
"Sekarang aku merasa bahwa inilah saatnya. Saat proyek kantor lesu, dan hutangku menggunung. Rumah dan kendaraan juga harus terpaksa direlakan. Aku harus banting stir."
"Tu…tunggu. Ma…maksud Mas?"
"Ya, An. Mas bangkrut," ujar Ranala berusaha untuk jujur. "Memangnya, Ka…kamu nggak tahu?"
Anila menggeleng, "Nggak, aku nggak tahu."
"Aku pikir kepergian kamu karena tahu Mas bangkrut. Makannya Mas mau perbaiki semuanya dulu, baru menemui kamu."
"Aku nggak sepicik itu, Mas. Pergi karena hal sepele," protes Anila yang kecewa dengan pemikiran Ranala tentang dirinya. "Aku mau menikah dengan Mas bukan karena Mas sudah mapan dan berhasil. Bukan!" Dada perempuan itu terasa sesak mengingat semua peristiwa yang menyebabkan kepergiannya. "Aku kecewa karena Mas nggak jujur sama aku tentang perempuan itu."
"Perempuan itu?" Ranala tampak berpikir sejenak. "Viona?"
"Ya…siapa lah namanya." Perempuan berbalut jaket rajut itu memajukan bibirnya.
"Karena kita umroh bareng? Ya Allah, An." Ranala menyadari sebuah ketidaksingkronan antara kenyataan dan pemikirannya selama ini. "Aku sama Viona, kita memang dekat. Saat kita umroh itu memang sudah ada gejala keterpurukan perusahaan tempat Mas kerja, jadi Mas mulai galau dan gelisah, ya, sudah, Mas memutuskan umroh. Kalau Viona, dia juga sama sedang galau karena perceraiannya. Kita saling menguatkan di situ. Tapi kita sadar, kita bukan mahrom, makannya kita ajak Mami."
"Ada masa di mana Mas merasa menyerah dengan pernikahan kita. Karena Mas tidak juga bisa memahami kamu, begitu pun sebaliknya. Namun, Viona-lah yang terus membujuk aku untuk lebih bersabar." Laki-laki di hadapan Anila lanjut menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
Pikiran Anila ingin sekali menolak dan membantah semua penjelasan Ranala. Tetap saja semua rasanya janggal. Tetap saja semua tidak bisa dibenarkan. Namun Anila urung mendebat karena ingat perkataan Ummi, "Suami adalah kendaraan kita menuju surga. Kendati kita bisa merangkak, berjalan, bahkan berlari menuju-Nya, tetap saja kendaraan akan mempermudah dan mempercepat prosesnya. Bila memang kendaraan itu sudah rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki, sampai menghambat perjalanan kita, barulah tinggalkan. Teruslah saling belajar untuk menambah cadangan maklum dan sabar."
"Viona, dia yang menguatkan Mas saat proyek di kantor makin berkurang. Dia bahkan yang memberi angin segar dengan menawarkan kerja sama properti. Mas cairkan sertifikat rumah dan BPKB mobil untuk modal. Tetapi kita salah prediksi. Properti yang kita perkirakan terjual cepat, sudah empat tahun ini mangkrak tidak menghasilkan apa-apa. Sementara bunga bank terus berjalan. Seperti bola salju, semakin lama semakin besar beban hutang kita. Berkali-kali Viona membantu membayar angsurannya sebagai bentuk tanggung jawab, tetapi kemampuannya tetap terbatas juga. Akhirnya Mas memutuskan melepas rumah dan mobil agar tidak memberatkan siapa pun."
__ADS_1
"Mas sama Viona...sepertinya sudah tidak ada jalan untuk bersama. Viona sudah menolak Mas berulang kali," jelas Ranala lesu. Ada nada kecewa pada suaranya.
"Sekarang, Mas menyerahkan keputusan di kamu. Mas tidak akan memaksamu kembali kalau memang kamu sudah tidak mau dengan orang nggak punya kayak Mas." Ranala tertunduk malu dengan dirinya sendiri.
Anila meraih tangan Ranala yang berada di samping kanan-kiri mangkuk kosongnya. "Asal Mas tahu, aku mau sama Mas karena aku melihat sosok pekerja keras dalam diri Mas. Dan aku yakin seorang pekerja keras, bagaimana terpuruknya dia, dia bisa bangkit lagi. Insya Allah."
"Makasih, ya, An. Kamu udah percaya sama Mas di saat Mas sendiri tidak percaya pada diri Mas," ucap Ranala haru. "Jadi gimana? Kamu mau balik lagi, nggak, sama Mas?" Raut muka Ranala langsung berubah menjadi mode menggoda. Sangat menyebalkan.
Mmm...Aku, sih, nggak mau jadi istri Mas…," jeda Anila sesaat kemudian melanjutkan lagi,"…. doang."
"Hah? Maksudnya?"
"Maksudnya, selain jadi istri, aku juga mau jadi partner bisnis. Jadi partner kerja Mas di warung kopi. Yah…manajernya lah," jelas Anila sambil memberi gestur dengan tangannya mengisyaratkan membuat sebuah garis lurus.
"Hahahahah." Ranala tergelak lebar sekali. Anila belum pernah melihatnya tertawa lepas seperti malam ini. "Boleh, boleh banget. Tapi bayarannya gimana? Aku kayaknya nggak sanggup bayar gaji the best employee, deh." Ranala berlagak seolah-olah sedang berpikir keras.
"Murahan banget, ya," ejek Ranala.
"Emang," gurau Anila yang mengundang tawa Ranala lebih menggema, hingga menarik perhatian pengunjung lain.
Namun Ranala nampak tidak peduli dengan semua tatapan aneh itu. Dia seperti sedang menikmati suasana. "Dasar bocil." Ranala mengacak-acak puncak kepala Anila.
Ponsel Ranala yang diletakkan di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Mami tertulis di sana.
__ADS_1
"Deuh, anak Mami. Ngilang bentar udah dicariin," sindir perempuan yang tengah membetulkan kerudung. Kerudung yang berantakan akibat ulah Ranala tadi.
"Iya, nih. Nggak bisa lihat anaknya pacaran."
"Idih," elak Anila. "Loh, ini Bunda juga telepon."
"Ya, udah angkat sana!" perintah Ranala.
"Mas juga, angkat sana!" balas Anila tidak mau kalah.
"Halo, Mi," sapa Ranala pada Mami. Bersamaan dengan sapa Anila pada Bunda.
"Assalamualaikum, Bun."
"Kita ke sana sekarang." Keduanya kompak menutup telepon dan berlari menuju motor yang terparkir di luar.
......***......
...***Mami dan Bunda kompak banget, ya, godain anaknya pacaran. ...
...Terima kasih author sampaikan karena sudah membaca sejauh ini. Terima kasih untuk like dan komennya. Semua itu sangat berarti bagi author. Menjadi cambuk tersendiri untuk mengalahkan ke-mager-an....
...Pokoknya, love u all to the moon and back....
__ADS_1
...God bless u....
...🥰🥰🥰🥰🥰*** ...