
Begitu selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian Sena melangkah keluar kamar untuk menghampiri mama dan putranya.
Di ruang tengah Sena bisa melihat mamanya sedang duduk menemani Dafa menyusun Lego yang baru saja dia beli untuk putranya itu.
" Apa kamu sudah sering melakukan ini, sayang. "Tanya Sena saat melihat Daffa dengan lihainya merangkai lego-lego itu tanpa hambatan sedikitpun.
Daffa pun mengganggu kepalanya sembari menengok kepada Sena. " Iya kak! Temanku sering membawa legonya ke sekolah dan kami menyusunnya bersama-sama saat waktu istirahat." Jawabnya menceritakan kebiasaan mereka di sekolah.
" Apa orang tuanya tidak melarang hal itu?" Tanya Sena lagi, sembari ikut bersila tepat di samping Daffa.
Daffa menaikkan kedua bahunya seraya menjawab. " Entahlah kak, tapi dia bisa membawanya ke sekolah dan selalu berganti-ganti. Dia bilang dia punya banyak koleksi Lego." Ucapannya penuh semangat.
" Apa kamu ingin mengoleksinya juga?" Tanya Sena.
" Sayang_" tegur Ningsih yang sejak tadi mendengar pembicaraan anak dan cucunya.
Dia bahagia Sena memanjakan Daffa, tapi wanita paruh baya itu lebih suka jika Sena, melakukannya dengan menunjukkan kasih sayangnya dari pada menuruti semua yang di inginkan Daffa.
" Nggak kak, Daffa kan juga ingin jadi dokter sama kaya kak Sena! Jadi uangnya di tabung aja ya. Ini aja sudah sudah cukup kok. Kakak harus banyak-banyak menabung untuk sekolah Daffa. Kakak-kan sudah pakai uang papa untuk sekolah sampai jadi dokter, kini saatnya kakak yang menyekolahkan aku sampai jadi dokter juga." Ucapannya panjang kali lebar dan itu membuat Sena dan Ningsih kompak melengkungkan bibir mereka.
Beda Sena tersenyum karena menahan sakit di dadanya, karena putranya itu telanjur yakin jika orang tua, adalah orang tua juga. bukan dia tidak suka dengan hal itu, tapi manusiawi kan Jika Sena merasakan hal itu.
Sementara Ningsih tersenyum karena bahagia, cucunya sudah besar dan sudah bisa memilih kelak dia ingin menjadi apa.
__ADS_1
" Besok begitu pula kerja, kita akan membuka tabungan buat Daffa ya. Tapi sebelum itu temani Kakak makan malam dulu, kakak udah lapar banget ini. Lego-nya di taruh dulu." Ujar Sena, mencoba menepis perasaannya sendiri, lalu berdiri dari tempat duduknya, di ikuti oleh Daffa juga Ningsih.
" Ayo kak." Ajak Daffa penuh semangat. Keduanya pun menuju wastafel untuk mencuci tangan mereka, Ningsih hanya mengikuti langkah Sena dan Daffa saja.
Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah duduk di meja makan! Sembari menikmati hidangan makan malam mereka.
Begitu makan malam itu berakhir, Daffa yang lebih dulu turun untuk kembali menyusun Lego. Sementara Ningsih dan Sena masih duduk mengitari meja makan itu, sembari menikmati potong buah pir yang telah di sediakan Ningsih, untuk pencuci mulut.
" Sayang, berapa umur kamu sekarang?" Tanya Ningsih, sengaja memulai pembicaraan mereka, bukan karena Ningsih tidak tahu umur putrinya sendiri, tapi dia hanya ingin mengingatkan Sena.
" Dua puluh delapan mah! Bukannya mama selalu mengingat ulang tahun Sena." Ningsih tersenyum kemudian mengangguk.
Tentu saja dia ingat akan tgl itu, karena di tgl itu, usahanya dan sang suami bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil dengan lahirnya Sena.
" Apa ini masih perlu mah?" Bukannya menjawab Sena justru balik bertanya.
" Tentu saja Sena! Setiap orang membutuhkan pasangan hidup, begitu juga dengan kamu." Jawab Ningsih sembari memandang tak percaya pada putrinya itu. " Bukan sudah seharusnya setiap orang harus memilih pasangan menikah kemudian punya anak dan hidup bahagia_"
" Ya mungkin mama benar, tapi maaf mah Sena tidak membutuhkan pasangan! Soal anak Sena sudah punya Daffa, Sena punya penghasilan untuk menghidupi kita. Sena rasa Sena tidak membutuhkan mereka."
" Sena_"
" Mah, tolong jangan bahas ini lagi kita sudah cukup bahagia Tinggal bertiga saja." Sahut Sena sebelum Ningsih sempat mengatakan maksudnya. " Sena sudah kenyang mah! Sena mau ke kamar dulu. " Sena pun beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Ningsih yang hanya bisa menarik nafas panjang sembari menatap punggung putrinya.
__ADS_1
Karena apa yang terjadi kepadanya dan Lian waktu itu! Sungguh meninggalkan luka yang cukup dalam, sehingga Sena sulit untuk mencari ataupun menerima kehadiran pria lain di hidupnya. Sena sudah lama me-sugesti dirinya sendiri bahwa selain papa dan pamannya. Semua pria itu sama breng-sek nya dengan Lian.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan paginya, Sena kembali mengantar Daffa ke sekolah? Pagi itu mereka berangkat lebih awal. Karena ini hari pertama Sena berkerja dan dia juga masih harus mengantar Daffa ke sekolah, untuk itu dia Sengaja berangkat lebih awal sehingga dia tidak terlambat nanti.
Sementara itu di rumahnya, Lian kembali datang menemui Ningsih. Pria itu kembali bersujud di Depan wanita paruh bayah itu.
Memohon maaf dari Ningsih untuk kesekian kalinya. Tapi anehnya tidak seperti kemarin-kemarin! Hari ini Ningsih membuka lebar-lebar Pintu rumahnya, kemudian mempersilahkan Lian untuk masuk.
Wanita itu ingin bersikap keras hati karena marahnya tapi, dia tahu ini hal hanya akan merugikan putrinya, dan dia juga tidak ingin Sena merugikan hidupnya dengan terus hidup sendiri.
Lagian bukankah sudah saatnya untuk Lian mempertanggung jawabkan perbuatannya. " Katakan tujuan Kamu datang kesini dan jangan berbelit-belit." Ucap Ningsih.
" Aku ingin minta maaf! Karena sudah menyakiti sena_"
" Bukankah sudah aku maafkan? Kenapa masih terus datang?" Tanya Ningsih lagi.
"Kalau tante izinkan, aku juga ingin bertanggung jawab atas perbuatan aku kepada sena dulu."
" Memangnya apa yang kamu buat?" Ningsih terus bertanya dengan raut wajah yang tak bisa di tebak.
" Aku yang telah menghamili Sena?"
__ADS_1