
"Kamu cuma tahu berbicara, tapi kamu tidak tahu apa yang aku lalui dan rasakan, ketika adikmu menuduhku dan menolak mengakui Daffa. Kamu tidak merasakan apa berada di posisi aku sehingga dengan mudahnya kamu menuduh-ku." Ucap Sena dengan suara yang terdengar dingin.
Wanita itu kemudian menghampiri Jasmine lalu memaksa mengambil Daffa tidak peduli anak menolak dan tak sengaja menyakitinya.
Sena tetap memaksa hingga Daffa kini berpindah kepadanya. Gigitan serta pukulan-pukulan kecil Daffa mendarat di pundak Sena sebagai bentuk kemarahannya, tidak membuat Sena melepaskannya. Wanita itu justru memeluk erat tubuh putranya itu.
"Karena aku tidak sebodoh diri! Hingga dengan mudahnya menyerah diri kepada lelaki, tanpa memikirkan dampaknya." Sahut Nelly dengan begitu pedasnya.
"Ya kamu benar! Dan semoga kamu juga keluargamu tidak pernah merasakan apa yang wanita bodoh ini rasakan." Sahut Sena dengan tulus. walaupun telah dihina oleh Nelly tidak membuat Sena membalas hinaan wanita itu dengan hinaan pula, karena mama Ningsih selalu mengajarkan dirinya untuk berkata baik kepada orang lain, agar kebaikan itu kembali kepada diri nya, sekalipun orang itu telah menyakiti dan merendahkan dia.
" Terima kasih untuk undangan makan malamnya Jasmine. Aku pamit ya." Ucap Sena kepada Jasmine, lalu mengambil tasnya kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Pergilah, karena aku akan mengirim kejutan ke rumahmu." Ucap Nelly sembari tersenyum penuh arti. Sementara Sena tidak menghiraukan ucapan wanita itu sama sekali, ia melangkah keluar rumah mewah sembari mengendong Daffa yang masih saja menangis dan marah kepadanya.
Sepanjang perjalanan Sena terus memeluk Daffa. Seakan takut anak itu akan di ambil darinya. Hingga di jarak dua ratus meter dari rumah Lian, Sena mendapat taksi yang baru saja mengantar penumpangnya di kawasan rumah elit itu.
__ADS_1
Sena memasuki Daffa kedalam taksi, begitu memastikan sang supir tidak memiliki penumpang yang harus di jemput.
Barulah dia masuk kedalam taksi itu dan mengatakan alamat rumahnya. Taksi itupun melaju dengan perlahan menuju rumahnya.
Lima belas menit berlalu, taksi itu kini sudah berhenti di depan rumah Sena.
Tanpa menunggu Sena Daffa langsung membuka pintu taksi itu kemudian berlari masuk kedalam pekarangan rumah mereka.
Tok.. tok.. tok..
" Sayang ada apa ini? Kenapa kamu menangis, Sena?" Tanya Mama Ningsih saat melihat anak dan cucunya pulang dalam keadaan tak baik-baik saja. " Masuk dulu." Ucapnya kemudian mengajak anak dan cucunya untuk masuk kedalam rumah.
"Mama temani Daffa aja! Sena akan membersihkan diri terlebih dulu, Setelah itu Sena akan menceritakan semuanya."Ucap Sena, mama Ningsih pun mengangguk kemudian mengikuti Daffa ke kamarnya sementara Sena langsung masuk kedalam kamarnya.
Wanita itu melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian melangkah masuk kedalam kamar Mandi untuk mendinginkan kepalanya di bawah guyuran air shower.
__ADS_1
Sementara mama Ningsih dan Daffa sendiri tengah berbaring di atas ranjang kecil milik Daffa, mendengar cerita cucunya itu bercerita.
Daffa menceritakan semua yang dia dengar kepada Ningsih, juga ucap Nelly yang mengata-ngatai Sena. Semua terekam dengan benar dalam ingatan anak itu dan ia menyampaikan kepada mama Ningsih sesuai apa yang dia dengar.
" Ma! Apa benar kak Sena mana Daffa?" Tanya Daffa, Setelah selesai bercerita.
" Ya sayang! Apa yang di katakan mereka memang benar! Kamu anaknya kak Sena, jangan membenci dia! Karena kak Sena sangat menyayangi daffa, Kak Sena punya alasan yang kuat kenapa tidak mengatakan semuanya kepada Daffa, bila Daffa sudah besar nanti! Pasti Daffa akan mengerti." Ucap mama Ningsih, namun Daffa justru menggeleng kepalanya.
"Daffa nggak mau! Mama Daffa tetap mama Ningsih." Ucap anak itu dan Ningsih pun tidak ingin memaksanya.
Wanita paruh baya itu mengusap punggung cucunya, hingga Daffa pun tertidur, setelah itu Ningsih menyelimuti tubuh Daffa yang telah tertidur, kemudian keluar menuju kamar Sena.
Didalam kamar itu, Ningsih melihat putrinya meringkuk Seperti bayi. " Sena." Panggil Ningsih, sembari mengusap punggung putrinya.
"Daffa marah sama Sena! Daffa pasti benci banget sama Sena ma." Ningsih langsung memeluk putrinya itu.
__ADS_1
"Nggak sayang! Daffa anak yang baik dan cerdas dia pasti mengerti, hanya saja dia butuh waktu untuk menerima semuanya." Sahut Ningsih menenangkan Sena sembari mengusap punggung putrinya itu.