Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 31 - MANIPULATIF


__ADS_3

Kehangatan kembali tercipta memasuki bulan Syawal. Asap mengepul menambah intimnya suasana.


"Jadi gimana? Approved?" tanya Anila. Dibalas anggukan dan dua jempol dari Ranala.


"Yeay!" seru Anila kegirangan setelah Ranala mencicipi sop buntut buatannya.


"Rasanya udah sama seperti sop buntut Mami," tambah Ranala. "Gimana kalo kita kirim ke Mami? Mami pasti seneng banget ada salah satu anaknya yang bisa diturunkan ilmu masak." Anna–adik Ranala sama sekali tidak memiliki ketertarikan dalam masak memasak.


"Serius, Mas?" tanya Anila dengan matanya membulat sempurna. Anila tertegun dengan kalimat 'anaknya'. Ranala terkekeh melihat tingkah laku istrinya. Kalau begini, terlihat sekali sikap kekanakannya. "Oke, aku ganti baju dulu," balas Anila seraya melompat-lompat riang menuju kamar tidurnya.


"Udah semua? Nggak ada yang ketinggalan?" cek Ranala.


Anila mengangguk cepat. Dia mengikatkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Sebahagia itu hatinya.


Perempuan dengan kemeja flannel warna earth tone itu langsung memindah saluran radio mencari lagu yang dapat mendukung suasana ceria hatinya. Sayang, di jam-jam ini semua saluran radio menyiarkan berita. Anila mengerucutkan bibirnya.


"Udah, nih bluetooth dari HP Mas aja," saran Ranala saat melihat ekspresi manyun istrinya.


Sebelum menjalankan mobil, Ranala menyambungkan tape audio mobil ke ponselnya. "Nah, pilih deh playlist-nya," perintah Ranala mendapat balasan senyum lebar Anila.


Playlist dengan lagu-lagu bertempo cepat menemani perjalanan Ranala dan Anila menuju rumah Papi dan Mami. Sesekali perempuan berpashmina hitam itu mengikuti lirik, ikut bersenandung bersama sang penyanyi. Tidak lupa, diiringi goyangan mengikuti irama.


Ranala menikmati pemandangan di sampingnya. Benar kata sebuah kutipan, 'Kebahagiaan seorang istri merupakan sumber kebahagiaan keluarga.' Benar saja, bahagianya Anila menular padanya, menghangatkan hatinya.


Dari layar touch screen pada tape audio muncul sebuah pesan.


Queen : "Ran, AC mobil aku kok nggak dingin, ya? Terus ada bunyi juga dari AC-nya. Help me, please!" Tidak lupa dibubuhi emoticon menangis.


"Berita di radio kayanya udah selesai." Ranala sontak memutus sambungan bluetooth ke ponselnya.


Sekejap lengkungan di bibir perempuan muda itu menguap bersamaan dengan suka citanya.

__ADS_1


...***...


...Sudah selayaknya, kau hanya dapat berdiri pada satu perahu. Kakimu tidak dapat menginjak pada dua perahu sekaligus. Pilihlah salah satu, kalau tidak ingin jatuh ke lautan. Bila tidak dapat memilih, maka biarkan salah satu perahu menjauh. Sehingga kau terpaksa memilih perahu yang masih setia bersamamu....


"Mas, hari ini aku mau bimbingan. Sore pulang, InsyaAllah." Entah kenapa Anila sudah terbiasa berbohong sekarang. Dia tidak berniat ke kampus untuk bimbingan, tetapi mendatangi Viona di tempat kerjanya, karena hanya itu informasi tentang sahabat suaminya–tempat kerjanya. Tinggal berdoa semoga Viona ada di lokasi, sehingga kedatangannya tidak sia-sia.


"Okay. Berangkat naik apa?"


"Naik bus aja. Fleksibel setiap jam ada keberangkatan."


Laki-laki berkemeja hitam bergaris potongan body fit itu, menyempatkan mengantar Anila ke terminal sebelum menuju kantornya. Beruntung, dia tidak menunggu Anila naik bus. Dia hanya mengantar hingga pintu masuk, menurunkan, kemudian meninggalkan. Kebiasaan yang tidak Anila sukai, ternyata ada manfaatnya kini.


Anila melambaikan tangan dengan senyum lebar pada mobil yang menjauhinya. Dia memastikan mobil itu benar-benar sudah keluar dari pelataran parkir terminal. Setelah yakin mobil Ranala meninggalkannya, senyum pura-pura Anila seketika menghilang.


