
Anila menghentikan mobil tepat di depan bangunan apartemen-nya. Maliq ikut menghentikan motor tepat di samping kemudi Anila.
Ada apa? Maliq bertanya dengan gestur kepalanya.
"Nothing," jawab Anila.
Maliq mendekatkan kedua alisnya heran. Biasanya Anila langsung berbelok, hanya membuka jendela kemudi dan melambaikan tangan.
"Just ... Makasih, ya," ucap Anila lagi. Ada senyum tipis terulas di bibirnya. Senyumannya menular pada Maliq tanpa disadari.
Maliq hanya menjawab dengan anggukan. Diikuti isyarat tangan agar Anila segera masuk. Agak sulit berkomunikasi di tengah jalan yang ramai hilir mudik mobil.
...***...
"Selamat istirahat, besok aku bangunin sahur." Pesan singkat masuk ke aplikasi pesan berlogo hijau di ponsel Anila.
"Nggak usah, aku nggak sahur," balas Anila buru-buru menggunakan pesan suara. Takut si pengirim terlanjur tertidur.
Ponsel Anila bergetar. Sebuah rangkaian nomor —tidak disimpan tetapi Anila hafal—memanggil.
"Halo, kenapa nggak sahur?" tanyanya to the point.
"Enggak aja. Aku nggak suka sahur. Tapi aku puasa, kok. Tenang aja," jawab Anila tanpa penjelasan lebih.
"Kamu tahu, kan, keutamaan sahur? Sahur itu mengandung berkah. Allah dan malaikat bershalawat untuk mereka yang bersahur," jelas Maliq berapi-api.
"Maliq … Maliq … aku tahu. Aku hafal. Ini hanya alasan pribadi saja, Maliq. Aku tidak membenci sunnah," jawab Anila berusaha menenangkan Maliq.
"An ...," kata Maliq jauh lebih tenang. "Jangan sampai kebencian kamu membuat Allah juga benci sama kamu. Assalamualaikum."
__ADS_1
Maliq mengakhiri percakapan tanpa menunggu Anila menjawab salam. Anila tertegun melihat ponsel yang sudah terputus. Ada perasaan bersalah karena membantah Maliq.
Perlahan Anila membuka aplikasi pesan singkat, kemudian mengetik : "Bangunin aku jam 3, ya."
Sedetik kemudian masuk balasan gambar emoticon kartun mengangkat jempol, bertuliskan : "Oke".
Anila tersenyum melihat gambar emoticon yang Maliq kirimkan. Membayangkan raut Maliq sama sumringahnya dengan emoticon itu.
...***...
Ponsel Anila berdering. Cukup dua kali nada panggil berbunyi, Anila sudah mengangkatnya.
"Iya," jawab Anila.
"Cepet juga kamu bangunnya, An."
Sesungguhnya setelah menerima balasan emoticon semalam Anila tidak dapat memejamkan mata. Ada perasaan senang bercampur rasa bersalah. Dirinya masih berstatus istri orang, tetapi memiliki kedekatan lebih pada lawan jenis. Kendati teman lama, tetap saja. Percikan-percikan aneh selalu muncul setiap berjumpa atau bertukar pesan.
"Seneng, ya, aku telfon?" goda Maliq memecah lamunan Anila.
"Biasa aja," jawab Anila sedatar mungkin. Tidak mau Maliq besar kepala karenanya.
"Oke, masak apa?" tanya Maliq.
"Belum tahu, mau lihat dulu di kulkas ada apa," jawab Anila sambil membuka kulkas. Melihat isi di dalamnya. "Ada telur, buncis, wortel, brokoli, fillet dada ayam, sama …," absen Anila seraya menunjuk satu persatu bahan yang disebutkannya.
"Omelette. Kita bikin omelette aja. Jadi menu sahur kita sama. Gimana?"
"Fine, kapan, sih, aku bisa nolak kamu?"
__ADS_1
Terdengar suara tawa puas di seberang. Seketika membuat hati Anila menghangat mendengar tawa renyah Maliq.
Anila dan Maliq sama-sama membuat omelette dengan cara yang sama pula. Anila mendikte tahap demi tahap membuat omelette ala dia. Kali ini Maliq yang menurut. Dia lebih mempercayakan cara memasak pada seseorang yang sudah berstatus istri orang. Pastilah lebih berpengalaman.
Ponsel keduanya dibiarkan menyala. Menyambungkan setiap suara yang dihasilkan pada setiap prosesnya.
"Selamat makan, jangan lupa baca niat." Maliq mengingatkan. Hening sesaat.
"Enak?" tanya Anila memecah keheningan.
"Enak. Enak banget. Apalagi kalo kamu yang masakin, ya?" rayu Maliq kemudian diikuti tawanya sendiri. "Gila, ya, aku. Godain istri orang," katanya pada dirinya sendiri.
"Salah siapa?" tanya Anila sambil menyantap omelette-nya.
"Salah kamu. Tiba-tiba muncul," elak Maliq. Kali ini Maliq yang mendengar tawa Anila. Dalam bayangan Maliq, tawa itu pasti membuat mata Anila menyipit seketika.
"Pesona aku terlalu kuat, ya," sahut Anila, dibalas cebikkan Maliq. Meskipun dalam hatinya mengamini.
"Jadi, kenapa nggak suka sahur?" tanya Maliq menghentikan tawa Anila. Terdengar Anila membuang nafas kasar.
"Eh, tahu nggak?" Maliq membuka percakapan kembali. Anila belum menjawab pertanyaan Maliq sebelumnya. "Perempuan itu punya kebutuhan berbicara 20.000 kata perhari. Kalau enggak, jadinya, ya, marah-marah, uring-uringan, gitu," jelas Maliq tanpa diminta.
"Emangnya aku suka marah-marah?" elak Anila. "Sok tahu!" Anila mencebik.
"Masih ngelak?" goda Maliq lagi. Namun kali ini tidak ada tawa Anila. Hanya nafas beratnya lebih jelas terdengar.
Anila mengumpulkan keberanian dan kekuatan untuk membuka luka masa lalu.
Bismillah. Semoga ini bisa sedikit melegakannya.
__ADS_1
...***...
......Anila sudah mulai membuka diri, nih. Kira-kira mau cerita apa, ya?......