Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Daffa kangen mama.


__ADS_3

Setelah cukup lama berbicara dengan mamanya, panggilan itupun berakhir, bertepatan dengan seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Sena dari belakang hingga membuat tubuh wanita itu membeku di tempatnya.


Sena mengepalkan tangannya, wanita itu sudah siap untuk memberi pelajaran kepada orang yang telah berani bersikap kurang ajar kepadanya.


Namun begitu Sena menengok kebelakang untuk melihat siapa yang memeluknya, wanita itu langsung bernafas lega. " Astaga Jasmine." Ujarnya sembari mengelus dadanya. Sementara Jasmine, justru tawa," Nggak lucu tahu becanda kamu itu." Keselnya.


" Maaf-maaf." Ucapannya kemudian berjalan di samping Sena. Sementara wanita itu masih terdiam sembari mengatur debaran jantungnya karena terkejut dengan apa yang di lakukan Jasmine." kenapa diam, tadi juga pas aku peluk, tubuh kamu sampai tegangan gitu! Emangnya kamu berharap di peluk siapa." Tanya jasmine ingin tahu, sembari menelisik wajah Sena dari samping, hingga membuat Sena menghentikan langkahnya lalu menoleh ke pada temannya itu.


" Aku tidak berharap dipeluk oleh siapapun, aku hanya takut aja kalau ada yang bersikap kurang ajar kepadaku, apa aku salah?" Jawab Sena, seraya melanjutkan langkahnya begitu pun dengan Jasmine,. walaupun jawab Sena terdengar tidak nyambung, namun Jasmine tidak ingin mempersoalkan hal itu dan mengikuti saja.


" Ayolah Anara siapa yang berani melakukan hal itu kepadamu? Apalagi ini lingkungan rumah sakit yang kita sama-sama tahu keamanan disini tidak perlu di ragukan lagi dan Ayolah berhenti berpikir negatif serta membatasi dirimu." Ujar Jasmine sembari menggeleng kepalanya.


Namun Sena justru menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya. " Entahlah mungkin bagi kamu aku terlalu berpikir negatif, tapi bagi aku pribadi, semua itu adalah cara aku melindungi diriku sendiri. "


" Melindungi dari apa?" Tanya Jasmine.


" Apapun!"


" Anara kamu tidak bisa terus seperti ini,"


"Tapi aku nyaman seperti ini." Jasmine langsung memutar bola matanya mas." Sudahlah jangan di bahas lagi! Bagaimana pekerjaanmu." Jasmine mendesah panjang, karena Sena selalu punya cara untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


" Hhhhhmmff terserah kamu saja. Pekerjaan aku sudah selesai. Maaf tadi aku tidak sempat untuk menemani kamu makan siang, soalnya ada pasien yang baru masuk siang tadi." Sena menanggapinya dengan anggukan. " Mau pulang sekarang?" Tanya Jasmine, Sena kembali mengangguk kepalanya.


" Oh iya! Makan malam bareng yuk?" Tawar Jasmine lagi, tapi kali ini, Sena menggeleng kepalanya, menolak tawaran itu.


" Lain waktu ya! Adik dan mama aku sedang menunggu aku di rumah."


" Baiklah, Aku pegang janji kamu?"


" Iya, kapan pun itu aku ikut tapi tidak untuk malam ini."


" Iya-iya."

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam saat Sena melangkah masuk kedalam rumahnya, di sana Ningsih dan Daffa terlihat cemas menunggu kedatangan wanita itu.


" Sayang, akhirnya kamu pulang juga! Mama udah nungguin kamu dari tadi." Ucap Ningsih sembari menghampiri putrinya itu.


" Maaf mah! Tadi ada pasien_"


" Iya mama tahu, mama nungguin kamu karena mama harus kembali ke Riau Sekarang. Karena Paman dan bibi kamu mengalami kecelakaan, mama ingin melihat keadaan mereka." Ucap Ningsih, wanita paruh baya itu terlihat Panik.


Bagaimana tidak Panik dan khawatir, kedua adik iparnya itu begitu berarti untuk Ningsih, tanpa bantuan dari mereka mungkin Sena akan sulit mencapai titik ini.


" Mama dapat kabar dari mana?" Tanya Sena yang ikut khawatir dengan keadaan paman dan bibinya.


"Tadi besan mereka telpon mama dan sekarang mereka sedang menemani paman dan bibi kamu di rumah sakit. Tahu sendirikan Della dan suaminya masih honey moon." Jelas Ningsih.


" Mereka tahu?"


" Ya sudah, nanti sena pesan tiket untuk kita bertiga." Ucap Sena namun, Ningsih justru menolaknya.


