Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 45 - JALAN KEMBALI


__ADS_3

Keriuhan suasana lebaran di Baiti Jannati terus berlangsung. Anna yang semakin sulit bergerak karena kehamilannya sudah memasuki minggu ke-36, ditambah asisten rumah tangga yang meminta hak libur, sehingga hanya tenaga Anila dan Ranala-lah yang dapat diandalkan.


Berkali-kali Ranala dan Anila berpapasan, yang satu memunguti piring kotor sementara yang lain membawa masakan panas untuk mengisi ulang piring saji yang kosong. Saking sibuknya, mereka bahkan tidak sempat menyadari pandangan orang-orang.


"Wah...kompak banget, ya, kalian berdua." Anilla dan Ranala kompak mematung membawa panci dan tumpukan piring saat mendengar celoteh salah satu adik Papi.


Ranala menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan salah satu tangan yang terbebas dari piring kotor. Sementara Anila hanya membalas dengan senyum seraya menunduk takzim.


"Fiuh, capek juga ya." Tanpa disadari, laki-laki dengan baju koko putih dengan lengan digulung itu tiba-tiba sudah berdiri di sisi tempat duduk Anila. Perempuan yang sedang menikmati pemandangan lereng itu bergeser untuk memberinya ruang untuk duduk.


"Kopi?" tawarnya sembari menyodorkan cangkir berisi espreso.


"Makasih." Anila menerima cangkir itu dan langsung menyesapnya perlahan selagi panas. "Hemmm…enaaak." Perempuan dengan gamis putih itu memejamkan mata sembari meratakan kopi ke seluruh penjuru lidahnya, agar semua rasa seimbang dinikmati bersamaan. Pahitnya, manisnya, asamnya semua saling melengkapi, tidak saling mendominasi. Ditambah wanginya menyeruak, sayang sekali bila disia-siakan. Anila menghirup dalam-dalam aromanya yang ternyata memberi efek relaksasi.


"Kopi apa, sih, ini?" tanya Anila sembari perlahan membuka matanya. Dia sedikit terhenyak karena menyadari Ranala tengah memperhatikannya.


"Serius enak?" tanya Ranala antusias menunggu jawaban Anila.


"Serius," jawab Anila pasti tanpa ragu sedikit pun. "Semua rasa di kopi ini, tuh, proposional, gitu. Pasti kopi yang istimewa." Anila berusaha mendeskripsikan reaksi rasa pada lidahnya.


Ranala tersenyum bangga. "Kopinya, sih, biasa. Cuman yang bikinnya yang istimewa," canda Ranala yang membuat efek terbelalak mata perempuan di sisinya.


Anila menjauhkan posisi tubuhnya dari Ranala untuk memperjelas penglihatannya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang di hadapannya memang benar seorang Ranala Raia Danalaga–a mature man.

__ADS_1


"Are you okay, Mas?" tanya Anila tidak percaya dengan Ranala yang tiba-tiba jadi gombal seperti Maliq. Anila menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan suaminya.


Suami? Anila tidak yakin tentang hukum hubungan mereka. Lima tahun tidak menerima nafkah batin apakah masih bisa dikatakan sebagai suami? Tetapi kalimat cerai pun tidak pernah terlontar dari lisan laki-laki yang telah menikahinya tujuh tahun lalu itu. Kecuali, surat perjanjian yang dibuat atas desakan Anila. Apakah itu sah di mata hukum dan agama?


Anila menjatuhkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Leher dan bahunya menegang setelah seharian bekerja keras ditambah memikirkan hubungannya dengan Ranala, membuat perempuan itu memijat pelan pundaknya yang terasa mengeras.


"Capek, ya?" Ranala ikut mengurut bahu yang tertutup gamis putih itu. Pijatan yang pada awalnya berhasil membuat Anila berjengit kaget. Namun, alih-alih menepis, Anila menikmati sentuhan nyaman itu seraya memejamkan mata.