Perempuan berpashmina hitam itu segera mencari bus tujuan Bogor, tentu saja. Dadanya terus saja berdegup kencang, antara takut mendatangi tempat baru, tanpa izin suami, dan yang terpenting karena harus bicara dengan perempuan kesayangan suaminya.


...***...


"Selamat siang. Ibu Viona ada? Saya temannya dari Bandung," sapa Anila pada seorang penjaga pintu masuk kawasan wisata di Bogor.


"Sudah. Tolong sampaikan saja suruhan Bapak Ranala." Anila berbohong lagi.


"Oh, Bapak Ranala. Baik, Kak. Sebentar saya hubungi Ibu Viona dulu," seru perempuan di balik meja penjual karcis.


Sungguh persahabatan yang sempurna. Tidak hanya persahabatan antar individu, melainkan keluarga, dan anak buah masing-masing sudah mengenal dengan sangat baik.


"Silakan, Kak." Perempuan tadi keluar dari meja dan menunjukkan jalan menuju ruangan atasannya.


Anila melewati icon dari kawasan wisata itu. Icon yang tidak asing. Ah, tentu saja, icon yang menjadi latar foto profil suaminya–Ranala. Senyum sinis kembali tercipta di bibirnya. Semakin jelas, mengapa foto itu yang dipajang, karena si pengambil gambar adalah orang yang paling berarti.


"Permisi, Bu. Ini tamu Ibu," sapa perempuan berseragam pada perempuan yang bergeming, tetap menunduk pada laptop di hadapan.

__ADS_1


"Halo, Teh," sapa Anila, sontak membuat perempuan berambut hitam sepunggung itu meninggalkan pandangannya dari laptop.


"Terima kasih, Dewi. Kamu boleh kembali ke depan." Viona mengusir secara halus perempuan yang sudah mengantar Anila menemuinya.


Dengan hati-hati jemari putih Viona menggerayangi permukaan meja tanpa mengalihkan pandangan dari sang tamu–Anila. Tangannya berusaha mencari tahu keberadaan ponsel yang dia yakin, tidak jauh dari posisi lengannya berada.


Gerakan penuh kehati-hatian itu tertangkap oleh netra hitam Anila. Perempuan berpashmina hitam itu membiarkan, melihat sejauh mana Viona akan bertindak.


Viona berhasil menggapai ponselnya. "Duduk," perintahnya pada Anila.


"Terima kasih," seru Anila dengan senyum kebohongan.


Viona menegakkan posisi ponselnya, membelakangi Anila. Anila tahu betul apa yang akan diperbuat perempuan berambut hitam itu, mengambil gambar atau merekam pembicaraan. Sungguh sangat terbaca.


"Kalau ada tamu, sebaiknya fokus dulu dengan tamunya. Jangan main HP, tidak sopan!" Anila mengambil ponsel yang berada di tangan Viona. Posisi Viona yang tidak siap dengan serangan mendadak Anila, akhirnya pasrah ponselnya dirampas perempuan muda di hadapannya.


"HP aku, An. Nggak sopan lihat-lihat HP orang tanpa izin." Viona berusaha mengintimidasi Anila, tetapi Anila tidak terpengaruh kali ini.


"Aku nggak berminat lihat HP teteh. Aku cuma mau kita fokus ngobrol dulu. Biar nggak keganggu sama telfon masuk." Anila meletakkan ponsel milih Viona pada kursi di sampingnya yang kosong. "See? Aku nggak buka-buka sedikitpun." Senyum Anila semakin merekah. "Lagian takut amat kalau aku buka-buka. Kita, 'kan, adik dan kakak," lanjutnya, masih dengan senyuman manipulatif.


"Oke, mau apa kamu ke sini?"


"O... iya. Hampir aja lupa," jeda Anila beberapa lama. Anila menikmati pemandangan tegang di hadapannya, sehingga sengaja memperlambat tempo bicaranya.


Lawan bicara Anila tampak makin tidak sabar. "Waktu aku nggak banyak, jadi cepetan."


Mata Anila berputar malas, seolah hanya Viona yang memiliki pekerjaan. "Oke, aku nggak akan lama. Aku cuma mau bilang baik-baik untuk yang kedua kalinya. Jangan repotin Mas Rana lagi dengan urusan pribadi Teteh. Mas Rana sudah punya keluarga yang harus diprioritaskan."


...***...


...***Perempuan kalau sudah sakit hati, ngeri ya.... Kira-kira hasil pembicaraan mereka apa, ya? ...

__ADS_1


...Btw, terima kasih sudah baca sejauh ini. Komentar dari teman-teman menjadi bahan bakar buat aku terus menulis. ...


...Love u to the moon and back. 💞💞💞***...


__ADS_2