Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Terima kasih mah!


__ADS_3

Keesokan paginya, Sena bangun lebih awal. Setelah membasuh wajahnya dan gosok Gigi, Sena melangkah keluar kamar untuk membantu Ningsih di dapur menyiapkan sarapan mereka.


"Jam berapa kamu ke rumah sakit sayang?" Tanya Ningsih. Sembari mengangkat telur mata sapi yang dia buat.


Sedangkan Sena sendiri tangah mencuci, perabotan dapur yang telah selesai mereka pakai. " Jam sembilan mah." Jawabnya.


" Kamu bisa sekalian mengantar Daffa, mama harus harus ke pasar Buat belanja." Tanya Ningsih lagi.


Sebenarnya bisa saja Ningsih antara Daffa dulu baru ke pasar, namun wanita itu, ingin mendekatkan anak dan cucunya, sehingga dia memberikan kesempatan ini untuk Sena.


Sena pun dengan cepat mengangguk kepalanya, " Iya mah! Sena akan mengantar Daffa, nanti pulangnya juga Sena jemput. " Jawabnya lagi Sembari mengeringkan tangannya mengunakan lap, begitu dia selesai mencuci.


" Terima kasih, sayang." Padahal Sena mamanya Daffa, tapi Ningsih tetap berterima kasih kepada putrinya itu, karena dia sudah mau sayang sama Daffa.


Sena tersenyum, kemudian meninggalkan Ningsih masuk kedalam kamarnya, tak lama dia keluar lagi, menghampiri Ningsih sembari membawa kartu debit yang di berikan mamanya untuk kebutuhan kuliahnya dan uang cas. " Mah ini kartu ATM yang mama kasih untuk kebutuhan kuliahnya Sena, di dalam masih ada sisa uangnya setengah, mama simpan ya! Dan ini uang buat belanja, kemarin Sena sempat mampir untuk ambil ini, Ini dari gaji Sena." Ucap sembari memberikan uang itu pada telapak tangan Ningsih.


Uang pecahan Seratus ribu itu tidak banyak, tapi lumayan tebal di genggaman Ningsih.

__ADS_1


" Sena, kamu tidak perlu melakukan ini, mama masih punya uang yang kemarin kamu kirim." Tolak Ningsih namun Sena tetap memaksa.


" Mama harus menerimanya dan mama pantas mendapatkannya, bahkan kalau bisa Sena akan memberikannya berkali-kali lipat dari ini. mah Sena tidak tahu akan jadi apa Sena jika tanpa mama, semua ini tidak akan bisa membalas kebaikan mama, bahkan jika Sena berkerja siang malam dan seumur hidup pun, tidak akan bisa Menganti sepersen pun cinta mama untuk Sena, jadi mulai sekarang Mama nggak boleh menolak apa yang ingin Sena berikan dan Sena lakukan untuk kebahagiaan mama. Terima kasih mah! Sena bersyukur punya mama." Ucapannya sembari memeluk tubuh wanita paruh bayah itu, ungkapan cinta yang Sena berikan membuat Ningsih tidak bisa untuk tidak menitihkan air matanya. " Terima kasih ya mah, sudah mau menerima Sena walaupun Sena pernah membuat mama malu dan kecewa, Sena sayang sama mama. Mama segalanya untuk Sena." Lanjutnya dengan begitu tulus karena Ningsih memang se-berarti itu untuk Sena begitu pun sebaliknya.


" Mama, Kak Sena! Daffa juga mau di peluk." Ucap bocah laki-laki itu yang baru saja masuk ke dapur dengan wajah bantalnya.


" Ayo sayang sini." Sena langsung mengurai pelukannya dengan sang mama, lalu menghampiri Daffa, menggendongnya sembari memeluknya dengan erat, sementara Ningsih memeluk tubuh keduanya hingga posisi Daffa berada di tengah.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi, saat sena menghentikan laju mobilnya di depan sekolah Daffa.


" Maaf." Ucap Sena dengan perasaan bersalah.


" Iya nggak papa, lain kali hati-hati. Hai Daffa." Ucapannya kemudian menyapa Daffa.


" Hai Tante Nelly! Hai Abel." Daffa pun menyapa balik Wanita yang di panggil Nelly itu. Karena Nelly memang sengaja menyekolahkan Putrinya di sekolah yang sama dengan Daffa, Karena wanita itu masih penasaran dengan wajah Daffa, yang mana membuat dia ingin tahu lebih jelasnya tentang Daffa.

__ADS_1


Namun Ningsih yang begitu menjaga jarak darinya membuat Nelly tidak tahu banyak tentang anak itu, selain adiknya Sena.


Seandainya Daffa lahir di Jakarta dan Ningsih tidak induksi laktasi, mungkin dia bisa dengan cepat menemukan kebenaran itu.


" Hai kak Daffa." Balas Abel, gadis kecil itu lebih mudah dua tahun dari Daffa.


Sementara Sena hanya tersenyum saja sembari melihat interaksi mereka. Sena tidak begitu kenal dengan kakak-kakaknya Lian, karena pria itu belum mengenalkan Sena pada mereka, Rencananya di pesta ulang tahunnya, dia ingin mengenalkan Sena kepada mereka namun perpisahan sudah lebih dulu menghampiri mereka.


" Sayang sudah bel, ayo cepat masuk kedalam kelas kamu. ingat nggak boleh pergi kemana pun tunggu sampai kakak jemput oke." Daffa pun mengangguk kepalanya, " Sini cium kakak dulu." Daffa pun menurut mencium pipi dan kening Sena tak lupa punggung tangan wanita itu.


" Dada kak Sena." Nelly yang telah melangkah jauh untuk mengantar putrinya, sedikit terkejut mendengar panggilan kak Sena.


namun saat dia berbalik, baik Sena mau pun Daffa sudah tidak ada di sana, karena Sena yang sedang buru-buru ke rumah sakit tidak sempat membalas lambaian tangan adiknya.


Sementara Nelly sendiri Masih terdiam di tempatnya. Nama itu mungkin banyak yang punya. Tapi nama itu sudah melekat dalam ingatan mereka sebab dalam keadaan tak sadar Sang adik selalu memanggil nama itu.


Hingga nama itu, terdengar begitu sensitif di telinga mereka. "Mah ayo! Abel nanti telat." Ucap gadis kecil itu, menyadarkan Nelly dari lamunannya.

__ADS_1


" Ah, iya sayang! ayo." Nelly kembali meneruskan langkahnya, namun wanita itu, sesekali menengok kebelakang untuk memastikan ada orang di sana dengan nama yang sama, namun koridor sekolah telah sepi. " Mungkin hanya perasaan aku saja." ucapannya dalam Hati.


__ADS_2