Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Apa kakak yakin?


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Della dan kekasihnya, Ningsih pun sudah pulang dari rumah sakit kemarin sehingga wanita itu bisa turut serta dalam hari bahagia keponakannya.


Ningsih juga terlihat jauh lebih segar dari hari di mana dia datang waktu itu. Hanya saja, wajahnya terlihat sedikit murung, pasalnya sudah dua hari ini dia tidak mendengar kabar Sena.


Bukan karena Sena yang tidak bisa di hubungi atau wanita itu yang sengaja tidak ingin menghubungi mereka. Tapi Della lah yang menutup akses untuk Sena bisa menghubungi mereka.


Dan semua itu berkat dukungan orang tuanya, walaupun Ningsih tidak ingin tapi pada akhirnya dia menurut saja. Daffa pun sampai menangis karena dia tidak bisa mendengar suara ibunya. Namun Della menjanjikan satu hal kepada bocah itu. " Kamu ingin bertemu kak Sena kan?" Tanya Della tentu saja Daffa mengangguk. " Ikuti permintaan kak Della dan kak Sena akan mendatangi kita." Ucap Della lagi.


Namun Daffa tidak begitu saja percaya dengan ucapan Della, bocah laki-laki itu justru menatap curiga kepada Della, membuat wanita itu salah tingkah sendiri.


"Daffa jangan menatap kak Della Seperti itu." Tegur Della yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Daffa.


" Bagaimana caranya, kak Della bohong-kan?" Tanya Daffa pada akhirnya setelah diam untuk sesaat.


" Nggak kok! Kak Della nggak bohong, kalau Daffa pengen tahu caranya, cukup ikuti kakak dan kak Sena akan datang, gampang kan." Jawab Della.


Sayangnya anak itu adalah Daffa, tidak akan mudah membuatnya menurut. Sifat keras kepala dan pintar yang di turunkan orang tuanya, membuat dia tidak mudah untuk mengiyakan ucapan Della. Ada saja pertanyaan yang harus Della jawab.

__ADS_1


Misalnya! apa kakak yakin? Bagaimana kalau sampai kak Sena tidak datang? Berapa lama kita harus begini, lalu bagaimana caranya kita tahu kalau kak Sena akan pulang! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kak Sena bagaimana dan masih banyak pertanyaan lainnya.


Percayalah berbicara dengan Daffa yang belum genap sepuluh tahu jauh lebih mengerikan dari pada di interogasi oleh polisi.


Andai Ningsih tidak membuka suara untuk meminta keponakannya itu menurut, sudah dapat Della pastikan, pembicaraan itu tidak akan pernah berakhir.


" Tante, jangan murung gitu dong! Inikan hari bahagia Della. Della janji deh, besok kita akan menelpon kak Sena." Ucap Della, kepada Ningsih, saat wanita itu menjemputnya di kamar bersama Wiranti, karena mempelai pria dan penghulu sudah siap tinggal menunggu Della, untuk memulai janji suci mereka.


Ningsih yang tidak ingin mengecewakan keponakannya pun, hanya mengangguk pasrah, sembari menarik kedua sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman. Seperti yang di ingin kan Della.


Setelah itu mereka, menuju ruang tamu yang telah di sulap menjadi tempat yang akan di langsungkan ikrar pernikahan itu.


Cita-cita Della sama seperti kakaknya, ingin menjadi dokter! Tapi karena dia sadar di tidak pintar dan tidak sehebat kakaknya. Della pun hanya mengikuti batas kemampuannya saja dengan menjadi seorang perawat.


Dan karena profesi inilah, dia bisa bertemu dengan calon suaminya, yang seorang dokter bedah. Jika di tanya apa pria itu berasal dari keluarga kaya. Jawabnya tentu tidak, karena ayahnya hanyalah seorang supir angkot.


Walaupun begitu. Semua anaknya bisa di bilang sukses, dua sebagai abdi negara, satu guru dan satu nya lagi berkerja di kantor pemerintahan. Dari kesuksesan kakak-kakaknya lahirlah, seorang dokter bedah yang menjadi calon suami Della.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu seperti apa jalan hidup seseorang. Tapi setiap orang telah memiliki rejeki dan garis takdir mereka masing-masing.


Ningsih dan Wiranti menuntun Della untuk duduk di samping calon suaminya. Setelah itu mereka pun kembali ke tempat duduk mereka.


Tak lama setelah Della datang, Akad itu pun dimulai. Dan Della pun resmi menjadi istri dari Dokter Heriyanto, atau biasa di panggil Dokter Heri.


Setelah acara akad selesai, kini mereka harus, sungkem dan memohon restu kepada orang tua mereka.


Sesi ini sedikit di warnai tangis bahagia juga sedih dari Wiranti dan suaminya, karena mereka sudah harus melepaskan putri semata wayang mereka, untuk hidup bersama suaminya. Tidak hanya orang tuanya, Della pun ikut menangis. Tak henti-hentinya wanita itu mengucapkan terima kasih kepada orang tua, karena sudah menjadi orang tua yang terbaik.


Dan semua itu di lihat oleh Daffa, anak laki-laki itupun menghampiri Ningsih kemudian bertanya. " Mah, bukannya hari ini hari bahagia kak Della? Tapi kenapa bibi, paman dan kak Della menangis."


Ningsih pun tersenyum seraya mengusap kepala cucunya. " Dengar ya sayang! Tidak semua orang menangis itu, karena sedih! Mereka menangis karena bahagia, karena kak Della sudah mendapatkan pendamping hidupnya. "


" Berarti suatu hari Kak Sena juga begitu." Tanya Daffa lagi. Ningsih pun mengangguk sebagai jawaban.


" Mah." Suara itu terdengar begitu lembut, namun membuat Ningsih terkejut, menghentikan pembicaraannya dengan sang cucu. Suara yang baru saja dia dengar itu, adalah suara yang sangat dia rindukan beberapa tahun ini.

__ADS_1


Ningsih ingin segera menolehkan kepalanya, Namun wanita itu ragu, dia takut dia hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan pemilik suara itu, hingga panggilan itu kembali terdengar untuk kedua kalinya. " Mah."


Ningsih pun langsung menengok mencari sumber suara itu, air matanya langsung luruh seketika saat manik hitam itu mendapati sosok yang sangat dia rindukan . " Sena." Teriaknya karena masih tidak percaya putrinya ini ada di sini. Hingga membuat Della dan yang lainnya kompak menatap kepada Ningsih sebelum berpaling kepada sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari Ningsih sambil memegang kopernya.


__ADS_2