Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Kapan kamu pulang?


__ADS_3

Setelah Hari itu, Lian melanjutkan kuliahnya di Aussie. Begitu kuliah S1-nya selesai, pria itu tidak langsung kembali.


Dia memilih melanjutkan kuliah satu jenjang lagi di Harvard university dan kini sudah saatnya dia kembali untuk mengantikan posisi sang ayah, karena ketiga kakaknya sudah memiliki kesibukan masing-masing apalagi mereka sudah menikah dan memiliki anak, Sedangkan sang ayah sudah mulai sakit-sakitan dan harus segera beristirahat.


Dan selama dia kuliah di luar sang kakak, Nelly selalu mengirimkan kabar terbaru Ningsih kepada Lian.


Tentu saja semua itu dia dapat dari anak buahnya, karena jika dia sendiri yang berkunjung langsung ke sana, Ningsih akan langsung menutup pintu rumahnya begitu menyadari itu Nelly yang datang.


Tidak hanya Nelly, bahkan Ani mamanya Lian pun mencoba menjalin kedekatan dengan Ningsih tanpa memberi tahu identitas sebenarnya.


Kedekatan itu terjalin, karena Ani yang pura-pura membutuhkan pertolongan dan Ningsih yang menolong nya, Hingga Ani merasa berhutang budi kepada Ningsih. Dan semua itu berjalan sesuai yang Ani inginkan.


Wanita paruh bayah itu, awalnya melakukan semua itu agar sang putra di sana tenang juga fokus untuk menyelesaikan kuliah.


Tapi kebaikan Ningsih membuat Ani sangat menyukai wanita itu dengan terus mengajaknya bertemu, Hingga baik Ningsih maupun Ani, lambat-laun mulai dekat satu sama lain.


Namun sedekat apapun mereka, Ningsih tidak pernah menceritakan apapun kepada Ani, tentang Sena putrinya. Padahal mereka sering kali membuat janji bertemu di luar Sama seperti Hari ini.


Kedua wanita paruh bayah itu, duduk dengan saling berhadapan. Bercerita sembari menikmati pesanan makanan juga minum mereka. Disini Ningsih hanya datang seorang diri karena sang cucu sedang sekolah.

__ADS_1


Bahkan jika Daffa tidak sekolah pun, Ningsih tetap akan meninggalkannya di rumah, karena ada pembantu yang di tugaskan, oleh adik iparnya untuk bekerja di rumah Ningsih, pria paruh bayah itu juga yang membayar gaji pembantu.


Bukan karena Ningsih malu dengan kehadiran cucunya, tapi Wanita itu tidak ingin banyak orang yang mengetahui tentang Daffa, dia mungkin bisa saja tenang jika mengklaim Daffa sebagai cucunya, tapi kondisi saat ini berbeda, dia harus mengatakan Daffa adalah putranya sedang perbedaan wajah mereka terlihat jelas dan sangat jauh.


"Habis dari sini, Jeng Ningsih mau kemana?" Tanya Ani sembari melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Membuat Ningsih tersadar dari lamunannya dan ikut melihat kearah jamnya juga.


Tidak terasa sudah hampir satu jam lebih mereka duduk di sana," Aku akan langsung ke sekolah putraku mbak dan menunggu dia pulang, di sana." Jawab Ningsih.


" Oh iya! Jeng Ningsih memiliki seorang putra yang masih kecil, Astaga aku sampai melupakan hal itu. " Ningsih pun hanya menanggapinya dengan senyum sembari mengangguk kepalanya, membenarkan untuk wanita di hadapannya itu. " Maafkan Aku ya Jeng, faktor umur membuat aku mulai sering lupa." Lanjutnya lagi sedikit bergurau.


" Mbak Ani bisa aja bercandanya," Sela Ningsih, " Oh iya mbak, mbak ajak aku kesini buat apa ya?" Tanya Ningsih, wanita itu ingin segera mengakhiri pertemuannya dengan Ani dan pergi ke sekolah Daffa.


" Astaga, aku bilang juga apa? Aku ini sudah mulai tua dan pelupa." Ucapnya terdengar berlebihan lagi. "Oh Iya itu, Aku ajak kamu kesini karena aku mau ngundang kamu, ke acara syukuran. Malam nanti putraku akan pulang dan rencananya besok kita akan mengadakan pesta menyambut kepulangannya, aku harap kamu dan putramu bisa datang, juga bergabung bersama kami." Lanjutnya penuh Harap.


Ningsih pun tersenyum masam, seraya menggeleng kepalanya." Sebelumnya aku berterima kasih sekali kepada mbak , karena mbak Ani sudah mau mengundang aku. Tapi sayang sekali aku nggak bisa datang. Karena besok pagi aku dan Daffa, akan berangkat ke Riau. Keponakan aku akan menikah besok lusa dan kami sudah di haruskan untuk berada di sana besok pagi." Ucap Ningsih apa adanya.


Sebab besok Lusa Della akan menikah dengan pria pilihannya. Entah kapan giliran Sena. Wanita paruh itu mendengus, Nafasnya terdengar beras saat mengingat putrinya.


Wanita itu kini berada Di Romania, Jarak yang sangat Jauh sekali dan belum ada sekalipun dia pulang ke rumah semenjak pergi Ke Riau waktu itu. Daffa saja mulai merengek ingin bertemu namun, Sena terlalu keras pada pendiriannya. Bahkan di pernikahan Della sepupunya pun, Dia hanya mengirimkan Hadiah serta ucapan maaf karena tidak bisa datang.

__ADS_1


Memikirkan ini semua membuat kesehatan Ningsih sering menurun. Karena sekali pun ada Daffa yang menghibur serta menemani hari-harinya. Semua itu tidak akan sama dengan Sena. Putrinya.


" Sayang sekali, tapi kuharap di lain kesempatan kamu tidak akan menolak ajakan ku." Ningsih pun hanya tersenyum seraya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


Setelah itu mereka berbincang-bincang sejenak, sebelum mereka memutuskan untuk berpisah.


Seperti ucapannya, Ningsih langsung menuju ke sekolah Daffa untuk menjemput cucunya sementara Ani pulang ke rumahnya.


Wanita itu ingin menyenangkan putranya dengan menghadirkan Ningsih Namun, sayang sekali, Ningsih sedang ada acara keluarga di Riau.


Setibanya di sekolah! Ningsih duduk di kursi taman yang di sediakan pihak sekolah untuk orang tua yang ingin menunggu anaknya.


Ningsih duduk sendiri, kemudian menghubungi putrinya yang jauh di sana. Wanita itu begitu selesai dengan Koas dan internship satu tahun, dia langsung mengambil Spesialis selama Empat tahun. Hingga ia bisa menyandang gelar Sp. A(K) pada namanya. Bukan kah itu merupakan sebuah kebanggaan dia bisa meraih semua itu.


" Kapan kamu ingin kembali sayang?" Selalu pertanyaan itu yang di tanyakan Ningsih kepada putrinya di seberang sana.


" Ma! Ayolah, jangan seperti ini. Harusnya mama senang dong karena Sena bisa sampai di posisi ini." Jawab Sena dari seberang sana.


" Kalau mama boleh memilih lagi, mama lebih suka kamu berada disini. "Jawab Ningsih, wanita paruh baya itu mulai kesal. Karena Sena tidak kunjung kembali ke rumah.

__ADS_1


" Gini aja tahun depan ! Sena janji Sena akan pulang." Bujuknya berharap sang mama mau berhenti merengek memintanya pulang.


__ADS_2