
Selesai berurusan dengan Lian, Sena kembali keruang rawat Daffa dan di sana Daffa sudah menunggunya di sofa, anak itu juga sudah berganti pakaian dengan seragam sekolahnya kembali.
" Kak Sena, Daffa sudah siap! Kita pulang sekarang yuk." Ucap Daffa begitu melihat sena menghampirinya, Daffa sudah tidak kerasan berada di rumah sakit, Sehingga dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah mereka.
" Sabar dong, kakak belum ambil ransel kamu sama punya kakak." Ucap Sena, wanita itu kemudian mengambil tas nya dan ransel punya Daffa yang dia simpan di dalam Nakas itu, Setelah itu di kembali menghampiri Daffa. "Ayo sayang." Ucap Sena, wanita itu mengulurkan tangannya untuk Daffa, setelah itu keduanya melangkah keluar ruangan rawatnya.
Sena sudah memesan taksi untuk mereka berdua dan setibanya mereka di depan lobby rumah sakit, taksi yang di pesan Sena telah menunggu mereka.
Keduanya pun langsung masuk kedalam taksi itu dan meninggalkan pelataran rumah sakit.
Sementara itu, tak jauh dari area lobby, Lian hanya bisa menatap kepergian Sena dan Daffa dengan wajah sendunya.
Bukan karena Pria itu tidak suka putrinya sembuh, tapi dia sedih karena sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dulu. Harusnya dia tidak meninggalkan Sena dan tetep menggenggam tangan wanita itu, kemudian berjalan bersama-sama.
Toh rejeki tidak akan kemana! Tapi mau bagaimana mana lagi, semuanya sudah terjadi dan kini dia hanya bisa menikmati penyesalannya dan berharap suatu hari Tuhan melembutkan Hati Sena agar memberinya kesempatan lagi.
Karena Dunia Lian kini hanya tertuju kepada Sena dan Daffa saja, mau sehebat dan sebanyak apapun wanita yang datang padanya, dia hanya mengingat satu nama di Hatinya. Dan itu hanya Sena seorang, bahkan saat pria itu percaya jika Sena-nya sudah tidak ada di dunia ini dia lebih memilih, menutup Hatinya dari wanita manapun, ketimbang mencoba untuk berkomitmen lagi.
" Mau sampai kapan kamu bersikap bodoh seperti ini Lian?" Tanya Nelly, entah dari mana datangnya wanita itu, sehingga kini dia sudah berada di belakang Lian. " Kamu sudah mencoba untuk memperbaiki kesalahanmu, tapi lihat, yang kamu dapat hanyalah hinaan serta sikap kasarnya." Ucap Nelly lagi, wanita itu berusaha meracuni pikiran Adiknya untuk membenci Sena dia tidak tahu saja bagaimana Sena mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya, dia tidak tahu bagaimana sang adik menyakiti wanita itu tapi sudah menilai dari kaca matanya.
" Cukup kak! Kakak itu tidak tahu apapun tentang kami, jadi jangan ikut campur dalam urusan aku dengan Sena, jika kakak masih melakukan hal itu, kakak akan berurusan dengan aku." Ancam Lian Membuat Nelly mebolakan matanya tak percaya jika Lian akan mengancamnya seperti ini.
" Kamu mengancam kakak, karena wanita itu." Bentak Nelly yang tidak terima, Julian adiknya itu lebih membela Sena dari pada dirinya.
__ADS_1
" Terserah kakak mau berpikir seperti apa tentang aku! Aku nggak peduli, Yang pasti aku nggak akan tinggal diam jika kakak sampai menyentuh Sena dan Daffa." Tegas Lian sembari menunjuk wajah kakaknya, Setelah itu dia pun berbalik meninggalkan Nelly yang masih terdiam di tempatnya.
Nelly benar-benar marah dengan apa yang di lakukan Lian padanya.
Dulu mungkin Nelly bisa terima jika Lian, bersikap dingin kepadanya, tapi saat adik kesayangannya itu membentaknya bahkan sampai mengancamnya karena seorang wanita, Nelly tentu saja tidak dapat menerima hal itu dan menyalakan Sena atas apa yang di lakukan Lian padanya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam, akhirnya Sena dan Daffa tiba di rumah mereka.
