
"Kakak harus menikah sama seperti kak Della."
"Jangan buang mama nangis."
"Kalau kakak itu salah dimaafkan, jangan benci! Bukannya kata mama nggak baik dendam sama orang."
"Kalau kak Sena bahagia mama dan Daffa juga bahagia." Dan masih banyak ucapan anak itu yang terlintas di kepalanya.
Daffa yang kecil saja bisa bersikap dewasa dengan memaafkan dirinya, lalu mengapa dia yang sudah sedewasa ini masih bersikap kekanak-kanakan dengan membenci Lian.
Padahal dia tidak jauh berbeda dengan Lian, dia menolak Daffa menyusui daffa saat tantenya meminta dia melakukan hal itu.
__ADS_1
Dia bahkan tak pernah mengendong Daffa saat anak itu masih sangat membutuhkan dekapan hangatnya, jika dihitung kesalahan Sena jauh lebih banyak dari pada Lian, tapi anak itu berbesar hati mau memaafkan dirinya.
Mengingat semua yang pernah dia lakukan kepada daffa dan sikap anak itu yang mau memaafkan dirinya, membuat Sena tanpa sadar menitihkan air matanya.
Wanita itu melipat kedua tangannya di atas meja kerjanya, karena saat ini dia sedang berada di ruangannya setelah selesai praktek. Sena meletakkan wajahnya di atas lipatan tangannya kemudian menangis dalam diam.
Sungguh ia menyesali semua perbuatannya dulu kepada Daffa. Hingga suara ketukan itu menyudahi semuanya.
Sena mengangkat wajahnya lalu, mengusap kedua pipinya, untuk menghapus jejak basah di sana.
Nia melangkah masuk kedalam ruangan itu di ikuti seseorang yang tidak ingin Sena temui untuk saat ini. " Maaf dok, anaknya tuan Ray ingin bertemu dengan Anda." Ucap Nia sembari menunjuk Lian yang berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
" Terima kasih Nia, kamu boleh keluar." Ucap Sena, mempersilahkan wanita itu untuk pergi dan meninggalkan dia dengan Lian.
" Baik dok." Ucap Nia, setelah itu ia pun melangkah keluar tak lupa untuk menutup pintu ruang itu.
Begitu pintunya tertutup, Lian langsung menghampiri Sena sembari memutar meja kerja Sena. Sebab kali ini pria itu tidak duduk di hadapannya, melainkan ia berlutut di samping Sena sembari memutar kursi yang diduduki Sena menghadap ke arahnya, lalu menggenggam kedua tangan Sena.
" Aku minta maaf karena pernah menuduh-mu! Aku minta maaf karena tidak mengakui Daffa. Sungguh Sena aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu, karena aku berpikir kamu sedang mengerjai aku, karena waktu itu sangat dekat dengan ulang tahunku. Dan selain itu kamu tahu sendiri saat itu kita baru saja menyelesaikan masalah teman aku yang di usir dari rumah karena kekasihnya membohonginya dengan pura-pura hamil, aku kamu sedang mengerjai aku dengan hal yang sama untuk itu aku bereaksi seperti itu, aku bahkan meminta tari untuk menjadi pacar pura-pura aku berharap kamu berhenti, tapi Tari justru memanfaatkan hal itu untuk mempermalukan kamu_"
" Tapi mereka tidak pernah melakukan apa yang kita lakukan Lian." Sahut Sena, setelah berdebat dengan dirinya sendiri wanita itu memutuskan untuk berbicara dengan Lian untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Ya itu kebodohanku Sena, aku akui aku salah hingga berkata seperti itu kepadamu. Aku minta maaf, aku minta maaf karena telah menyakiti hati kamu secara sengaja, aku minta maaf karena aku Tari sampai mempermalukan kamu, aku minta maaf karena kebodohanku kamu kehilangan papa kamu, aku minta maaf Sena, aku atas semua yang pernah terjadi. Sungguh aku menyesali dosaku untukmu dan Daffa. Jangan menerima lamaran itu jika kamu tidak ingin, aku tidak ingin kamu semakin tersiksa karena semua ini." Ucap Lian lagi, pria itu bahkan tidak malu menitihkan air matanya di depan mantan kekasih itu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memaafkan kamu Lian, tapi aku juga tidak bisa menolak lamaran keluarga kamu." Sahut Sena membuat Lian mendongak untuk menatap wajah Sena. " Ya, aku akan menerima lamaran orang tua kamu, karena ada keinginan daffa, mama aku dan orang tua kamu di sana." Sambungnya membuat Lian terdiam.
Pria itu terkejut sekaligus tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari bibir Sena. Tadinya dia sengaja menemui Sena untuk meminta wanita itu menolak lamaran orang tuanya, karena dia melihat wajah Sena yang begitu lelah, seakan banyak beban yang menumpuk di kepalanya tapi siapa sangka jawaban yang dia dengar membuatnya begitu terkejut walaupun jauh di lubuk hatinya dia begitu bahagia dengan jawaban itu.