
Waktu berlalu dengan begitu cepatnya tidak terasa seminggu telah berlalu setelah Daffa keluar dari rumah sakit dan kini Mama Ningsih pun telah kembali ke Jakarta untuk menemani cucu dan anaknya sejak dua hari yang lalu.
Dan berita kepulangan mama Ningsih langsung di sampaikan orang suruhan Lian, yang selama ini di tempatkan di sekitar rumah Sena.
Bukan karena pria itu ingin menguntit, tapi semua ini dia lakukan karena khawatir kepada Sena dan Daffa, yang tinggal berdua saja di rumah itu.
Mengetahui kepulangan mama Ningsih, Lian langsung mengajak mamanya untuk menemui wanita paruh baya itu, sesuai janjinya kepada mamanya Sena, bahwa dia akan memperbaiki semuanya termasuk mencoba untuk bertanggung jawab kepada Daffa walaupun hal itu mungkin akan ditentang keras oleh Sena tapi tidak ada salahnya jika dia mencoba bukan.
" Mih, mau ke mana?" Tanya Nelly wanita itu baru pulang mengantar anaknya ke sekolah dan sengaja mampir ke rumah orang tuanya untuk melihat kondisi sang ayah, mengingat hari ini, dia cuma ada satu kasus yang harus dia tangani, itupun siang nanti.
Tapi dia justru berpapasan dengan mamanya yang baru keluar kamarnya dengan penampilan yang sudah rapih.
Ani menatap kepada putrinya itu, wanita paruh baya itu terlihat terkejut saat mendapati keberadaan putrinya namun sedetik kemudian dia merasa lega, karena Nelly bisa menemani suaminya di rumah saat dia pergi nanti.
" Mih mau kemana?" Tanya Nelly lagi, ketika tidak menemukan jawaban apapun dari mamanya.
Sementara Ani terlihat berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan putrinya itu." Mami akan menemani Adik kamu untuk menemui tante Ningsih." Jawabnya sembari merapikan penampilannya yang sudah terlihat rapi.
Nelly mengerutkan keningnya, mendengar jawaban sang mama, wanita itu terlihat tidak suka dengan rencana mamanya juga Lian. " Buat apa mama kesana." Tanyanya tak suka.
Ani langsung mengangkat pandangannya, menatap bingung putri sulungnya itu, karena wanita paruh baya itu! tahu jika Nelly pasti sudah mengetahui masalah adiknya." Tentu saja untuk meminta maaf sekaligus memperbaiki hubungan Adik kamu dengan keluarga itu! Kamu tidak lupakan siapa Sena dan sepenting apa dia untuk adik kamu." Nelly menaikkan kedua bahunya acuh. " Dan mama yakin kamu pasti sudah tahu apa yang di lakukan Lian! Terus, kenapa kamu masih bertanya." Lanjutnya.
__ADS_1
" Karena Nelly nggak suka dengan wanita itu mih dia terlalu sombong dan arogan." Jawab Nelly, Wanita itu sudah bisa menebak jika sang Mama sampai ingin berkunjung ke rumah Sena, itu tandanya Lian sudah menceritakan semua masalahnya kepada Mamanya.
"Kenapa kamu berbicara begitu Nelly, Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya wanita paruh baya itu sembari menelisik wajah putrinya.
Nelly pun mengangguk kepalanya membenarkan ucapan sang mama. " Awalnya aku berpikir dia adalah gadis yang baik tapi semakin ke sini Yang aku lihat hanyalah seorang wanita sombong dan arogan, dia bahkan tak segan-segan bersikap kasar kepada Lian padahal dia tahu Lian begitu ingin mendapatkan maaf darinya." Ucap Nelly, Wanita itu mencoba mencari aliansi untuk ikut membenci Sena.
Sayangnya Ani bukanlah orang yang mudah di hasut, sekalipun yang menghasut adalah putrinya sendiri. "Kamu sudah bertanya kenapa dia bersikap seperti itu kepada adikmu." Wanita paruh baya itu, Tidak langsung terpengaruh dengan ucapan putrinya, dia lebih menyarankan Nelly untuk menyelidiki terlebih dulu alasan kenapa Sena bersikap seperti itu kepada Lian." Kamu tidak boleh langsung menilai buruk seseorang hanya karena menilai sikap buruknya saja. Karena menurut Mama dia adalah gadis yang baik, Dia sengat ramah dan dia mampu bersikap profesional! Walaupun dia tahu mami dan papi adalah orang tua Lian, Tapi dia tetap bersikap hormat kepada kami dengan menjalankan tugasnya." Jawab wanita paruh baya itu membuat Nelly memijit pangkal hidungnya, untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba hinggap di kepalanya.
