Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 10 - KARENA KAMU


__ADS_3

Minggu pagi, waktunya memberi penghargaan pada diri. Memenuhi haknya raga untuk istirahat dan diolah. Terutama saat tidak ada event seperti hari ini.


Anila sudah siap dengan setelan lari serba hitam. Kali ini ada yang berbeda. Jaket parasut biru-abu menutupinya. Penutup kepala jaket dikenakan, sehingga hanya wajah dan ujung topinya yang terlihat.


Bukan hanya setelannya yang sedikit berbeda, lebih tertutup. Melainkan track jogging-nya juga berbeda. Jarak tempuh lebih jauh. Karena tujuannya hotel acara semalam.


Kebiasaan baru Anila selama lima tahun terakhir. Memberi dampak yang sangat baik terutama pada tubuhnya. Posturnya yang tidak terlalu tinggi menjadi lebih tegap. Stamina pun lebih terjaga. Tidak mudah lelah, sakit, dan yang terpenting sangat baik untuk menstabilkan kondisi psikisnya.


Anila tiba di basement hotel. Motor tua Maliq masih terparkir di tempatnya semalam. Sepertinya belum ada yang menangani kerusakannya. Anila sudah menghubungi beberapa bengkel, tetapi nahas. Kebanyakan bengkel libur di hari Minggu.


Anila inisiatif mengambil beberapa gambar. Untuk memudahkan mencari sparepart yang rusak. Dari arah kiri, kanan, muka, belakang, hingga bawah. Bagian roda terutama. Mencari keterangan diameter roda, tetapi tak kunjung didapat. Hingga ada seseorang mendekat setengah berlari sambil berteriak, "Hei. Mau apa kamu?"


Belum juga Anila berbalik, lengannya sudah ditarik sedemikian rupa. Badannya tidak siap, Anila berputar setengah lingkaran. Kakinya tidak dapat mengimbangi tubuhnya yang berputar secara tiba-tiba. Anila tersungkur, beruntung si penarik menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Kedua pasang mata beradu tatap selama sepersekian detik.


"Astagfirullah, Anila." Maliq melepaskan topangannya pada tubuh Anila. Anila ambruk. Terduduk di lantai semen basement.


"Aduh." Anila mengaduh sambil mengusap tubuh bagian belakang yang keras menghujam lantai karena efek gravitasi. "Tahan bentar, kenapa, sih?" gerutu Anila.


"Ma ... maaf, An. Sakit?" tanya Maliq memastikan Anila baik-baik saja tanpa menyentuhnya. "Lagian kamu ngapain pagi-pagi gini nungging-nungging liatin motorku?" lanjut Maliq.


"Enggak, nggak sakit. Nggak sakit sama sekali," sindir Anila. Anila berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan Maliq. Anila berjalan mencari tempat duduk yang nyaman sambil terus mengusap bagian duduknya yang sakit. Beruntung tidak mengenai tulang ekornya. "Kalau aku sampai kenapa-kenapa. Kamu harus tanggung jawab!" gertak Anila.


"Ya, aku tanggung jawab. Aku nikahin kamu." Maliq terlihat menahan tawa melihat Anila kesakitan.


"Rese emang, ya. Orang sakit masih aja dibecandain." Entah mengapa wajah Anila menghangat saat Maliq berkata demikian.


"Ya, udah. Gantinya, aku traktir makan, yuk," ajak Maliq meredam kemarahan Anila. "Eh, tapi. Satu syarat dulu."

__ADS_1


"Tobat, deh, Maliq. Minta maaf aja ada syaratnya. Udah salah, masih ngajuin syarat."


"Demi kemaslahatan bersama," goda Maliq seraya menyunggingkan senyum khasnya. Senyum yang dibarengi dengan terangkat salah satu alisnya, alis sebelah kanan. Senyum khas Maliq yang membuat banyak perempuan salah sangka terhadapnya.


"Ya, udah. Apa?" Anila menyerah.


"Dorongin motornya dulu sampai bengkel, ya." Maliq menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, gestur memohon.


