
Anila menjalankan mobil dalam tenang. Berhasil lolos. Senyum puas tersungging di bibirnya. Dirinya hanya perlu berbelok di depan, menyerahkan kartu parkir dan … bebas.
Anila tiba di belokan, tidak melihat ke arah kiri. Sebuah motor tiba-tiba saja muncul dan dengan sekejap sudah berada di depan mobil Anila. Astaga. Anila melindas sesuatu. Bunyinya seperti benda terapit antara ban mobil dengan lantai.
"Ya ampun." Tanpa berpikir panjang Anila menegakkan motor yang jatuh karena tertabrak olehnya. Sebagai mantan anak MAPALA, kekuatan Anila tidak bisa disamakan dengan perempuan biasa. "Nggak apa-apa, Mas…." Anila diam sesaat, "Maliq?"
Anila menutup mulutnya. Merutuki kesalahan. Orang yang selama beberapa jam terakhir paling dihindari kini berada tepat di depannya. Bahkan, Anila yang mengawali memanggilnya. Berharap Maliq tidak mengenali, atau Anila tiba-tiba memiliki kekuatan untuk berubah menjadi makhluk transparan.
Si pengendara menyipitkan matanya, "Anila?"
Tanpa menjawab, Anila mendekatkan diri pada Maliq. Bermaksud menuntun Maliq yang kesulitan berdiri. Alih-alih menyambut, Maliq mundur dan mengangkat kedua tangannya. Menghindari tangan Anila yang hampir menyentuh lengannya.
Anila lupa, dia Maliq. Laki-laki yang begitu menjaga diri dari lawan jenis. Anila yang canggung justru memarahi Maliq. "Kamu itu, kalau di parkiran jalannya pelan-pelan, kenapa, sih?"
"Hah? Kecepatan aku cuma 20 km/jam, An. Kamu yang nggak lihat-lihat ke kiri." Maliq membela diri.
"Enggak mungkin kalau kecepatan kamu cuma 20 km/jam, kenapa tapi bisa tiba-tiba muncul begitu?" bentak Anila.
Tangan kanan Maliq terangkat, memberi gestur untuk menyudahi perdebatan. "Tas aku?"
"Nih." Anila menyerahkan tas ransel Maliq dengan kasar ke pangkuan Maliq.
"Ck …," keluh Maliq sambil mengusap leher belakangnya. Maliq berdiri, dengan pincang berjalan meninggalkan Anila tanpa kata.
"Mau ke mana?" tanya Anila mencegah Maliq.
Tidak ada jawaban. Maliq berjalan menuju pos satpam dan berbincang sebentar dengan seseorang berseragam di dalamnya. Anila hanya diam mengamati. Selesai berbincang, Maliq ke luar semakin menjauhi Anila.
"Hei, mau ke mana?" Setengah berlari Anila berusaha menyusul Maliq. Beruntung jalan Maliq yang pincang, memudahkan Anila menyamai langkahnya.
"Ke luar basement. Di sini nggak ada sinyal," jawab Maliq setelah mengetahui Anila sudah sejajar dengannya.
"Iya, mau ngapain?" Anila tidak puas dengan jawaban Maliq.
Maliq membuang nafas berat. "Tuh," tunjuk Maliq ke motornya. "Ban motor aku bengkok. Kalau dipaksa jalan, tambah rusak. Aku mau pulang pake ojek. Motor udah aku titip ke satpam, besok pagi baru ke sini lagi."
Maliq melanjutkan jalannya menjauhi Anila dengan sedikit susah payah. Baru beberapa langkah, "Aku antar!" teriak Anila membuat Maliq menghentikan langkahnya dan berbalik.
Meskipun permintaan Anila jelas, Maliq mengernyitkan dahi. Tanda dia tidak betul-betul paham apa maksud Anila.
"Aku antar," ulang Anila.
__ADS_1
"Nggak usah, udah malam. Kamu pulang aja, takut kemalamam," jawab Maliq. Entahlah, Anila merasa ada nada khawatir pada kalimat laki-laki berambut sebahu yang kini terikat rapi.
"Kamu mau masuk sendiri, atau harus aku tarik," ancam Anila seraya memerintah Maliq masuk dengan gerakan matanya.
Rahang Maliq mengeras. Nafas berat kembali berembus. Tanpa menjawab, Maliq bergerak mendekati pintu penumpang. Anila yang merasa puas memaksa Maliq, setengah berlari bergegas ke pintu kemudi.
Hening di dalam mobil. Tidak ada satu pun suara kecuali samar-samar suara penyiar radio bersumber dari tape mobil Anila. Situasi tegang coba Anila redam dengan memindah-mindah saluran radio yang didominasi lagu-lagu romantis dan mendayu-dayu. Maklum, ini malam minggu.
"Mau denger saluran apa?" tanya Anila memecah keheningan.
