
Sena tidak tahu apa yang di inginkan Nelly sampai nekat melakukan semua ini dan dia tidak pernah merasa melakukan kesalahan apapun kepada Nelly tapi kenapa Nelly begitu membencinya.
Sena kembali meluapkan perasaannya dengan menangis dalam kamarnya, dia belum mengatakan semua hal ini kepada Ningsih, mamanya.
Sebab mamanya dan daffa tidak ada di rumah saat dia pulang tadi. Sena kembali melihat amplop di yang dia letakkan di atas meja itu.
"Ya tuhan apa yang harus aku lakukan, kenapa hukuman ini seakan tidak berujung." Ucap Sena sembari menatap pantulan wajahnya pada cermin meja riasnya didepannya.
Kesalahan berkedok kenikmatan yang pernah dia dan Lian lakukan seakan terus membelenggunya dalam perasaan bersalah yang tidak berujung bahkan masalah dari perbuatan mereka terus bermunculan.
Sena meletakkan kedua tangannya di atas meja, kemudian menenggelamkan wajahnya di sana dan kembali menangis menyesali perbuatannya dulu hingga tubuhnya benar-benar lelah, lalu ia pun tertidur dengan posisi itu tanpa sempat untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Ningsih yang baru pulang bersama Daffa langsung menuju kamar Sena setelah menyuruh daffa masuk ke kamarnya dan berganti pakaian.
Ceklek.
__ADS_1
Ningsih membuka pintu kamar Sena. Wanita paruh bayah itu langsung menggeleng kepalanya saat melihat putrinya itu tertidur dalam keadaan duduk seperti itu.
Ia melangkah mendekati Sena lalu membangunkannya." Sayang, bangun kenapa tidur disini nak." Ucap mama Ningsih, sembari menepuk lengan Sena hingga wanita itu terbangun dari tidurnya." Sayang, ada apa" tanya Ningsih begitu melihat wajah sembab Sena.
Sena tidak menjawab pertanyaan mamanya, dia justru melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ningsih, menenggelamkan wajahnya pada perut wanita paruh baya itu dan kembali menangis.
Dia menceritakan surat yang baru saja dia terima dengan berurai Air mata hingga membuat Ningsih ikut meneteskan air matanya sembari mengusap kepala Sena.
" Sayang, kamu nggak boleh menangis seperti ini? Kamu harus kuat. Kalau saran mama coba kamu temui kakaknya Lian dan bicara dengannya dari hati ke hati, kalian berdua sama-sama perempuan dan seorang ibu pasti bisa saling mengerti." Wanita paruh bayah itu masih mencoba berpikir positif dengan berharap masalah ini bisa di selesaikan dengan baik-baik.
Biarlah di luar orang mengetahui Daffa adalah putranya, bagi Ningsih itu yang terbaik agar tidak ada yang menghina, dia cukup tahu lingkungan tempat tinggal mereka seperti apa.
" Itu tidak mungkin mama! Kakaknya Lian begitu membenci Sena, tanpa Sena tahu salah Sena tuh dimana." Sahut Sena dengan yakinnya, mengingat sikap menyebalkan wanita itu setiap kali bertemu dengannya akhir-akhir ini.
" Sena dengarkan mama." Wanita itu menarik tubuh Sena sedikit kebelakang lalu menangkup wajahnya keatas hingga ia dapat melihat dengan jelas wajah putrinya itu. "Lakukan sesuatu untuk putramu, jangan sampai orang-orang tahu status dia sebagai anak di luar pernikahan, walaupun kenyataannya memang seperti itu." Lanjutnya.
" Sena harus melakukan apa, ma!" Tanya Sena yang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan kegilaan Nelly.
__ADS_1
"Bujuk mereka agar tidak melanjutkan semua ini, walaupun kita benar dan berhak atas Daffa tapi, mereka punya kekuasaan dan uang. Mama tidak mau kehilangan Daffa. Mama juga yakin daffa juga tidak akan bisa menerima hal ini, pikirkan Daffa sayang." Ucap Ningsih, walaupun ragu Sena pun mengangguk kepalanya mengikuti saran mamanya, dia akan mencoba berbicara dengan Nelly, walaupun dia yakin hal ini akan sia-sia tapi tidak ada salahnya dia mencoba.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan paginya, Sena sarapan bersama anak dan mamanya. Selama sarapan Daffa terus melirik kepada Sena, namun anak itu tidak mengatakan apapun.
Mungkin karena dia terlalu gengsi untuk memulainya padahal Dia begitu merindukan Sena.
" Ada apa sayang Daffa butuh sesuatu?" Tanya Sena. Namun Daffa justru menunduk tanpa menjawab pertanyaan Sena. " Baiklah, kak Sena minta maaf sudah membuat Daffa berada di situasi rumit ini. Sekarang daffa katakan apa yang Daffa inginkan." Ucap Sena lagi.
Anak itupun akhirnya menatap kepada Sena lalu bertanya. " Apa benar kak Sena mamanya daffa, lalu siapa papanya Daffa?"
Sena langsung tersedak mendengar pertanyaan putranya itu. Dia tidak percaya Daffa akan bertanya seperti itu.
"Daffa Nanti kak Sena akan menceritakan semuanya sama kamu, kamu habiskan dulu makananmu ya sayang." Sela Ningsih sembari memberi gelas air miliknya kepada Sena dan wanita itu langsung meneguknya sampai habis.
Belum selesai dengan masalah satu datang lagi masalah baru. Rasanya Sena Ingin menjerit sekeras-kerasnya untuk situasinya saat ini.
__ADS_1