum Lian bisa menghilangkan Daffa?" Sena menggeleng kepalanya sebagai jawaban.


"Sayang mama melakukan semua ini bukan karena mama tidak marah dan membenarkan apa yang kamu dan Lian lakukan, tapi mama melakukan semua ini hanya untuk berdamai dengan keadaan dan membuat kalian lebih bertanggung jawab untuk Daffa." Jelas Ningsih. Sementara Sena masih diam dengan pikiran yang melayang entah kemana.


\========


Dua hari setelah pertemuan mereka, Sena kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, wanita kembali setelah dua hari libur.


"Dok." Panggil suster yang bertugas menjaga papanya dokter Lian, kepada Sena yang terdiam di depan pintu ruang rawat inap itu.


" Iya." Jawab Sena, namun kakinya tidak kunjung melangkah dari tempat itu.

__ADS_1


Ceklek.


Hingga pintu itu terbuka dari dalam dan menampilkan Syita yang hendak keluar dari sana. " Eh, Dokter Sena! Ingin memeriksa papi ya, silahkan." Ucap wanita itu sembari tersenyum hangat pada Sena.


Sena pun tersenyum mengangguk. Mau tak mau diapun melangkah masuk kedalam. " Selamat pagi." Sena mencoba bersikap profesional dengan menyapa semua orang yang ada di ruangan itu, wanita itu juga tersenyum ramah.


" Pagi dok." Balas mereka yang ada di ruangan itu kompak.


Sena pun menghampiri Ray, wanita itu mulai memeriksanya dan sembari berbincang-bincang dengan lelaki paruh baya itu, yang semakin membaik.


Setelah selesai wanita itu langsung bersiap untuk keluar dari ruangan itu namun Ray memanggilnya.

__ADS_1


"Dokter Sena." Panggil lelaki paruh baya itu membuat langkah Sena tertahan.


__ADS_2