Wanita itupun langsung mengantar Daffa ke kamarnya, membantunya berganti pakaian, setelah itu dia mengambil beberapa main serta buku pelajaran Daffa kemudian membawanya ke kamarnya.
Untuk sementara waktu Daffa akan tidur dengan Sena, sebab wanita itu tidak mengizinkan Daffa untuk tidur di kamarnya seorang diri seperti biasanya karena dia masih sangat mengkhawatirkan keadaan Daffa.
Begitu mendapatkan anggukan dari putranya itu, Sena langsung masuk kedalam bathroom untuk membersihkan dirinya sekaligus berganti pakaian.
Lima belas menit kemudian Sena keluar dari bathroom dan mendapati Daffa telah tertidur, Sena pun mengubah posisi tidur Daffa sehingga anak itu nyaman tidurnya.
Setelah memastikan putranya itu tidur dengan nyaman, Sena keluar kamarnya untuk membuat Menu makan siang mereka.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Sore Harinya, begitu pulang kerja Jasmine Memutuskan untuk berkunjung ke rumah Sena sekaligus menjenguk daffa dan membawa Anak itu mainan.
__ADS_1
Karena sebelum ke rumah Sena, Jasmine sempatkan mampir di sebuah mall untuk membeli mainan Daffa.
Setibanya di rumah Sena wanita itu mengetuk pintu rumah sederhana namun nyaman untuk sang empunya itu.
Tanpa menunggu lama, pintu rumah itupun terbuka " Maaf kakak cari siapa?" Tanya Daffa, sembari mendongak ke atas untuk menatap wajah Jasmine.
Wanita itu pun membungkuk untuk menyesuaikan tingginya dengan Daffa." Hai sayang! Nama kamu pasti Daffa ya?" Tebak Jasmine, Bukannya menjawab pertanyaan Daffa, Jasmine justru balik bertanya, Sembari menyerahkan mainan yang dia beli untuk anak itu. " Kak Sena-nya ada." Tanya Jasmine lagi.
Daffa kembali mengangguk kepalanya. " Iya kak Sena ! Ada di dalam, masuk aja." Jawab anak itu sembari mempersilahkan Jasmine untuk masuk, wanita itu pun masuk kedalam rumah Sena di ikuti oleh Daffa di belakangnya.
" Astaga Jasmine, kok nggak bilang-bilang sih kalau mau kesini?" Tanya Sena, wanita itu sedikit terkejut dengan kehadiran Jasmine di rumahnya.
Pasalnya Jasmine tidak bilang jika dia akan datang. " Kamu yang bawa itu?" Tanya Sena sembari menunjuk mainan yang di pegang oleh Daffa.
Jasmine mengangguk saja. " Kamu ini." Sena menggeleng kepalanya. " Sayang sudah bilang terima kasih buat kak Jasmine belum." Tanya Sena.
" Maaf." Ucapnya sedikit menunduk, Karena lupa untuk mengucapkan terima kasih. Daffa kemudian menghampiri Jasmine. " Terima kasih, ya kak." Lanjutnya.
" Sama-sama sayang." Setelah itu Daffa kembali ke tempatnya, Sementara Sena dan Jasmine kembali melanjutkan pembicaraan mereka, yang mulai melebar kemana-mana itu.
" Oh iya, kamu sama Daffa hanya berdua? kapan mama kamu kembali?" Tanya Jasmine.
Sena mengangguk kepalanya sebagai jawaban." Rencananya sih besok, tapi mama kembali menunda lagi waktu pulangnya karena bibi dan paman masih membutuhkan bantuannya mama sana." Jawab Sena, Jasmine mengangguk kepalanya paham.
__ADS_1
Sore itu keduanya begitu asyik untuk bercerita hingga lupa waktu dan Jasmine tidak sempat untuk pulang ke rumah tantenya, wanita itu pun terpaksa menghubungi tantenya, meminta izin untuk menginap di ruangan Sena dan Sena pun tidak keberatan dengan hal itu, dia Dan Daffa justru merasa senang karena mereka memiliki teman yang akan menemani mereka berdua malam ini.