
" Aku telah menghamili Sena?"
Ningsih tersenyum sembari menggeleng kepalanya, lalu wanita paruh bayah itu bertanya . " Kamu yakin dengan pengakuan mu ini?" Lian dengan yakin dan tekad yang bulat, mengiyakan dengan anggukan kepalanya. " Apa orang tuamu mengetahui apa yang kamu lakukan?" Tanya Ningsih lagi.
Lian pun semakin tertunduk, ragu namun pada akhirnya dia menggeleng!" Lalu tanggung jawab seperti apa yang ini kamu berikan? Jika dulu saja kau sangkal perbuatan kamu dan menghina putriku," Ningsih mencoba untuk bersikap elegan dan tenang.
Namun kekecewaan serta sakit hati yang dia rasakan selama ini, membuat wanita itu tidak sadar menunjukkan hal itu.
" Aku minta maaf Tante! Aku sungguh menyesalinya. Tolong maafkan aku. " Seolah tak ada lelahnya Lian terus meminta maaf kepada Ningsih.
" Jangan minta maaf lagi." Tegur. Ningsih membuat pria itu terdiam." Jawab saja aku, apa kamu sungguh-sungguh mencintai Sena?"
Lian dengan cepat mengangguk kepalanya, sembari mendongak menatap wanita paruh baya di hadapannya itu.
" Aku sangat mencintainya Tante! Bahkan sampai detik ini, aku masih mencintai sena! Dia satu-satunya wanita yang ada di hati dan hidup, aku bersumpah tak ada yang lain." Sahut Lian.
Namun Ningsih justru menanggapinya dengan kekehan. Wanita paruh baya itu tentu saja tidak percaya dengan apa yang di katakan Lian.
Karena Sena tidak pernah menutup apapun darinya, termasuk penolakan pria di hadapannya itu.
__ADS_1
" Kamu mengatakan cinta? Tapi kamu menyangkal perbuatan kamu dan yang lebih menyakitkan kamu menunduh-nya melakukan hal itu dengan pria lain, hingga memutuskannya tanpa kamu berpikir bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya. Apa karena dia mudah membukakan ke kakinya untuk kamu! Sehingga kamu dengan mudah pula menganggapnya sebagai wanita murahan. Lian, kamu harus tahu. Sena mungkin tidak berasal dari keluarga kaya seperti kalian. Tapi kami memiliki moral dan norma yang di junjung tinggi. Dalam keluarga miskin ini tidak ada yang sampai menjual dirinya kepada pria-pria di luar sana. Tetapi apa yang terjadi pada kamu dengan Sena tidak sepenuhnya salah dia. Karena aku sebagai seorang mama pun gagal mengawasi putriku dengan baik. Sekarang coba Jawab aku lagi, apa kamu akan terima jika saudari perempuan di katakan murahan oleh pasangan mereka dan di tuduh Seperti itu. " Tanya Ningsih.
Lian di buat diam, pria itu tidak menjawab, bibirnya bahkan terasa keluh namun kedua tangannya terkepal dengan rahang yang mengeras. Tanpa Lian bicara pun Ningsih tahu jawabannya.
" Sena mungkin tidak akan hancur se-hancur-hancur nya. Jika alasannya kamu belum siap? Karena masa depan yang harus kamu raih. Tapi tuduhan kamu itu mengubah segalanya. Membuat dia percaya tidak ada laki-laki lain yang akan menerimanya dengan tulus seperti ayah dan pamannya. Sena terlanjur menyakini, jika suatu saat nanti mereka akan menunduh-nya sama seperti kamu. Saat tahu dia pernah hamil." Ningsih terus berbicara panjang kali lebar, mengeluarkan unek-unek yang pernah di katakan Sena padanya. " Aku sudah terlalu banyak bicara hari ini. Sebaiknya kamu pulang, buatlah pengakuan itu di depan orang tua kamu, datanglah bersama mereka jika kamu ingin sungguh-sungguh bertanggung jawab dengan perbuatan kamu bukan sekedar omong kosong belaka.
" Baik Tante! Saya anak membawa orang tua saya sesuai keinginan Tante. " Sahut Lian dengan yakin.
Ningsih pun tak banyak berkata lagi, wanita itu beranjak dari duduknya, berjalan ke arah pintu kemudian mempersilahkan Lian untuk pergi.
Lian menuruti, baginya untuk saat ini, sampai di sini, karena esoknya dia akan datang lagi, dia akan terus datang hingga Dia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Daffa.
Ningsih ingin semuanya berjalan dengan sebagaimana mestinya tanpa membuat cucunya terluka, walaupun hal itu akan sangat sulit, karena sejak awal Daffa adalah korban keegoisan Lian dan Sena.
" Jangan pernah datang lagi, jika kamu hanya seorang diri." Pesan Ningsih, seolah tahu apa yang di pikirkan Lian Dan Lian pun dengan pasrah mengangguk mengiyakan permintaan Ningsih.
Lian pun kemudian masuk kedalam mobilnya, yang terparkir di depan rumah Sena lalu pergi dari sana! Sebelum mendapat jawaban tentang Daffa.
Namun dia sudah bertekad untuk mengatakan hal ini kepada orang tuanya, dia juga ingin mengeluarkan beban yang selama ini dia bahwa.
__ADS_1
walaupun Lian sudah bisa menebak, kemarahan seperti apa yang akan dia dapatkan dari mama dan ketiga kakak perempuannya. Lian sudah siap untuk semua itu, asalkan dia bisa mendapatkan penjelasan soal Daffa.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Saat waktu istirahat, Lian langsung pergi ke sekolah Daffa. Dia ingin melihat anak itu lagi.
Dari jauh Lian dapat melihat, Daffa duduk di tempat yang sama seperti kemarin, menunggu di jemput.
Lian pun segera keluar dari mobilnya! Untuk menghampiri Daffa. Namun sama seperti kemarin hari ini pun dia terlambat, karena motor Sena sudah lebih dulu berhenti di depan gerbang sekolah, memanggilnya.
Daffa dengan girang menghampiri Sena kemudian naik di atas motor kakaknya, setelah itu mereka pergi dari sana.
Lian tidak dapat melihat wajah wanita yang menjemput Daffa, karena posisi wanita itu menungguinya juga menggunakan helm.
" Siapa wanita itu? Kenapa jantungku menggila seperti ini." Gumam Lian pelan sembari menahan dadanya. " Mungkin kah_ Tapi." Hatinya menjerit mengatakan wanita itu adalah wanitanya, namun akal sehat menolak hal itu.
" Lian ngapain kamu di sini."Tanya Nelly saat melihat Lian di depan sekolah putrinya.
" Aku_aku ada urusan kak, aku pergi dulu." Lian pun berlalu dari sana dengan perasaan gugup sementara Nelly hanya menatap bingung adiknya itu.
__ADS_1