Dibalas dengan bahu Maliq yang terangkat. Pandangannya tetap menunduk, melihat tangan pada pangkuannya. Sesekali melihat pemandangan ke luar, kemudian menunduk lagi. Sungguh tidak terlihat seperti sahabat lama yang baru bertemu kembali.
"Besok aku panggil montir." Anila mencoba kembali mengajak Maliq berbincang.
"Buat?" tanya Maliq masih menatap tangan di pangkuannya.
"Ya, benerin motor kamu."
"Buat apa? Kamu, kan, nggak salah." Anila tahu kalimat itu adalah sindirian untuknya.
"Ini bukan masalah siapa bener, siapa salah, ya." Nada bicara Anila meninggi. Sesat Anila sadar lawan bicaranya bukanlah bawahannya yang biasa dibentak. "Sorry," lirih Anila.
"Sorry? Everybody's changing." Anila melepas kemudinya sesaat dan kembali mengendalikannya. Anila tidak terima dengan pernyataan Maliq.
"Not all, of course." Jawaban Maliq membuat Anila menengokan kepalanya tidak percaya dengan jawaban Maliq. "Everything is still the same for me."
"Nggak jelas." Anila memutuskan mengakhiri perdebatan.
"Depan belok kanan. Rumah nomor 29," pinta Maliq.
Mobil terhenti pada rumah berwarna cokelat hangat. Maliq keluar dari mobil Anila tanpa mengucapkan perpisahan atau terima kasih, hanya berkata, "Tunggu sebentar."
Anila seperti terkena hipnotis. Diam tidak melawan. Menunggu Maliq dalam mobil dengan mesin yang masih menyala.
Maliq terlihat masuk ke dalam pagar rumah, sebelum akhirnya kembali keluar dengan motor yang dituntun.
"Mau ke mana lagi?" tanya Anila keheranan. Bukankah kaki Maliq masih sakit. Mau ke mana dia malam-malam begini mengendarai motor.
"Aku antar," singkat Maliq, tetapi berhasil membulatkan mata Anila.
"Hah?" Anila keheranan. "Nggak usah. Aneh banget," tolak Anila. Jelas aneh, mengantar seseorang berkendara mobil dengan menggunakan motor. Untuk apa coba?
__ADS_1
"Cepetan jalan," tegas Maliq tak terbantahkan. "Tunggu … pakai ini." Maliq memberikan jaket parasut outdoor berwarna biru kombinasi abu.
Jaket ini tidak asing. Jaket parasut unisex yang pernah Anila berikan pada Maliq saat akan hiking ke gunung Andong.
...*** ...
Saat itu Anila datang ke indekost Maliq menggunakan jaket itu. Mata Anila sembab. Maliq panik karenanya. Maliq yang sudah berpikir macam-macam, menahan tawa karena mengetahui alasan Anila menangis semalaman. Tidak mendapat izin Bunda pergi ke Gunung Andong. Sebetulnya Maliq bercanda, tetapi Anila menganggapnya serius. "Ya udah, jangan nangis lagi, ya. Jaket kamu aja siniin. Aku bawa ke Andong. Nanti kamu bisa cium bau Andong, deh, di jaket kamu."
Saran yang langsung meredakan tangis Anila dan melepas jaketnya untuk Maliq. "Titip ya, ajak dia ngopi di atas awan kayak cerita kamu."
"Iya," jawab Maliq sambil tersenyum. Ada rasa sedih tidak ada Anila ikut dengannya. Tetapi Maliq mengerti maksud Bunda yang ingin melindungi anak perempuannya.
...***...
Anila mengenakan jaket yang kini memiliki aroma khas. Bukan aroma Andong, melainkan aroma maskulin. Anila menjalankan mobilnya setenang mungkin. Tapi tidak dengan debar jantungnya. Jantungnya seperti menari-nari kegirangan. Anila tidak dapat mencegah lengkungan yang kini tercipta pada bibirnya.
Berulang kali Anila melirik pada kaca spion, memastikan kecepatan mobil memudahkan Maliq mengiringinya. Tatapan itu ternyata tidak pernah hilang. Tatapan khawatir itu. Betapa Anila merindukan perasaan ini. Perasaan senang karena dikhawatirkan. Sudah berapa lama dia tidak merasakan perasaan itu. Rasa yang tidak pernah tercipta saat dia bersama Ranala.
Sebuah lagu mengalun lirih dari radio mobil Anila. Seolah menjadi soundtrack adegan kebersamaan mereka.
Tanpa buai kata tercuri hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda
Saat bersamanya
Aku jatuh cinta
Dia seperti apa yang selalu kunantikan
Aku inginkan
Oh dia (dia, dia) melihatku apa adanya
Seakan 'ku sempurna
...***...
...Ada yang tahu judul lagunya apa?...
__ADS_1