" Nggak, kamu dan Daffa disini aja! Biar mama yang berangkat sendiri, mama juga sudah memesan tiket pesawat untuk penerbangan malam ini. " Ucap Ningsih membuat Sena terdiam. " Sayang bukannya mama tidak mau kalian ikut, tapi Daffa sudah terlalu sering izin di sekolah, kamu juga baru kerja di rumah sakit ini. Nggak papa mama pergi sendiri aja."


"Ma_"


" Sena_" Sena pun tidak bisa menolak pada akhirnya dia hanya menurut saja.


Dan malam itu setelah selesai makan malam, Sena dan Daffa mengantarkan mamanya ke bandara mengunakan taksi.


Padahal Ningsih sudah menolak karena tidak ingin anak dan cucunya pulang larut malam. Sayangnya ibu dan anak itu terlalu keras kepala untuk di larangan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Keesokan paginya, Sena bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuknya dan Daffa, kemudian mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.

__ADS_1


Bersyukurnya Daffa sudah bisa apa-apa sendiri sehingga Sena tinggal merapikan saja jika dia rasa penampilan Daffa kurang rapi.


" Sayang, Kalau kak Sena terlambat jemput, tungguin ya, jangan kemana-mana." Ucap Sena kepada putranya.


Keduanya saat ini tengah menikmati sarapan yang dibuat oleh Sena.


" Iya kak." Jawab Daffa. " Kak, mama belum telepon ya." Tanya Daffa lagi, karena belum sehari di tinggal oleh Neneknya, anak itu sudah merindukan kehadiran Ningsih.


Wajar saja, selama ini yang menemaninya adalah Ningsih dan baru kali ini Ningsih meninggalkan cucunya itu.


" Kenapa? Daffa kangen ya sama mama?" Tanya Sena suaranya terdengar begitu pelan seakan ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak, sehingga untuk bertanya saja rasanya begitu berat.


Daffa mengangguk. " Daffa kangen sama mama! Kapan mama pulang kak?" Anak itu bertanya lagi.


" Nanti kalau mama telpon kakak tanyain ya! Kapan mama pulang, sekarang Daffa habiskan sarapan Daffa dulu terus kita berangkat ke sekolah, nanti Daffa telat loh."


" Iya kak." Daffa mengiyakan sang kakak dan kembali menikmati makanannya dalam diam, sementara Sena pun ikut terdiam sembari melihat Daffa menikmati sarapannya. Karena Dia sendiri pun sudah tidak berselera untuk melanjutkan makannya.


Sebab Jauh di lubuk hatinya Sena ingin berkata kepada putranya itu jika dia adalah ibunya, tapi dia tidak ingin menyakiti Daffa dengan membuatnya bingung.


Selama ini Sena tidak pernah membenci Daffa, wanita itu sayang dan sangat mencintai Daffa, hanya saja Hina yang di berikan Lian. Membuat dia harus membuktikan dirinya sendiri dengan mengorbankan Daffa.


Hingga dia sampai pada tahap ini! Bahkan Untuk sampai di tahap ini, tidak terhitung berapa banyak pria yang dia tolak, tidak hanya itu dia juga menutup rapat hatinya untuk mereka yang datang, Hanya untuk membuktikan kepada Lian, jika mereka di pertemukan lagi dia sudah berada di Pase terbaik yang dia punya.


Namun untuk mencapai fase ini segala sesuatu tidak instan dan gratis. Ada keringat serta air mata yang harus dia rasakan dan harga yang harus dia bayar ada jauh dari Daffa.


Sungguh itu sangat menyakitkan untuk Sena, di tuduh, di hina serta di tinggalkan di saat dia berada di titik paling rendah dan dia bisa mencapai titik tertinggi, namun dia harus menerima kenyataan jika orang yang paling di cintai hanya menjadinya urutan kedua setelah mamanya, sungguh tidak adil untuk Sena tapi dia bisa apa. Ini jalan yang dia ambil, suka tidak suka dia tetap harus berada di jalan ini. Dengan harapan jika tuhan berkehendak Daffa mengetahui semuanya suatu hari nanti, anak itu tidak membencinya atau menolaknya karena sampai detik ini hati Sena belum siap untuk menerima penolakan serta kebencian Daffa.


Katakan dia egois, memang seperti itu nyatanya. Tapi sebagai seorang ibu tak ada salahnya-kan jika dia sedikit berharap.


" Kak, aku sudah selesai." Ucap Daffa menyadarkan Sena dari lamunannya.


Wanita itu kemudian mengangkat piring bekas makan mereka lalu meletakkannya begitu saja di wastafel dan tidak sempat untuk mencucinya karena mereka harus segera berangkat ke sekolah Daffa.

__ADS_1


__ADS_2