Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Sama egoisnya.


__ADS_3

"Jadi benarkan Daffa anak kalian? Jangan mencoba untuk mengelak Lian, mata Daffa itu mirip kamu, keluarga sena tidak memilik mata sepeti itu, kakak sudah lihat foto papanya Sena, paman, bibi sampai sepupunya. Daffa itu beda sendiri di tengah-tengah keluarga Sena, selain itu kakak juga bisa langsung sayang sama dia seakan kita memiliki ikatan dan satu yang membuat kakak lebih yakin, karena daffa memiliki alergi yang sama seperi kamu. Lian mau sampai kapan kamu diam." Teriak Nelly. Wanita itu sudah lama mencurigai hal ini, karena dia bukan orang yang bodoh. Tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk membuktikan semuanya! sayang waktu itu tidak pernah datang, hingga mau tak mau di harus memaksa Lian mengatakan yang sebenarnya.


" Maaf kak." Lian langsung menunduk menyesal. karena pada akhirnya apa yang dia tutupi selama ini terkuak juga.


" Maaf untuk apa Hmmm?" Tanya Nelly.


" Aku dan Sena putus karena_karena Sena hamil, Tapi aku punya alasan_"


Plak.


Lian tidak dapat meneruskan kata-katanya karena tamparan Nelly mendarat dengan mulus di pipinya. Wanita itu tidak memberikan kesempatan untuk Lian beralasan.


" Kak, Dengarkan aku dulu, Tolong kak! setelah itu kakak mau tampar, mau pukul aku sesuka hati kakak, silahkan kak aku salah dan aku berhak di hukum tapi tolong dengarkan aku, aku mohon." Lian beranjak dari tempat duduknya, bersimpuh di hadapan kakaknya menggenggam kedua tangan wanita itu berharap Nelly aku memberikannya kesempatan untuk berbicara.


"Tidak Lian kakak tidak ingin mendengar apapun lagi, cukup kamu iyakan saja perbuatan kamu itu." Sahut Nelly.


" Iya kak aku salah, Aku juga tidak mau semuanya seperti ini, aku juga tidak ingin kehilangan Sena apalagi di benci olehnya." Pria itu menangis di hadapan kakaknya, dia tidak sanggup menatap mata Nelly yang memandang kecewa dirinya.

__ADS_1


"Tapi kenyataannya kamu kehilangan dia dan di benci olehnya, Lian. Andai dulu kamu mau bertanggung jawab, Daffa tidak akan menjadi korban keegoisan kalian. Anak itu bahkan percaya bahwa wanita yang harusnya dia panggil mama adalah kakaknya dia, Dan tidak tahu bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang pengecut seperi kalian berdua. Kalian melakukannya berdasarkan nafsu dan Tanpa memikirkan apapun, Setelah itu kalian terlantarkan dia begitu saja, Demi memilih masa depan kalian dan mengorbankan kebahagiaan anak itu. Kamu dan Sena sama, kalian berdua sama egois. " Ucap Nelly wanita itu tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Lian dan dia ikut menyalakan Sena, yang meninggalkan anaknya begitu saja hanya untuk mengejar gelar dan posisinya saat ini. Tanpa dia tahu seperti apa pengorbanan Sena dan sesulit apa wanita itu harus bangun dari rasa terpuruknya.


" Di tuduh, dihina, di tinggalkan sampai harus kehilangan cinta pertamanya sang ayah, semua itu tidak gampang untuk Sena tapi Tuhan berbaik hati meletakkan malaikat tak bersayap di sisinya hingga dia bisa bangkit dari keterpurukannya. Dan sekarang Nelly dengan seenaknya menyalakan Sena, memangnya wanita itu tahu apa soal yang di rasakan oleh Sena.


"Jangan salahkan Sena kak! Semua ini salahku, Aku yang harus kakak salahkan bukan Sena." Lian tidak suka kakaknya menyalakan Sena dan menuduhnya seperti itu karena dia yakin Sena punya alasan kenapa dia membiarkan anak mereka memanggilnya kakak.


" Tidak usaha membelanya, kalian berdua itu sama saja. Kakak akan menceritakan semua ini kepada mama dan papa biar mereka tahu, seperti apa kelakuan anak kesayangan mereka ini. " Nelly kemudian mendorong tubuh Lian untuk menjauh darinya, wanita itu lalu berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkah keluar ruangan itu tanpa menghiraukan Lian yang terus memanggil-manggil namanya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Tok... tok... tok..


" Kak." panggil Daffa.


ceklek.


Sena pun membuka pintu kamarnya, " Iya sayang, Daffa butuh sesuatu?" tanya sembari menuntun Daffa untuk masuk ke kamarnya.

__ADS_1


" Temani Daffa kerjain PR ya." Pintanya. Sena pun mengangguk, mereka berdua kemudian duduk di lantai yang beralaskan karpet, Sena mengeluarkan meja belajar lipatnya untuk Daffa dan melihat anak itu mengerjakan PR-nya.


Sesekali dia akan menjawab jika Daffa bertanya pelajaran yang belum dia paham. Selesai mengerjakan tugas nya, Daffa naik keatas ranjang Sena untuk tidur siang.


Anak itu tidak pernah keluar rumah untuk bermain dengan anak tetangga atau berjalan ke taman seperi anak-anak pada umumnya, karena tetangga mereka terlalu julid dan suka nyinyir.


Walaupun begitu Ningsih tidak pernah melanggarnya keluar, Daffa nya saja yang tidak suka mendengar orang-orang menjelek-jelekkan mamanya, sehingga dia memutuskan untuk tetap berada di rumah menemani Ningsih, keluar rumah pun hanya untuk ke sekolah atau ke rumah tetangga yang rumahnya berada beberapa rumah dari rumah mereka, karena Ningsih sering menitip Daffa di sana saat Ningsih pergi-pergi, karena cuma tetangga itu yang benaran tulus.


Setelah Daffa tertidur, sena ikut berbaring di samping Daffa, memeluk tubuh putranya itu, sembari mencium puncak kepala Daffa berulang-ulang.


"Maaf ya sayang! Maafkan mama, Semoga suatu hari nanti kamu tidak membenci mama." Gumamnya di ikuti isak-kan halus. Karena Sena begitu takut di benci oleh putranya itu.


\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu aku update yuk mampir ke cerita teman aku.


__ADS_1


__ADS_2