
Keadaan Daffa kini sudah membaik, tapi di masih harus di rawatnya di rumah sakit.
" Ngapain kamu masih disini? sebaiknya kamu pulang." Usir Sena, saat menyadari keberadaan Lian.
Keduanya saat ini sedang berada di ruang rawat Daffa. Sedangkan Daffa sendiri tengah tertidur.
"Sena tolong izinkan aku tetap disini! paling tidak sampai keadaan Daffa benar-benar membaik! biarkan aku tetap disini menemani kalian berdua, aku mohon." Ucap Lian penuh harap, sembari menatap wanita yang tidak sedikit pun menatap kepadanya itu.
" Tidak, sebaiknya kamu pergi! karena baik aku maupun Daffa tidak menginginkan kehadiran kamu." Sahut Sena.
Wanita itu kemudian berjalan kearah pintu ruang rawat Daffa, membuka pintu itu lebar-lebar. " Silahkan." Ucapnya mempersilahkan Lian untuk keluar, " Tunggu apalagi kamu, cepat keluar."
Nada suaranya terdengar mulai meninggi saat Lian tak kunjung beranjak dari tempat duduknya.
Pria itu terlihat begitu enggan untuk meninggalkan Daffa maupun Sena sendiri di ruangan itu, namun dia tidak dapat melakukan apa-apa saat dihadapkan dengan keinginan Sena, yang menginginkan dia untuk segera pergi dari ruangan itu.
" Aku ada di luar jika kau membutuhkan sesuatu." Ucap Lian sembari beranjak dari tempat duduknya, Lalu melangkah keluar ruangan rawat Daffa.
__ADS_1
Lian tidak bisa memaksa kehendaknya untuk tetap berada disisi mereka, karena dia cukup sadar akan posisinya saat ini.
Bruk.
Sena langsung menutup pintu ruang rawat putranya dengan begitu kerasnya! membuat Lian terkejut. Namun hanya bisa mengulum senyumnya sembari mengusap dadanya.
Dibenci oleh Sena adalah suatu hal yang paling Lian sesali dalam hidupnya. Tapi Mau bagaimanapun Semua sikap Sena saat ini, bermula dari dirinya. dia yang membuat Sena membencinya Jadi sudah seharusnya dia menerima rasa benci itu dengan lapang dada.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam namun Sena belum juga beranjak dari sisi Daffa.
Hingga Daffa kembali tertidur, Setelah putranya itu Tidur! Sena mengambil ponselnya, kemudian menghubungi mamanya.
Sejak tadi dia memang belum sempat menceritakan keadaan Daffa kepada mamanya.
" Halo mah, Gimana kabar mama?" Tanya Sena begitu panggilan itu terhubung.
__ADS_1
" Kabar Mama baik sayang, kamu dan Daffa baik-baik saja kan di sana?" Jawab Ningsih sekaligus bertanya. " Dari siang tadi sampai sekarang perasaan Mama nggak enak, Mama khawatir banget sama kalian berdua, Tapi sekarang mama udah lega, karena kamu telpon. Oh iya, Daffa kemana sayang? sudah tidur?" Ucap Ningsih lagi, wanita itu tidak lupa untuk menanyakan keberadaan cucunya.
" Maaf mah, " ucap Sena terdengar begitu lirih, sembari menunduk kepalanya, " Sena nggak bisa jagain Daffa, Sena sudah bertindak ceroboh banget sampai lupa dengan Alegri Daffa." lanjut, membuat sang mama mendesah panjang dari seberang sana.
Bunyi nafasnya sampai terdengar di telinga Sena . " Kok bisa sayang! bukannya kamu tahu kalau Daffa tidak bisa mengkonsumsi susu kenapa kamu kasih?" Tanya Ningsih, wanita itu tidak marah, dia hanya bertanya karena tidak ingin Sena semakin sedih dan merasa bersalah.
" Sena nggak kasih Daffa susu mah! Tadi waktu pulang sekolah, Daffa minta makan burger, Sena turuti! Sena juga sudah pastiin makanan Daffa nggak ada keju dan segalanya yang mengandung susu. Tapi Sena juga salah, nggak langsung mindahin burger punya Sena. Pas Sena tinggal Daffa sebentar ke toilet tadi dan begitu balik dari toilet dia sudah batuk-batuk sampai muntah juga." Jelasnya kepada sang mama.
Terdengar helaan Nafas berat dari seberang sana." Terus keadaan Daffa sekarang gimana sayang?" Tanya Ningsih lagi, Wanita paruh baya itu mencoba mengerti posisi putrinya, semua ini tidak sepenuhnya salah Sena dan bukan salah Daffa juga, karena anak seusianya selalu penasaran dengan rasa makanan yang dia dilarang mengkonsumsinya, walaupun pada akhirnya akan seperti ini, Ya namanya juga anak-anak.
" Daffa sudah baik-baik aja mah! tapi dia masih harus di rawat sampai besok pagi." Jawab Sena.
" Syukurlah kalau begitu, Kamu terus pantau dia yang sayang! jangan nyalahin diri kamu, terkadang kita sudah berusaha untuk hati-hati tapi jika takdir mengharuskan Daffa mengalaminya pasti dia akan mengalami gejala itu."
" Tapi_"
" Sayang, Daffa akan baik-baik saja! Dua hari lagi mama akan pulang." Ucap wanita paruh baya itu. " Kamu juga jaga kesehatan dan jangan lupa makan, mama tutup dulu ya, Bibi kamu manggil mama." Pamitnya, Sena pun mengangguk kepalanya walaupun hal itu tidak dapat di lihat oleh Ningsih.
__ADS_1
Setelah itu keduanya sepakat untuk mengakhiri panggilan mereka.