Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Itikad baik.


__ADS_3

Pagi itu, setelah selesai sarapan Ningsih langsung menghubungi Ani, maminya Lian, setelah Sena mengantar Daffa pergi ke sekolah. Ningsih sengaja menghubungi Ani untuk mengundang Ani beserta Lian dan juga Nelly untuk datang ke rumahnya, karena ingin membicarakan masalah Nelly yang ingin mengadopsi Daffa sekaligus mengenalkan daffa kepada Lian karena menurut wanita paruh bayah itu, ini saatnya mereka untuk membicarakan masalah ini.


Ani pun setuju, karena wanita paruh baya itu juga ingin yang terbaik untuk mereka semua.


Selesai menerima telpon dari Ningsih Ani kembali masuk ke dalam ruang rawat suaminya. " Siapa yang telpon, mi." Tanya Ray. Suara pria itu terdengar lemah dan serak.


" Mamanya dokter Sena Pi." Jawab Ani membuat Ray dan anak-anaknya yang tengah berkumpul di ruangan itu langsung menatap kepadanya.


" Apa yang dia katakan?" Tanya Ray lagi ingin tahu.


"Dia minta mami, Lian dan Nelly kesana! Katanya ada yang ingin dia bicarakan dengan kita. " Jawab Ani.


" Mami tunggu apalagi, pergilah dengan mereka, Syita dan Leny akan menjaga papi disini. Kalau bisa lamar sekalian dokter sena, karena bagaimanapun Lian harus mempertanggung jawabkan perbuatannya mereka, ada dan tidak adanya Daffa, mereka tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya mereka." Ucap lelaki paruh bayah itu.


" Mami juga inginnya seperti itu Pi, tapi apa Sena mau! Setelah apa yang di lakukan Lian kepadanya." Sahut Ani.

__ADS_1


" Ya papi tahu, tapi sebagai orang tua, setidaknya kita harus meluruskan apa yang sudah salah sejak awal. Entah nanti Sena mau atau tidak tapi sebagai orang tua kita harus memiliki itikad baik itu." Ucap Ray dan Lian yang mendengar hal itu tentu saja senang.


Karena ia masih memiliki kesempatan untuk bersama Sena walaupun itu sangat kecil. Mengingat Sena sangat membencinya saat ini.


" Baiklah, mami akan mencoba untuk membicarakan hal ini dengan Ningsih nanti." Ujar Ani.


Setelah berbicara dengan suaminya, siang harinya Ani pun pamit untuk ke rumah Sena walaupun Nelly sangat enggan untuk kesana, tapi karena desakan dari Lian dan mamanya. Nelly pun ikut dengan mereka.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Sementara itu di rumah Sena, wanita itu sedang duduk dengan cemas. Walaupun Ningsih sudah berulang kali menyakinkan dirinya, tetap saja Sena tidak bisa tenang. Mengingat dia akan menceritakan semuanya kepada Daffa nanti begitu anak itu pulang sekolah.


"Kamu belum menjemput Daffa, sayang." Tanya Ningsih kepada putrinya itu, karena sebentar lagi Daffa akan pulang.


" Mah, apa harus kita mengatakan tentang Lian kepada Daffa, Sena belum_"

__ADS_1


" Mau sampai kapan nak! Daffa sudah besar semakin kamu menyembunyikannya semakin dia akan penasaran. Jangan egois ini mungkin yang terbaik dan sudah saatnya juga untuk dia tahu." Ucap Ningsih hingga membuat wanita itu tidak punya pilihan dan hanya bisa mengangguk kepalanya. " Sekarang kamu jemput Daffa, jangan biarkan dia menunggu, mama nanti akan membantu kamu untuk menjelaskan semuanya." Sambungnya lagi.


Dan Sena pun hanya bisa menuruti apa yang di katakan mamanya. Wanita itu dengan lemas beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Ningsih untuk menjemput Daffa di sekolahnya.


Lima belas menit setelah Sena pergi. Ani bersama kedua anaknya pun tidak di rumah Ningsih, wanita itu menyambut mereka dengan baik, tak lupa menyuguhkan minum dan kudapan untuk menemani obrolan mereka nanti.


" Apa kabar Ningsih?" Tanya Ani, sekadar basa-basi untuk memulai obrolan mereka.


" Kabar aku baik, seperti yang mbak lihat. Bagaimana mana kabar suami mbak," jawab wanita itu, seraya balik bertanya.


" Begitulah Ningsih, faktor umur di tambah masalah anak-anak kita! Tapi berkat bantuan Sena dia sudah mulai membaik walaupun masih harus di rawat di rumah sakit." Jelas Ani seadanya.


" Syukurlah, semoga suami mbak segera membaik dan bisa berkumpul di rumah dengan keluarga." Ujar mama Ningsih tulus mendoakan.


Dan Ani berserta Kedua anaknya, langsung mengamini ucapannya.

__ADS_1


" Oh iya ningsih ada yang ingin saya bicarakan?" Ani ingin menyampaikan lamaran yang di inginkan suaminya itu tapi Ningsih menahannya.


" Sebaiknya kita tunggu sampai Sena dan Daffa pulang dulu, mereka mungkin sudah di jalan, mbak_" Belum selesai Ningsih berbicara terdengar bunyi motor Sena yang berhenti di depan rumah. " Itu mereka sudah datang, sebentar ya mbak." Wanita paruh baya itu langsung beranjak dari duduknya untuk menyambut anak dan cucunya itu, setelah mendapatkan anggukan dari Ningsih dan Lian. Karena Nelly hanya duduk diam seolah tak peduli dengan pembicaraan mereka.


__ADS_2