
Saat Jam makan siang, Nelly menemui sang adik, Lian di perusahaan keluarga mereka, sekaligus ingin mengajaknya makan siang dan berbicara tentang Daffa.
Karena semakin dilihat, anak itu seakan memiliki sesuatu yang membuat Nelly tidak dapat berpaling darinya. Kalau cuma karena kakaknya wanita yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup adiknya sampai detik ini, apa mungkin sampai di adiknya bisa mempengaruhi hidup mereka.
Padahal sudah jelas, Nelly tidak tahu alasan apa yang mendasari hal itu. Jika karena rasa bersalah! Tapi rasa bersalah untuk apa? Sungguh semua pertanyaan-pertanyaan itu membuat Nelly pusing sendiri dan bukannya sudah saatnya Lian menceritakan tentang wanita bernama Sena itu.
" Selama siang, apa kamu sibuk?" Ucap Nelly, wanita itu melangkah masuk keruangan Lian tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, kemudian duduk di hadapan pria yang sedang fokus menatap layar laptopnya. Dengan tangan kanan mengerakkan mouse dan tangan kiri mengusap-usap pelipisnya mengunakan telunjuknya.
Pria itu melirik sekilas kepada Nelly, kemudian kembali fokus pada layar yang menampilkan grafik juga angka dan segala *****-bengek yang mampu membuat orang tak mengerti hal itu sakit kepala.
" Ada apa kak?" Tanya Lian, Tanpa menjawab sapaan Nelly maupun pertanyaannya, bahkan dia tidak melihat kearah Nelly saat berbicara, karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
" Sudah waktunya jam makan dan kakak ingin mengajak kamu makan siang sekaligus menjemput Abel di sekolahnya." Jawab Nelly, sembari menelisik ruangan yang pernah di tempati sang ayah dulu.
" Maaf kak! Aku sibuk, lain waktu ya kak." Sahut Lian, menolak ajakan sang kakak, tanpa menghentikan pekerjaannya.
Membuat Nelly, mende-sah pendek. Karena Lian selalu seperti ini. Dingin, malas bicara, kalau pun dia bicara, hanya seperlunya saja. Dan Nelly tidak suka hal itu, tapi dia tidak dapat melakukan apa-apa. Karena beginilah adanya seorang Lian.
"Daffa, adiknya Sena juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Abel." Ucap Nelly lagi, berharap hal itu dapat membuat Lian tertarik untuk ikut dengannya.
Dan sesuai harapan, pria itu langsung menghentikan pekerjaannya! Kemudian menatap penuh tanya kepada Nelly.
__ADS_1
" Sena memiliki Adik namanya Daffa, kalau tidak salah usianya sekitar 9 atau 10 tahun." Jelas Nelly lagi, seakan tahu apa yang ingin di dengar oleh Lian.
" Itu tidak mungkin." Sangkal Lian, sembari menggeleng kepalanya.
Dulu saat Nelly mengatakan hal ini, Lian tidak banyak merespon karena saat itu di belum sepenuhnya sembuh. Ingatannya pun masih samar-samar. Tapi sekarang Lian dapat mengingat semuanya dengan mendetail tanpa terlewatkan sedikitpun.
" Apanya yang tidak mungkin Lian? kenyataannya memang seperti itu." Tanya Nelly.
" Papanya Sena meninggal dua bulan sebelum kelulusan kita! Dan Sena pernah bilang jika mamanya itu punya sedikit masalah dengan kandungannya, sehingga sangat sulit untuk hamil, Sena saja mereka harus berusaha bertahun-tahun untuk mendapatkannya jadi tidak mungkin_"
" Apa yang tidak mungkin di dunia ini Lian, Jika tuhan sudah berkehendak! Hal yang mustahil untuk kita manusia biasa ini akan terjadi dengan mudahnya." Sahut Nelly memotong ucapan Lian.
" Kenapa kamu begitu yakin? Apa kamu punya alasan untuk ini." Tanya Nelly, wanita itu semakin curiga kepada adiknya, tapi tidak terang-terangan menunjukkan hal itu.
Sementara Lian yang tidak ingin membuka lagi kenangannya dengan Sena, menggeleng kepalanya. Pria itu kembali fokus dengan pekerjaannya dan tak mempedulikan sang kakak yang terus menatapnya penuh arti.
"Kamu mau tidak temani kakak makan siang?" Tanya Nelly lagi.
Namun Lian tetap pada pendiriannya, tidak mau. " Yakin nggak mau lihat adiknya Sena, memangnya kamu tidak penasaran seperti apa wajahnya." Nelly terus saja mendesak sampai membawa Daffa, hingga akhirnya pria itu menurut.
Tapi semuanya tidak sepenuhnya karena desakan Nelly, Lian sendiri pun penasaran seperti apa sosok Daffa, sehingga hatinya tergerak untuk melihat anak yang di bilang adik dari mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Satu jam berlalu, kini! Nelly dan Lian telah sampai di sekolah Abel, anaknya Nelly. Siswa-siswa sekolah itupun telah berhamburan keluar, begitu pun dengan Abel dan Daffa. Bedanya Abel langsung menghampiri Nelly saat melihat keberadaan ibunya. Sementara Daffa memilih duduk di depan pos security menunggu Sena.
Dari tempat mereka berdiri, Nelly maupun Lian dapat melihat Daffa. " Dia yang namanya Daffa, adiknya Sena." Ucap Nelly sembari menunjuk kearah Daffa.
Melihat kearah yang di tunjuk Nelly, tubuh Lian langsung membeku di tempatnya dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya. " Anak itu_ Jadi dia benar," Gumam dalam hatinya.
Tanpa sadar, kakinya melangkah dengan sendirinya mendekati Daffa, namun sebelum dia benar-benar sampai. Ningsih sudah lebih dulu memanggil cucunya itu dari dalam taksi yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah Daffa tidak jauh dari tempat duduk cucunya itu.
Daffa pun langsung menghampiri Ningsih masuk kedalam taksi, kemudian pergi dari sana sebelum Lian sempat menggapainya.
" Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya Nelly yang kini sudah berada di belakang Lian sembari menatap taksi yang telah menjauh membawa Daffa pergi.
" Tidak ada, aku harus kembali ke kantor." Tanpa menunggu jawaban Nelly, Lian pun pergi meninggalkan sang kakak begitu saja.
Sementara itu di tempat lain, tepat di dalam sebuah taksi, Daffa sedang bertanya kepada Ningsih kenapa dia yang datang menjemput, bukan Sena. Karena kakaknya itu berjanji akan menjemputnya pagi tadi.
" Kakak kamu masih kerja sayang! Nggak papa-kan, kalau mama yang jemput! Kakak janji kalau Daffa menurut kakak akan memberikan Daffa hadiah. " Ucap Ningsih membujuk cucunya.
Sedangkan Daffa hanya bisa mengangguk lemah, karena dia begitu berharap Sena lah yang menjemputnya tadi.
__ADS_1