Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Anak yang mana?


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Ningsih dan wanita paruh baya itu melarangnya untuk datang ke rumahnya, Lian pun tak pernah datang lagi ke rumah ningsih.


Namun pria itu secara diam-diam selalu menemui Daffa sekolahnya. Tapi belum sempat dia berinteraksi dengan Daffa, Ningsih sudah lebih dulu mengetahui hal itu.


Tok ... Tok .. tok...


Ningsih mengetuk kaca mobil Lian, membuat pria itu terkejut dan langsung menurunkan kaca mobilnya.


"Tante_"


" Bisa kita berbicara sebentar?" Sela Ningsih membuat Lian tidak dapat meneruskan kata-katanya.


Pria itu, mengangguk kemudian keluar dari mobilnya. Mengikuti langkah Ningsih yang sudah lebih dulu berjalan ke arah taman yang terlihat sepi dan duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


" Kenapa kamu selalu berada di sini? Apa yang sedang ingin kamu buktikan?" Tanya Ningsih tanpa berbasa-basi, begitu Lian duduk tepat di sampingnya.


" Maaf, Aku hanya ingin bertemu dengan anakku Tante! Dan aku tidak bermaksud buruk! Aku hanya ingin melihatnya." Ucap Lian penuh permohonan.

__ADS_1


" Siapa? Dan Anak yang mana yang kamu maksud? " Tanya Ningsih.


"Daffa." Jawab Lian dengan begitu yakin dan entengnya. Dia lupa jika dia dulu menolak kehadiran Daffa dan mengkambing hitamkan orang lain untuk perbuatannya.


Rasanya Ningsih ingin tertawa mendengar pernyataan pria itu. "Semua orang yang mengenalku dan selalu berada di sisiku. Tahu jika Daffa adalah putraku, adiknya Sena? Bagaimana bisa dia menjadi anak kamu." Sahut Ningsih, sengaja mengoyak perasaan Lian.


"Aku tidak bermaksud menuduh Tante yang tidak-tidak, tapi hatiku mengatakan jika dia adalah putraku." Entah keyakinan dari mana hingga membuat pria itu teguh pada ucapannya.


Mendengar hal itu Ningsih langsung tersenyum mengejek seraya menggeleng kepalanya. " Kamu bilang hati kamu mengatakan jika dia adalah putra kamu, tapi kamu setiap hari selalu datang untuk melihatnya. Jujur saja Lian saya, tahu kamu ingin melihatnya untuk memastikan dia benar anak kamu atau tidak! Dan jangan mengajarkan orang tua ini tentang perasaan karena saya sudah lebih dulu merasakan pahit manisnya sebuah perasaan termasuk akibat dari perbuatan kamu kepada Sena."


Ucapan Ningsih barusan membuat Lian kembali bungkam, karena apa yang dikatakan oleh Ningsih tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, ya Lian memang ingin menemui Daffa untuk memastikan hal itu, namun perasaannya yang membawanya kepada anaknya itu.


Ningsih berkata seperti itu bukan tanpa alasan, Bukan juga karena dia ingin memutuskan hubungan ayah dan anak. Tapi dia berani berbicara seperti ini demi Daffa. Bahkan dia dapat mengetahui tentang Lian yang selalu datang ke sekolahnya Daffa, itu dari cerita Daffa sendiri.


Daffa selalu bilang ada mobil bagus yang selalu berhenti tidak jauh dari tempat duduknya dan selalu melihat ke arahnya membuat Daffa takut. Untuk itu beberapa hari terakhir ini dia selalu menolak di jemput oleh Sena, karena takut orang itu menyakiti dia dan kakaknya. Bersyukurnya beberapa hari kemarin Della dan suaminya sempat mampir di rumah mereka, menginap beberapa hari di sana sebelum berangkat honey moon, jadi suami Della lah yang menjemputnya.


Karena mereka sudah berangkat kemarin sore, siang ini Ningsih memutuskan untuk menjemput putranya itu sekaligus ingin memastikan ucapan Daffa dan benar saja. Dia mendapati Lian di sana.

__ADS_1


" Bukankah sudah saya katakan untuk Datang bersama orang tua kamu. Kenapa kamu berubah jadi pengungtit." Ningsih mengjeda ucapannya, kemudian berkata lagi "Aku harap kamu mengerti? Karena aku tidak akan segan-segan memperkarakan masalah ini, jika kamu Masih menganggu putraku. Sebaiknya kamu buktikan saja ucapan kamu waktu itu." Ningsih kemudian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Lian, saat melihat siswa-siswi mulai berhamburan keluar gedung sekolah itu.


Membuat Lian frustasi dan kali ini Lian pun terpaksa menuruti keinginan wanita paruh bayah itu. Pria itu memilih untuk langsung pulang ke rumah! Dia ingin langsung mengatakan semuanya kepada orang tuanya. Dia juga sudah siap menanggung semuanya.


...\=\=\=\=\=\=...


Tidak butuh waktu lama, mobil Lian kini sudah terparkir di depan rumah Orang tua Lian.


Pria itu dengan tekad yang kuat, melangkah masuk kedalam rumah megah itu kemudian mencari keberadaan orang tuanya di kamar mereka.


Tapi siapa sangka begitu sampai di depan pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka, Lian bisa Melihat papinya sedang di periksa oleh dokter pribadi keluarga mereka dan sang mama sedang mendengarkan penjelasan sang dokter.


Membuat Lian mengurungkan niatnya, saat mendengar ucapan dokter, Dimana kesehatan papa tidak baik-baik saja, bahkan Sebelum pergi sang dokter menyarakan papinya untuk di bawah ke dokter yang dia rekomendasikan oleh dokter pribadi mereka itu.


Dan Ani mamanya berjanji akan segera membawa papanya ke sana. " Sayang kamu sudah pulang? kenapa berdiri disini Ayo masuk." Lian mengangguk kemudian mengikuti langkah maminya, Dia begitu ingin segera mengatakan masalahnya, tapi kondisi sang papi membuat Lian mengubur dalam-dalam niat itu untuk sementara waktu.


Toh Sena sudah tidak ada! kalau dia bisa mengatakan sebenarnya apa bisa menjamin dia akan mendapatkan anak itu.

__ADS_1


" Bagaimana pekerjaan kamu?" Tanya Rey, membuat Lian tersadar dari lamunannya.


" Semua berjalan lancar, untuk saat ini papi tidak boleh memikirkan pekerjaan dulu, biarkan ini menjadi urusanku, papi harus sehat lagi." Rey mengangguk. " Oh iya Pi, mi Lian ke kamar dulu." pamitnya. pasangan paruh baya itu pun mengangguk, membiarkan Lian pergi.


__ADS_2