
Anila membesarkan gambar di atas caption guna mencari wajah Ranala. Seketika mata Anila membulat saat memandang seseorang dengan jilbab biru muda. Wajah yang sangat dikenalnya, Viona ada bersama rombongan itu.
Anila kembali pada rumah industrial vintage yang kembali sepi tak berpenghuni. Matanya tertuju pada satu-satunya foto pernikahan yang dipajangnya sendiri. Dia berjalan mendekati gambar pria berbadan tegap, dengan beskap putih, rambut tipis memenuhi hampir seluruh wajah tegas, tidak ada senyuman di sana. Seolah seperti video yang kembali berputar di kepalanya.
Air mata saat akad, lagu Why Goodbye, nama Queen pada ponsel, tatapan khawatir itu, kemarahan Ranala saat Anila membuka ponselnya, kebiasaan Viona menyimpan karcis parkir, sentuhan tangan, pujian, pembelaan. Selama ini Anila menutup telinga, berusaha hanya mempercayai apa yang dilihat, atau mungkin sebenarnya Anila memilih untuk melihat apa yang hanya ingin dia lihat?
Perempuan berpashmina hitam itu tertawa miris dalam hati. Hahahaha…. ternyata perasaanku tidak salah. Oke, kalian mau bermain-main denganku? mari mainkan permainan kalian.
...***...
"Pagi, Mbak Erni," sapa Anila pada penerima tamu di kantor Ranala.
"Pa…pagi, Mbak. Loh, Pak Rana, kan, cuti, Mbak," jawab Erni heran.
"Iya, memang. Justru ini Mas Rana yang minta aku untuk fotoin berkas penting. Aku ambil di ruangannya, ya, Mbak," jawab Anila tak acuh. Tanpa menunggu izin, perempuan berpashmina hitam itu langsung berjalan santai menuju ruang kerja Ranala.
"Tapi…mbak," cegah Erni tetapi tidak digubris. Ania tetap melenggak menjauhi perempuan penerima tamu itu.
Kenapa Pak Rana nggak nyuruh Erni, ya? tanya Erni dalam hati sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian kembali duduk pada kursinya.
Mata Anila menyapu ruang kerja dengan luas kurang lebih 12 meter persegi itu. Tema industrial juga diterapkan pada ruangan itu. Lantai motif kayu dengan satu sisi dinding bata expose, sisi lainnya terdapat lemari geser motif kayu setinggi langit-langit.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, tujuan Anila adalah lemari itu. Anila yakin semua ada di sana. Benar saja, laptop Ranala ada di dalamnya. Akhirnya Anila akan tahu mengapa Ranala menyimpan laptopnya di kantor, bukan di rumah. Pasti ada sesuatu di dalamnya.
Password, dengan penuh percaya diri Anila memasukan sebuah kombinasi huruf dan angka. Kalau mau main-main jangan nanggung, tawa Anila puas dalam hati. Sesuai dugaannya, Ranala menyamakan semua sandi, mulai dari internet banking, surel, bahkan sandi laptop.
Kalian terlalu lengah karena menganggapku anak kecil yang bodoh, batin Anila sinis.
Kolom percakapan terpampang pada layar LCD itu. Segera Anila megekspor isi percakapan ke surel miliknya sambil membaca sekilas. "Woooow," seru Anila saat membaca pesan berbalas.
Queen : "Kamu harus banget ya balik?"
Ranala : "Sabar, ya. Anggap aja aku lagi dinas luar kota."
Queen : "Istri kamu ke sini. Untung aku bisa handle. Tolong jangan sampai keulang lagi. Apa kata pegawai aku kalau mereka sampai tahu kalau itu istri kamu. Aku bisa dicap aneh-aneh."
Ranala : "Kamu tenang, ya, Anila urusan aku. Maaf udah bikin kamu nggak nyaman. Tapi kita tetep umroh bareng, kan? Mami udah seneng banget, tuh."
Queen : "Jadi, dong. Can't wait. Salam buat Mami, ya. Love both of u.
Ranala : 😘
Dan banyak lagi pesan menjijikkan lainnya.
__ADS_1
Perempuan dengan wajah polos karena tidak berminat untuk memulas wajahnya sama sekali menggeleng-gelengkan kepala. Luar biasa. Playing Victim. Dia yang berulah, tetapi dia paling berduka. Terus posisi aku di mana?
Anila membuka folder dengan judul, 'Us.' Tidak diragukan lagi isinya didominasi foto Viona dan Ranala. Pose sendiri, berdua, tangan bertautan, dan … beberapa foto di mana mereka berdua sebagai pusat saling merangkul, diapit oleh wajah-wajah yang tidak asing–pegawai Ranala. "Haaa?" Anila terkejut kemudian diikuti tawa, menertawakan diri sendiri. Jadi mereka semua tahu. Jadi, yang berbohong bukan hanya Ranala dan Viona, tetapi semua karyawan Ranala. Dan…. Mami. Kalau aku harus hancur, semua akan hancur. Tangan Anila mengepal di atas meja hingga memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah. Matanya memanas, hingga meleleh bulirnya. Bukan, itu bukan air mata duka, tetapi air mata murka.
Perempuan dengan wajah memerah itu membanting pintu hingga mengagetkan seisi kantor. Semua melongok melalui kubik meja kerja masing-masing, termasuk Erni. Erni terbangun dari duduknya karena terkejut.
"Sudah selesai, Mbak?" tanya Erni ketakutan.
Tanpa menjawab, Anila berbalik dan menatap tajam ke arah Erni. Erni tahu semuanya, Anila yakin, dan dia ikut menutupi. Anila berjalan mendekati seseorang yang bertanya padanya tadi seraya berkata, "Semoga kamu nggak merasakan apa yang aku rasa." Mata Anila makin memerah menahan amarah.
...***...
"Kamu meminta aku untuk menolongmu keluar dari kubangan. Bagaimana aku bisa menolong, sementara kamu begitu menikmati bermain di dalamnya. Sekuat aku menarik, sekuat itu pula kamu bertahan. Kamu pikir aku sekuat itu hingga kamu membiarkan aku berjuang sendiri? Memahamimu, memahaminya, sekaligus menata kembali serpihan hatiku sendiri." Anila kembali berbicara pada gambar diri Ranala yang tergantung di dinding rumah.
Aku menyerah, bukan karena kalah. Tapi aku sadar diri, aku berhak mendapat sesuatu yang terpuji. Anila meninggalkan rumah industrial vintage itu, menanggalkan semua duka di sana, menata hidup yang sempat terjeda. Sekarang, semua hanya tentang Anila, Nodya Ayu Ristanila dan semua cita-citanya.
...***...
...Akhirnya Anila menyerah juga setelah dua tahun bertahan dalam kebohongan demi kebohongan. ***Menurut kalian, waktu dua tahun itu terlalu singkat atau terlalu lama, sih, untuk memberi kesempatan berubah?...
...Komen ya....🥰🥰🥰***...
__ADS_1