"Kamu udah makan, An?" tanya Ranala membuyarkan rasa nyaman yang tengah dinikmati Anila. Karena kesibukan, Anila lupa belum memasukkan sedikit pun karbohidrat sedari siang. Anila menggeleng.


"Makan, yuk!" ajak Ranala seraya bangkit dari duduknya.


"Tapi...semuanya habis, Mas. Nggak ada sisa sama sekali."


Anila mengangguk cepat, karena perutnya pun sudah sama meronta-ronta menuntut haknya.


"Mau aku ambilin jaket sekalian?" tawar Anilla yang bergerak menuju kamar pondoknya.


"Boleh."


Pandangan Anila menyapu ruangan mencari keberadaan jaket Ranala, yang ternyata tergantung di balik pintu, bersanding dengan jaket parasutnya. Anila menarik jaket parasut itu, tetapi kali ini tidak untuk dikenakan. Anila menyimpan jaket parasut itu ke dalam kopernya dan memakai cardigan rajut selutut. Sudah saatnya kamu istirahat. Aku akan baik-baik saja. Anila bermonolog pada jaket parasut itu dalam hatinya. Dengan riang Anila ke luar kamar pondok sembari menjinjing jaket milik Ranala.


Ranala mengemudikan motor dengan kecepatan rendah, karena udara dingin terasa menusuk wajahnya yang hanya menggunakan helm tanpa kaca. Begitu pun Anila. Kendati menggunakan pakaian serba panjang dan jaket rajut melapisi, tetap telapak tangannya yang terbuka terasa membeku. Anila spontan memasukkan tanggannya ke dalam saku jaket Ranala. Anila dapat merasakan Ranala sedikit berjengit.

__ADS_1


"Maaf, ya. Dingin…nggak bawa sarung tangan," ujar Anila saat mereka berhenti di persimpangan.


"Iya, ya. Dingin banget." Ranala berusaha mencari kehangatan dengan juga memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya, tempat tangan Anila berada. Anila menganyam jemari yang sedingin es itu untuk berbagi kehangatan. Ranala menguatkan jalinan itu selama beberapa saat. Keduanya begitu menikmati sensasi hangat yang saling ditimbulkan, hingga suara klakson mobil memeranjatkan mereka berdua. Keduanya tergelak dengan kebodohan mereka sendiri, yang berperingai layaknya ABG yang baru berpacaran.


"An," panggil Ranala di depan mangkuk kosong yang tadinya berisi penuh mie jowo khas Gunung Kidul. Mie yang langsung tandas dalam hitungan detik saking lapar keduanya.


"Hmm?" respon Anila seraya meneguk teh panasnya. "Kenapa?" Anila sudah meletakkan kembali gelas ke atas meja, menandakan dia siap mendengarkan Ranala.


"Aku tertarik dengan kopi. Bukan hanya minumannya, tapi juga semua prosesnya."


Anila menopang dagu dan memusatkan seluruh perhatian pada laki-laki yang berada di seberang mejanya.


"Pembibitan, penanaman, panen, penjemuran, pengupasan kulit arinya, sampai roasting dan penggilingan. Aku bercita-cita punya warung kopi, sejak dulu. Sebelum cafe-cafe kekinian berjamuran, ya. Bukan hanya cafe modern seperti sekarang, tapi warung kopi klasik di mana di dalamnya, ya, hanya menjual kopi murni tanpa tambahan gula, susu, atau creamer. Jadi benar-benar hanya untuk pencinta kopi. Bukan hanya sekedar gaya-gayaan dengan kopi." Idealis Ranala kembali muncul.


"Kalau dulu terhalang sama kesibukan di kantor. Dan sekarang…," jeda Ranala ragu melanjutkan.


"Sekarang?" pinta Anila agar Ranala meneruskan ceritanya.


"Sekarang aku merasa bahwa inilah saatnya. Tepat saat proyek kantor lesu, dan hutangku sudah menggunung. Rumah dan kendaraan juga harus terpaksa direlakan. Aku harus banting stir."


"Tu…tunggu. Ma…maksud Mas?"


......***......

__ADS_1


__ADS_2