Anila menghela napas masygul. Bola matanya berputar malas. "Cepetan!" perintah Anila. Dijawab Maliq dengan segera menuntun bagian setang motor berwarna cream itu.


Keduanya mendorong dalam diam. Menghemat tenaga dengan menyedikitkan bicara.


Namun, bukan hanya itu alasannya. Anila masih terbayang saat tubuhnya didekap oleh lengan Maliq. Mata yang beradu pandang, sungguh membuat canggung bila diingat. Tidak sadar, Anila mengulas senyum kecil sendiri.


Dari kaca spion Maliq memperhatikan gerak-gerik Anila. Anila kini menepuk dahinya berkali-kali. "Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Maliq memastikan seraya menoleh pada Anila.


"Kok senyam-senyum sendiri? Aku curiga kamu tadi jatuh kena tulang ekor, loh. Di sekitar tulang ekor, kan, banyak otot, ligamen, sama sarafnya. Curiga kena saraf, tuh," tunjuk Maliq pada muka Anila yang memerah.


"Sembarangan, ya, kalau ngomong." Anila memukul Maliq dengan botol minum yang dibawanya.


"Aduh." Maliq mengaduh sambil mengusap pundaknya.


"Syukurin. Masih lama, ga, sih, ini? Nggak cukup sarapan, nih. Harus makan siang sampe makan malam kalau jauh begini," sindir Anila.


"Seumur hidup juga, aku nafkahin kalau mau," jawab Maliq. "Aduh. Lama-lama kamu aku laporin Komnas HAM atas tuduhan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, nih." Lagi-lagi Maliq mengusap pundaknya yang terkena timpukan botol air mineral Anila.


Maliq tidak berubah, selalu menggoda Anila. Godaannya selalu menjurus ke sana; nikahlah, halalinlah. Anila sempat kesal dengan lelucon Maliq, karena membuat Anila berharap lebih pada Maliq. Namun, kemudian dipatahkan dengan curhatan Maliq yang menceritakan tentang kriteria istri idamannya. Ayu, anggun, solehah, pintar mengaji, pemalu, pendiam, ditambah ciri-ciri fisik berjilbab panjang, memakai kaus kaki, selalu memakai gamis atau rok, dan menutup mulutnya saat tertawa. Jelas bukan Anila banget. Hingga Anila berpaling darinya.

__ADS_1


Sesuai permintaan Anila. Satu hari ini, dari pagi hingga malam menjelang, Maliq membayari Anila makan. Namun, lagi-lagi bukan tanpa syarat. Syaratnya, menu makanan adalah pilihan Maliq. Tanpa berpikir panjang, Anila mengiyakan, dan menyesal kemudian. Dietnya gagal total.


Sarapan Bubur Ayam Bandung, makan siang Mie Ayam Bandung beserta kudapan siomai Bandung, ditutup makan siang timbel komplit beserta karedoknya.


...***...


Garis-garis cahaya menjalar di sudut langit, diiringi bunyi gemuruh silih berganti. Dari langit gelap, rintik hujan jatuh membentuk tirai panjang yang tidak terputus. Anila dan Maliq terjebak hujan di salah saung rumah makan bernuansa alam Jawa Barat, Saung-saung berpenerang redup yang mengelilingi telaga.


"Gimana hari ini?" tanya Maliq sembari menatap telaga.


"Nice," jawab Anila sedatar mungkin. Sama, tanpa mengalihkan pandangan dari telaga.


"Nice?" tanya Maliq menengok sebentar ke arah lawan bicara.


"Yah, udah lama banget aku nggak makan semua makanan tadi."


"Aku tiap hari," sahut Maliq tanpa ditanya.


"Maksudnya?"


"Ya, setiap hari aku makan makanan yang berbau Bandung."


"Kenapa? Enak-enak, ya, makanan Bandung?" tebak Anila.


Maliq mengangguk beberapa kali sebelum menjawab, "Karena kamu ada di Bandung."


...***...

__ADS_1


__ADS_2