Wanita itu masih tidak terima mamanya justru membela Sena dari pada Adiknya.
"Sudahlah jangan dibahas lagi, mami pergi dulu, tolong jaga papi kamu." Ani pun berjalan melewati Nelly setelah menitipkan sang suami kepada Putri sulungnya itu.
Begitu sampai di dekat mobil Lian, Ani pun langsung masuk kedalam mobil itu, duduk di kursi penumpang tepat di samping Lian.
" Mami yang minta kak Nelly buat datang?" Tanya Lian, sembari membantu mamanya untuk memesan sabuk pengaman.
Mendengar pertanyaan Lian, Ani dapat menyimpulkan Jika hubungan kedua anaknya itu sedang tidak baik-baik saja, mengingat bagaimana Nelly berusaha menjelek-jelekkan Sena di depannya serta Lian yang seakan tak suka dengan kehadiran kakaknya itu.
"Dia kakakmu Lian, dia juga anak mami tanpa Mami minta pun, dia berhak untuk datang ke rumah ini, jika dia mau Sayang." Jawab wanita paruh baya itu. " Sebaiknya kita pergi sekarang." Lanjutnya sebelum Lian kembali membuka mulutnya untuk menyahuti ucapannya barusan.
Lian memilih menurut ucapan maminya, pria itu mulai melajukan mobilnya dengan perlahan meninggalkan pelantar rumah orang tuanya menuju rumah Sena.
__ADS_1
Dikarenakan jalanan yang sedikit macet Lian dan maminya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk sampai di rumah Sena namun pada akhirnya mereka sampai di rumah itu bertepatan dengan Ningsih yang hendak pergi ke pasar.
Namu wanita paruh bayah itu langsung menghentikan langkahnya, saat melihat mobil Lian berhenti tepat di depan rumahnya! Ningsih tentunya sudah mengenali mobil Lian Karena pria itu sering menemuinya mengunakan mobil yang sama.
" Selamat pagi Bu, apa kabar?" Sapa Lian, pria itu mencoba untuk berbasa-basi dengan Ningsih sembari membungkuk mencium tangan wanita paruh baya itu.
Namun Ningsih, segera menarik tangannya."Selamat pagi, Ada apa ya?" Tanya Ningsih, berpura-pura lupa, padahal dia sendiri yang meminta Lian untuk datang jika bersama orang tuanya.
Lian pun tetep tersenyum dan tidak mempermasalahkan sikap Lian." Maaf Bu! Jika aku menganggu waktu ibu, aku kesini untuk menepati janji aku kepada ibu waktu itu dan hari ini aku datang bersama Mami aku." Jelas Lian, pria itu berbicara begitu sopan, bahkan setiap kata perkata yang keluar dari bibirnya dia sortir dengan baik sehingga enak di dengar dan tak akan membuat masalah baru lagi nantinya.
Ningsih awal ingin menolak Lian lagi, tapi wanita itu terpaksa mengangguk kepalanya saat melihat kepala para tetangganya yang mulai muncul dari dinding pagar rumah mereka untuk mencuri dengar obrolan Lian dengannya.
" Ayo sebaiknya kita berbicara di dalam." Ajak Ningsih, wanita itu kemudian berjalan lebih dulu untuk membuka pintu rumahnya yang telah Ia kunci sebelumnya.
Sementara Lian justru berbalik ke mobilnya untuk memanggil maminya yang masih menunggu di sana.
Ani keluar dari mobil Lian, lalu mengikuti langkah putranya itu masuk kedalam rumah Sena.
Begitu mereka berada di dalam rumah itu, sang pemilik rumah tak terlihat di sana, membuat ibu dan anak itu hanya bisa saling menatap. Namun Tak lama, Ningsih keluar dengan membawa tiga gelas teh yang baru saja ia buat untuk Lian dan maminya.
" Silahkan duduk! Maaf tadi saya tinggal sebentar kebelakang untuk membuat minuman ala kadarnya." Ucap wanita itu, sembari menurunkan nampan berisi cangkir teh itu kemudian menatanya di atas meja, " silahkan di min_ mbak Ani." Ucap Ningsih, wanita itu sedikit terkejut dengan kehadiran Ani di rumahnya.
__ADS_1