Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Terima kasih Nak!


__ADS_3

"Nggak sayang! Daffa anak yang baik dan cerdas dia pasti mengerti, hanya saja dia butuh waktu untuk menerima semuanya." Sahut Ningsih menenangkan Sena sembari mengusap punggung putrinya itu.


"Bagaimana kalau Daffa jadi benci sama Sena, selamanya mah! Sena takut." Wanita itu memeluk tubuh Ningsih dengan begitu eratnya, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan wanita hebat itu.


" Itu tidak akan terjadi sayang, dia tidak mungkin membenci mamanya sendiri, percaya sama mama." Ningsih terus saja menyakinkan putri nya. " Sekarang kamu istirahat ya! Besok kamu harus berkerja." Sena hanya mengangguk saja, lalu memejamkan matanya.


Ningsih pun tidak melepaskan pelukan putrinya, ia terus mengusap punggung Sena hingga wanita itu terlelap, walaupun masih terdengar isak-kan kecil dari bibirnya.


Sejak sang ayah masih ada, Sena termasuk anak yang sangat manja kepada kedua orang tuanya, maklum saja Sena adalah anak satu-satunya. Tapi apa yang terjadi kepadanya waktu itu mengubah dia menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, hanya saja untuk Daffa, Sena masih jauh dari tanggung jawab itu, walaupun sebisa mungkin ia selalu membagi kebutuhannya dengan Daffa.


Setelah memastikan Sena telah tertidur pulas, Ningsih pun melepaskan pelukan Sena, wanita paruh baya itu kemudian menyelimuti tubuh sang putri sebelum meninggalkannya.


\=\=\=\=\=\=\=


Tepat pukul setengah dua malam, Sena kembali terbangun karena dering panjang dari ponselnya yang masih berada di dalam tasnya.


Sena menggerjap matanya beberapa kali, sebelum ia beranjak untuk duduk lalu turun dari ranjang itu, mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja riasnya.


Belum sempat Sena menjawab, panggilan itu telah berakhir! Namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering.


Sena melihat nama Jasmine tertera disana! Wanita itu ingin Menolaknya, tapi hatinya justru tergerak untuk menjawab panggilan dari Jasmine. " Halo." Ucap Sena dengan suara yang cukup serak dan terdengar samar-samar, karena terlalu lama menangis.

__ADS_1


" Sena kamu bisa ke rumah sakit sekarang! Paman aku anfal." Ucap Jasmine dari seberang sana membuat Sena terdiam sembari memejamkan matanya.


Haruskah dia membiarkan hal ini, agar Lian juga merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu. " Aku akan segera ke sana." Namun sumpahnya untuk meletakkan keselamatan Pasien di atas segala-galanya membuat wanita itu membuang jauh-jauh pikiran negatif itu.


" Terima kasih Sena." Ujar Jasmine dari seberang sana.


" Hmmm." Sahut Sena lalu mengakhiri panggilan itu.


Sena kembali menyimpan ponselnya kedalam tas. Ia kemudian bergegas Menganti piyama tidurnya dengan dress, lalu menguncir rambutnya dengan asal, Setelah itu dia mengambil kunci motor juga tasnya dan beranjak keluar dari kamarnya, menuju kamar sang mama.


Tok... Tok... Tok..


Sena mengetuk pintu kamar mama Ningsih. Tak lama pintu kamar itu terbuka. " Sena_"


Ningsih pun hanya bisa mengangguk kepalanya karena dia mengerti profesi putrinya itu," hati-hati ya nak! Kamu jangan menggabungkan masalah pekerjaan dan masalah pribadimu. posisi kamu disini adalah seorang dokter, ingat tanggung jawab kamu itu." Pesan Ningsih kepada Sena.


Sena pun hanya tersenyum, seraya mengangguk kepalanya.


Sena pun berjalan keluar rumahnya di ikuti sang mama di belakangnya.


" Hati-hati ya nak." Ningsih kembali mengingatkan putrinya itu.

__ADS_1


" Iya mah." jawab sena sembari mengstarter motornya. " Sena pergi ya mah." Pamitnya.


Wanita paruh baya itu mengangguk dan Sena pun meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Tak sampai setengah jam, Sena sudah berada di rumah sakit, wanita itu membawa motornya dengan kecepatan tinggi, juga keadaan jalan yang lengang karena tidak banyak pengguna jalan.


setibanya di depan ruang gawat darurat itu Sena langsung masuk tanpa melihat kearah Lian dan kakak-kakaknya.


Wanita itu melakukan usaha terbaiknya untuk membuat keadaan Ray kembali stabil.


Sena baru keluar dari ruangan itu ketika waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, bersamaan dengan Ray yang di pindahkan ke ruangan rawat inapnya.


Sena menghampiri Mamanya Lian kemudian menyampaikan kondisi terkini suaminya juga berpesan agar semua anggota keluarga itu menjaga emosi Ray, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi.


" Terima kasih Nak!" Ucap Ani.


" Anda tidak perlu berterima kasih, saya hanya melakukan kewajiban saya." Ucap Sena. wanita itu kemudian berlalu dari hadapan mereka tanpa ingin berbasa-basi lebih lama, sebab ia begitu lelah tidak hanya fisiknya saja.


Namun Nelly justru menyalah artikan sikap Sena, wanita itu tetap menganggap Sena sombong dan besar kepala hanya karena dia telah menyelamatkan ayah.

__ADS_1


Berbeda dengan sang adik yang semakin kagum kepada wanita yang masih menguasai relung hatinya sampai saat ini.


__ADS_2