Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
Prolog


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Bu Sum," sapa Anila pada ibu indekost yang sedang menjemur pakaian di pelataran rumah.


"Wa'alaikumsalam, Nak An. Berangkat kuliah?" jawab Bu Sum menghentikan aktivitasnya sesaat.


"Iya, Bu. Pergi dulu, ya, Bu."


"Ya. Ati-ati, Nak." Bu Sum melanjutkan kembali aktivitasnya. Anila pun ke luar pelataran melewati beberapa gang kecil, jalan tembus, menuju kampus bersama sahabatnya, Hauna, dengan berjalan kaki.


"Pagi Mas Bayu. Awas burungnya kabur," goda Anila pada Mas Bayu--tetangga Bu Sum.


"Hush, tabu," kata Hauna sambil mendorong Anila dengan pundaknya. Yang disindir malah cekikikan.


"Kuliah, dulu, Mas," pamit Anila.

__ADS_1


"Ya, kuliah yang serius, An, jangan becanda terus," jawab Mas Bayu memperingatkan Anila.


Baru beberapa puluh meter melangkah, terdengar suara. "Mbak Anila, komik Conan udah ada yang terbaru!" teriak seorang pemuda dari dalam tempat penyewaan komik langganan Anila.


"Siap, Mas. Jangan dipinjemin siapa-siapa! Nanti pulang kuliah aku ke situ!" Anila berteriak tidak kalah nyaring, hingga mengagetkan Hauna. Sontak membuat Hauna reflek menjauhkan posisi kepalanya dari Anila.


Teriakan gadis berpashmina hitam itu pun mendapat balasan dua jempol yang terangkat dari si penjaga tempat penyewaan komik.


Belum juga jauh, seorang ibu paruh baya menyapa. "Mbak Anila, enggak sarapan dulu?" sapa ibu warteg.


"Pagi, Mbak Anila dan Mbak …," sapa satpam kampus Anila.


"Hauna, Pak." Hauna melengkapi.

__ADS_1


"O iya, habisnya susah nama mbaknya. Maaf, ya, Mbak."


Anila terkekeh puas sambil terus berjalan, tepat sesaat sebelum seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Hei ... kirain siapa. Ngagetin aja. Mau ke mana? Buru-buru amat," tanya Anila.


"Duluan, An. Mau ke lab dulu," pamitnya.


"Ya, tiati." Anila setengah berteriak dengan kedua tangan di sisi kanan kiri mulutnya membentuk corong.


"Udah macam jumpa fans aja sepanjang jalan." Hauna ketus sambil terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan.


Anila yang menyadari kalimat itu adalah untuknya tidak tersinggung. Anila malah tertawa keras dan menutup mulutnya.


Tidak heran, Anila memang semenyenangkan itu. Tidak hanya bagi teman-teman sebaya atau sekampus. Dengan mudah dia dapat berbaur dan menemukan bahan pembicaraan. Tidak peduli usia, status sosial, pekerjaan. Selalu ada saja yang menarik untuk diperbincangkan.

__ADS_1


Anila memang mudah berdaptasi, menyesuaikan dengan lingkungan dan kepada siapa dia berhadapan. Layaknya angin atau udara, memiliki sifat fleksibel. Mengikuti bentuk ruangan yang ditempati.


Namun, sifat lain udara yaitu berhembus dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Begitupun Anila tidak menyukai tekanan ataupun tantangan. Bahkan, dia tidak memiliki obsesi. Hidupnya kelewat santai. Cita-citanya sangat sederhana; asal lulus, menikah muda, dan mengurus anak serta suami sebagai ibu rumah tangga. That's All. Itulah bahagia versi Nodya Ayu Ristanila--Anila.


__ADS_2