
Sena Hanya melihat ke arah putranya itu sambil tersenyum bahagia, melihat putranya tumbuh dengan baik, Namun Senyum di wajah Sena langsung menghilang saat melihat Lian yang duduk tak jauh dari meja mereka.
Lian tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Sena, namun wanita itu justru memandang tak suka kepadanya, kemudian membuang pandangannya ke arah lain tak ingin bersitatap lama-lama dengan Lian.
Walaupun begitu Lian tidak sedikitpun dia mengalihkan pandangannya dari sena.
Pria itu tidak ada bosan-bosannya memandang wajah wanita pujaannya. hingga membuat Sena merasa risih sendiri. " sayang jangan ke mana-mana ya, habisin saja makanan kamu kakak mau ke toilet dulu ya." Ucap Sena, Daffa pun hanya membalas dengan anggukan kepala karena saat ini mulutnya penuh dengan makanan. " Pelan-pelan saja makanya, "ucap Sena lagi.
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah meja yang di duduki Lian kemudian berhenti sesaat di depan pria itu, Sebelum melanjutkan langkahnya.
Tanpa melihat kebelakang pun Sena tahu Lian sedang mengikutinya, karena itu merupakan kebiasaan mereka, jika ingin berbicara berdua, di saat mereka sedang berkumpul bersama teman-teman sekelas mereka! keduanya cukup melakukan seperti apa yang di lakukan Sena barusan.
Sena menghentikan langkahnya, saat mereka berada di tempat yang sedikit lebih sepi dari pengunjung lain," Mau kamu itu apa sih Hmm? bisa tidak kamu itu berhenti mengikuti aku?" Tanya Sena, wanita itu tetap memunggungi Lian dengan kedua tangan yang dia lipatkan di dadanya.
" Maaf aku tidak bermaksud untuk membuat kamu tidak nyaman, Aku hanya ingin memperbaiki hubungan di antara kita berdua, Sena." Jawab Lian.
"Hubungan apa yang kamu maksud? Julian kalau kamu lupa, Aku ingatkan lagi ya, hubungan kita telah berakhir semenjak kamu memutuskan untuk mengakhirinya." ucap Sena, lalu membalikan tubuhnya menetap pada pria itu.
" Maaf Sena_"
" Cukup julian berhenti minta maaf kepadaku, karena sekalipun aku memaafkan kamu, itu tidak akan mengubah apapun diantara kita, jadi berhenti mengganggu hidupku. " Tegas Sena.
" Maaf bukan maksud aku untuk memaksa kamu! tapi untuk menjauh dari kamu Aku tidak akan bisa melakukan itu, Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu Sena tolong_ Sena." Belum juga Lian menyelesaikan ucapannya, Sena sudah lebih dulu berjalan meninggalkan pria itu begitu saja, Saat melihat kearah Daffa yang mulai gelisah ditempat duduknya.
__ADS_1
Lian menatap punggung Sena yang perlahan menjauh darinya, pandangannya berpindah kepada Sosok anak kecil itu, Daffa! ingin sekali dia menyapa Daffa , Tapi Lian cukup sadar dan tahu diri akan posisinya.
Sehingga dia hanya bisa berdoa semoga suatu hari Tuhan melembutkan hati Sena dan mamanya agar dia diberi kesempatan menyentuh atau sekedar memeluk putranya itu.
Sungguh hanya melihat dari jauh, tanpa bisa melakukan apa-apa itu menyakitkan. Andai dia bisa memutar waktu, dia tidak ingin berada di titik ini di mana dia hidup dalam penyesalan dia tidak ingin berada di posisi ini. karena ini sangat menyakitkan.
" Daffa, Daffa Kenapa bisa begini sayang." teriak sana dengan paniknya membuat, Lian tersadar dari lamunannya dan menatap kepada wanita dan anaknya itu.
Di sana Sena terlihat panik, sementara Daffa terus terbatuk-batuk sampai muntah. Lian pun langsung berlari ke arah mereka berdua.
Begitu dia semakin dekat dengan Daffa dan Sena, Lian bisa melihat dengan jelas gejala yang ditunjukkan Dafa sama persis seperti yang sering dia rasakan jika salah mengkonsumsi susu.
Dan Sena tahu itu, Dia pun segera menggendong Dafa untuk membawa putranya itu ke rumah sakit.
