
"Salam kenal Om, Tante," ucap Daffa mencium punggung tangan Ani dan Rey secara bergantian, " nama aku Daffa Arshaka Aditama. Adiknya Kak Sena_Hmmffh, Salah ya kak." Lanjutnya begitu melepas bekapan mulutnya, Setelah menyadari dirinya telah salah menyebut nama mamanya, Daffa menatap Sena khawatir.
Karena anak itu tahu, selama berada di luar rumah, dia harus memanggil Sena dengan panggilan yang berbeda! Yaitu kak Anara dan akan memanggil Sena saat mereka berada di rumah aja.
Jika di tanya alasannya apa, jawabannya karena Sena tidak menyukai nama panggilannya itu dan dia bahkan pernah meminta mama, bibi, Paman dan Della Menganti panggilan mereka kepadanya, dengan Anara jangan Sena lagi.
Tapi semua keluarganya menolak Hal itu, " Jangan pernah memaksa sesuatu yang sudah melekat dengan dirimu sejak kecil, Hanya karena satu orang yang pernah menyakiti kamu, sebab hidup kamu tidak hanya tentang dia. Ingat Nak sebelum dia datang di kehidupan kamu, kita semua sudah lebih dulu mengenal kamu seperti itu, jadi begitu dia pergi hanya hubungan kalian yang berubah tidak dengan kita nak, terserah jika kamu ingin memperkenalkan diri sebagai apa tapi begitu berada di rumah dan di tengah-tengah keluarga kita, Kamu tetap menjadi Sena, bukan orang lain." Tegas sang paman, membuat Sena tidak dapat membantahnya.
" Nggak papa sayang!" Ucap Sena sembari tersenyum dengan begitu hangatnya kepada putranya itu.
Selama ini dia sudah mencoba untuk mengubur jati dirinya sendiri, tapi semakin lama, Sena semakin sadar jika apa yang dia lakukan itu salah. Toh orang-orang tidak ada yang tahu hubungan dia dan Lian, kalau pun mereka tahu, mereka akan berpikir jika itu hanya cinta monyet saja.
__ADS_1
Untuk orang tua Lian, sendiri Sena tak yakin Lian mengatakan hal itu kepada mereka atau tidak, dia saja menolak bertanggung jawab dengan menuduhnya! Jadi untuk apa dia harus hidup dengan ketakutan yang tak pasti.
"Oh iya, nama kakak kan Senara jadi sama saja." Ucap anak itu meralat lagi ucapnya, namun hal itu tidak berarti apa-apa, karena Ray mulai mencurigai sesuatu.
"Pintar sekali. Om, Tante! Ngobrolnya bisa nanti, sebaiknya kita langsung makan malam saja." Ucap Jasmine Setelah memuji Daffa, karena cacing di dalam perutnya sudah mulai berdemo sejak tadi, minta untuk di sejahterakan hidup mereka.
" Ah iya! Ayok, untung kamu ingatkan." Ani langsung mengiyakan ucapan keponakannya sementara Ray dan Sena hanya terdiam saja dengan pikiran mereka masing-masing.
" Terima kasih! Tapi Daffa udah kenyang tadi sebelum kesini Daffa sudah makan bersama mama di rumah, Daffa kesini karena mau jagain kak Sena, soalnya udah malam." Jawab anak itu dengan begitu polosnya.
" Oh gitu! Kamu baik banget sayang." Jasmine kembali memuji Daffa sembari mengusap kepalanya, posisi duduk Daffa yang dekat dengannya memudahkan Jasmine untuk melakukan itu semua.
__ADS_1
" Terima kasih."
Setelah itu mereka pun memulai makan malam itu, hingga Ray kembali di buat terkejut lagi.
Ya keterkejutan Ray tidak hanya sampai pada melihat wajah Daffa saja, karena pria paruh baya itu kembali di buat terkejut saat Sena menegur Daffa untuk tidak menikmati custrad yang tersaji di hadapannya itu.
" Kenapa kamu menegurnya! Itu di buat untuk di makan." Sahut Ray, yang berpikir Sena terlalu kejam dalam mendisiplinkan adiknya, hingga ia di larang ini dan itu.
"Paman, paman jangan salah paham dengan Anara, dia seperti itu karena Daffa alergi terhadap susu sapi." Jelas Jasmine, membuat lelaki paruh baya itu tersedak sampai terbatuk-batuk.
...\=\=\=...
__ADS_1
...Hai semua.. maaf baru sempat update lagi, soalnya si bungsu aku lagi sakit 🙏🙏 nanti kalau dia udah sehat lagi. Aku crazy update sampai crazy ya🤭...