
Setelah pembicaraan keduanya Hari itu, Sena langsung mengatakan jawabannya kepada Ningsih dan Ningsih pun memberi tahu Ani.
Dua harinya papa Lian keluarga dari rumah sakit karena kondisinya telah membaik
Begitu keluar dari rumah sakit, papanya Lian mengumpulkan semua anggota keluarganya serta kerabat jauhnya termasuk orang tuanya Jasmine.
Ray lalu mengajak mereka untuk melamar Sena secara resmi, orang tua Jasmine yang sudah pernah bertemu dengan Sena sebelumnya begitu senang dengan Rencana Ray.
Acara lamaran itu di adakan sedikit wow, bahkan Ray sengaja meminta salah satu stasiun TV untuk menayangkan acara itu.
Ningsih, paman, bibi serta Della begitu bahagia, akhirnya Sena mau menikah sebelumnya mereka sudah khawatir kalau selamanya Sena tidak akan mau menikah lagi, namun semua hanya perasaan mereka saja buktinya Sekarang dia mau menerima lamaran orang tua Lian.
Pernikahan Sena dan Lian akan di gelar tiga bulan lagi, karena mereka membutuhkan waktu untuk menyiapkan segala sesuatunya.
"Kapan ya mereka baikkan ma! Apa nggak papa mereka di nikahkan seperti itu." Tanya Della kepada mama-nya begitu melihat Sena yang lagi-lagi menolak tawaran Lian ketika pria itu kembali menjemputnya untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat Sena berkerja.
"Jangan terlalu di pikirkan Del, Tante yakin hubungan mereka akan baik-baik saja." Sahut Ningsih yang tidak sengaja mendengar ucapan Keponakannya itu.
"Tapi Tante! Lama-lama Della jadi kasihan sama Lian, kak Sena begitu keras kepala." Ujar Della lagi.
__ADS_1
Karena sikap kakaknya itu tidak berubah manis sedikitpun kepada Lian, sekalipun status Lian kini sudah berganti sebagai tunangannya.
"Sudah jangan pikirkan hubungan kakak-mu do'akan saja yang terbaik untuk mereka. "Sela mamanya Della membuat wanita itu mengangguk kepalanya walaupun sesekali ia masih melihat ke arah luar dimana Lian dan Sena masih berada di sana sebelum motor Sena berlalu pergi di susul oleh mobil Lian.
Wanita itu mende-sah pendek, dengan perasaan yang bertanya-tanya. Jika kakaknya itu belum memaafkan Lian, kenapa juga dia mau menerima lamaran pria itu, bukankah itu sama saja dia menyiksa keduanya.
"Mikirin apa! Suami kamu di sini malah pikirannya kemana-mana." Ucap suami Della yang entah dari mana datangnya dan kini sudah berada disamping wanita itu. " Siap-siap yuk kita jalan-jalan, mumpung masih disini." Della mengangguk setelah itu mereka langsung menuju kamar mereka.
Rumahnya Sena walaupun tidak begitu besar tapi memiliki Enam kamar, dua kamar tamu dan tiga kamar utama, serta satu kamar pembantu, dulu mereka memang mengunakan jasa orang lain untuk membantu mamanya Sena, tapi semenjak papanya meninggal sudah tidak lagi, semuanya mama Ningsih lakukan sendiri walaupun Sena sudah menawari mamanya untuk mengunakan jasa orang lain, namun Ningsih menolak, kan lumayan uangnya bisa di simpan untuk kebutuhan dan sekolah Sena. Sekalian biar mama Ningsih ada kerja jika di rumah katanya.
\=\=\=\=\=\=\=
Sementara tak jauh darinya, Lian juga memarkirkan mobilnya, pria itu kemudian keluar dari mobil itu dan menghampiri Sena.
"Apalagi?" Tanya Sena dengan mode judesnya.
"Aku kamu masih marah sama aku! Nggak papa marah aja karena aku memang pantas untuk mendapatkan itu semua tapi temani aku sarapan ya! Apa belum sarapan." Ucap Lian dengan tidak tahu malunya, bahkan pria itu sudah menarik tangan Sena untuk ikut dengannya tanpa menunggu jawaban dari calon istrinya itu.
"Aku temani tapi nggak usah pegang-pegang." Ketus Sena sembari menghempaskan tangan Lian untuk melepaskan genggaman tangannya, namun semakin Sena mencoba Lian semakin mengeratkan genggamannya.
__ADS_1
Membuat Sena menyerah untuk melawan dan hanya diam mengikuti langkah pria itu, tanpa dia sadari di depan sana Lian melengkungkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Senyuman yang dapat di lihat orang lain tapi orang yang membuat dia tersenyum tidak dapat melihatnya, karena wanita itu berada di belakang Lian.
Lian membawa Sena ke sebuah restoran yang berada di samping rumah sakit sembari berjalan kaki, setibanya di sana ia mencari tempat duduk yang berada di dekat jendela kemudian menuntun Sena untuk duduk.
" Mau pesan apa?" Tanya Lian.
" Nggak, aku udah sarapan." Jawab Sena dengan malas, sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di dada, bahkan wanita itu tidak melihat kearah Lian.
"Masa kamu hanya liatin aku! Aku pesan sesuatu ya." Tawar Lian lagi.
"Terserah."
Lian langsung memanggil pelayan untuk memesan tak lama seorang pria menghampiri mereka, Lian pun menyebut pesanannya.
"Ditunggu ya mas, mbak." Sena tersenyum dan mengangguk kepada pelayan itu, sementara Lian hanya mengangguk saja.
" Aku cemburu loh sama pelayan itu." Ucap Lian, membuat Sena yang sejak tadi tidak ingin melihatnya langsung melihat kearah Lian sembari mengerutkan keningnya." Dia bisa dapat senyum dari kamu, sementara aku dilihat saja tidak." Lanjutnya membuat wanita itu memutar kedua bola matanya. Berlebihan sekali pria yang berstatus tunangannya itu.
__ADS_1