Selama perjalanan menuju rumah sakit sena terus menangis melihat Daffa yang begitu tersiksa bahkan ruam di kulitnya mulai terlihat, wajahnya pun mulai terlihat bengkak terutama di bagian bibir.
" Daffa," panggilnya begitu lirih dengan air mata yang tak mau berhenti menetes.
Selama ini Daffa hanya dirawat oleh mamanya, Sena tidak pernah turun tangan sekalipun untuk mengurus Daffa jadi ketika dia dihadapan pada posisi ini dia tidak bisa mengontrol emosinya, seperti sekarang ini.
" Ya Tuhan, apa mama juga se-panik ini waktu itu." batin Sena, bertanya pada diri sendiri.
" Cepat dong! kenapa lama sekali." Ucap Sena pada pria yang memberinya bantuan.
__ADS_1
" Iya-iya ini aku udah cepat Sena, tenang ya! Daffa akan baik-baik saja." Sahut pria itu, membuat Sena menatap tajam pada dirinya.
Sisa perjalanan itu Sena terus mendesak Lian untuk menambah kecepatan laju mobilnya, namun Lian tetap bersikap tenang Hingga mereka tiba di rumah sakit.
Lian segera keluar dari mobilnya, mengambil Daffa dari gendongan Sena untuk dia letakkan di atas brankar rumah sakit, tapi sebelum itu Lian memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memeluk serta mencium Daffa.
itu hanya sebentar dan begitu singkat tapi Lian bersyukur dia memiliki kesempatan itu, mengingat kerasnya pendirian seorang Sena. Lian sendiri ragu wanita itu bisa kembali ke sisinya.
Sena terlihat begitu gelisah, Wanita itu terus mondar-mandir di depan pintu ruang IGD dengan bibir yang komat-komat terus melafalkan doa untuk putranya.
Karena sehebat apapun seorang wanita, se-tegar apapun dia terlebih untuk seorang ibu. Jika sudah menyangkut dengan anak, seorang ibu tetap akan lemah dan hancur dan itulah yang dirasakan oleh Sena saat ini.
Sena mungkin tidak menyusui tidak merawat tapi wanita itu yang melahirkan Daffa, Dia mempertaruhkan nyawanya untuk anak itu. Sembilan bulan dia mengandung dengan ngidam dan morning sickness yang parah bahkan selama dua bulan dia hanya bisa minum air hangat tanpa makan dan selalu mual-muntah di pagi Hari, semua itu berhenti saat matahari di luar sana telah benar-benar terik.
Dan itu bukan proses yang muda untuk Sena jalanin, Tapi dia menjalaninya tanpa menyalakan kehadiran Daffa, tidurnya yang terganggu kerena perutnya yang besar dan harus sering ke kamar mandi di tengah malam tidak membuat pertahanan runtuh, Sena tidak mengeluh ataupun menyerah pada keadaan.
Dia bahkan ingat bagaimana sulitnya dia saat harus berkutat dengan tugas kampus mencari alat medis ini dan itu yang harus mahasiswa kedokteran milik, Sena berjalan mengumpulkan semua itu sambil membawa Daffa dalam perut tapi Sena, tetap tidak mengeluh. saat lelah datang dia beristirahat sambil mengajak Daffa dalam perutnya untuk bercerita dan mengusap perutnya sendiri, terkadang anak itu membalas rasa sayangnya dengan tendangan dari dalam sana, namun Semua berubah saat mata itu terbuka dan melihat kepada padanya.
Sena tidak membencinya, dia tidak pernah benci kepada anak itu! Dia hanya kecewa pada keadaan, Dimana dia yang berjuang selama sembilan bulan sepuluh hari seorang diri tapi begitu hasilnya keluar, tujuh puluh lima persen Punya Lian sementara dia hanya sisanya, saat itu Sena sampat berpikir tuhan sungguh tidak adil kepalanya. Tapi pada akhirnya dia sadar jika tuhan memiliki Hadiah di setiap Rasa sakit, Wajah Daffa adalah sebuah tamparan keras untuk Lian yang pernah menuduh dan menolak Daffa.
ceklek.
Pintu UGD itu kembali terbuka, Dokter yang menangani Daffa pun keluar untuk menyampaikan keadaan Daffa saat ini.
__ADS_1