
Sebuah rumah tua yang dicat warna-warni. Sekolah Quran Balita atau Sekuba singkatannya. Akhir pekan seperti ini sekolah libur, sehingga dimaksimalkan manfaat dari gedung untuk kegiatan lain. Seperti hari ini, Terapi Emosi dengan Al Qur'an yang akan Anila ikuti.
"Alhamdulillah Teh Anila sedang di Bandung. Jadi bisa ikut bergabung," ujar perempuan dengan jilbab lebar menjulur menutupi dadanya. Beliau dipanggil Ummi, istri dari Ustaz Rahmat yang menyambut kedatangan Anila.
"Iya, Mi. Kebetulan saya sudah ambil cuti lebih awal," jelas Anila yang tampak cantik dengan setelan kulot hijau army dan kemeja putih, ditambah aksen sabuk lebar berwarna senada dengan kulot. Sabuk yang membuat lekuk pinggang ramping Anila terlihat menonjol. Tidak lupa kerudung segi empat berwarna hijau army yang diikat di bagian leher, menyempurnakan penampilan layaknya wanita muslimah yang stylish.
"Alhamdulillah. InsyaAllah nanti akan ada empat peserta lainnya. Qodarullah kesemuanya perempuan. Jadi, nanti Ummi akan mendampingi Abi, supaya tidak kagok," kata Ummi sambil mengarahkan Anila menuju sebuah ruangan yang terletak di paling belakang bangunan.
Belum ada seorang pun di ruangan. Anila memang sudah terbiasa tepat waktu. Sehingga datang lebih awal sudah menjadi ritual yang tidak perlu diistimewakan.
Ummi sudah meninggalkannya seorang diri pada sebuah ruangan kelas. Anila berkeliling melihat beberapa foto yang terpampang. Terlihat gambar anak ompong karena karies menampilkan wajah ceria hingga matanya hampir tertutup. Ada pula anak dengan wajah berlepotan cat dengan bangga menunjukan hasil karyanya. Anila memperhatikan satu demi satu wajah penuh bahagia itu. Tanpa sadar, seutas senyum ikut merekah, seolah terbawa suasana dalam gambar.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang perempuan asing yang sama sekali belum pernah dilihat Anila. Bila benar dugaan Anila, pastilah salah satu peserta Terapi Emosi juga.
Penampilan perempuan itu begitu anggun dengan jilbab panjang menutupi badan bagian atas hingga pergelangan tangannya. Perempuan se-salehah itu masih butuh terapi emosi? Anila bertanya dalam hati. Ah, tidak usah kepo. Setiap orang tentu punya masalah. Anila pun menyapa seperlunya.
Enam bantalan sebagai alas duduk membentuk setengah lingkaran dengan meja pada masing-masing. Lima diantaranya untuk peserta, dan yang satu lagi untuk Ummi sebagai pendamping. Sementara Ustaz Rahmat tepat berada di pusat setengah lingkaran tersebut.
"Al Quran adalah asy syifa, obat. Sebagaimana tertuang pada Quran surat Yunus ayat 57. Al Quran adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam shadr–dada." Ustaz Rahmat mengawali terapi.
Anila masih ingat materi tentang hati yang pernah disampaikan Ustaz Rahmat. Shadr atau dada atau lapisan hati terluar adalah tempatnya rasa senang, sedih, nafsu, emosi, angan-angan. Sehingga Anila menarik kesimpulan bahwa terapi ini tidak lain untuk membersihkan shadr-nya agar cenderung pada hal-hal yang baik. Anila mantap tidak salah langkah kali ini, karena inilah yang dibutuhkannya. Menghilangkan emosinya pada Ranala.
Sebelum dimulai lebih mendalam, Ustaz Rahmat meminta peserta mengeluarkan alat tulis dan menuliskan nama orang yang pernah membuat luka beserta hal buruk yang sudah dilakukannya. Beliau memberi waktu dengan memutarkan sebuah musik instrumen pelan.
Anila melirik ke kanan dan ke kiri, mengintip dan bertanya dalam hati, mengapa semua bisa begitu lancar menuliskan tentang emosinya? Sedangkan dia hanya menatap kosong pada kertas putih di hadapannya dengan menggenggam erat alat tulis yang ada di tangannya. Anila benar-benar tidak mampu bahkan hanya untuk menuliskannya saja sudah sangat menyakitkan.
__ADS_1
Tanpa disadari Anila, Ummi sudah ada di sampingnya. Mendekap punggung yang bergetar menahan emosi.
"Pelan-pelan saja. Jangan buru-buru. Beri dirimu waktu untuk bisa siap melakukannya," instruksi Ummi sambil mengusap punggung Anila. "Tarik nafas dalam, bismillah, Laa Haula wala quwata illa billah. Katakan berulang sampai teteh siap, yuk. Bismillah, Laa Haula wala quwata illa billah," ulang Ummi menuntun Anila.
Hingga detak jantung Anila menjadi normal, dan memiliki kekuatan untuk menuliskan tiga nama. Ranala, Viona, dan Mami. Baru saja nama yang ditulis, pandangannya mengabur. Tetes demi tetes membasahi kertas putih yang baru dituliskan tiga nama itu.
"Teteh bisa." Ummi kembali meyakinkan Anila, dan membuat pandangan Anila kembali jelas untuk melanjutkan tulisannya.
Ranala, telah menduakan, membohongi, dan menikahiku tanpa dasar cinta.
Viona, menjadi perempuan yang mengganggu rumahtanggaku
Akhirnya Anila berhasil menuliskannya, meskipun kertas tersebut hampir bolong karena tekanan yang Anila torehkan pada setiap kata-katanya. Tetapi ada lega setelahnya.
"Alhamdulillah," syukur Ummi melihat Anila berhasil mengalahkan enggan dalam dirinya sendiri.
"Selanjutnya, silakan letakkan telapak tangan Anda di sisi." Ustaz Rahmat memegang dadanya sendiri. "Pegang shadr-nya masing-masing, tempat bersemayamnya emosi itu sendiri. Kemudian katakan, saya maafkan, sebutkan namanya, atas perbuatan, sebutkan perbuatannya," tuntun Ustaz Rahmat.
Anila memandang Ummi yang ternyata sedang menatapnya juga. Seolah Ummi mendengar isi pikirannya untuk dikuatkan kembali. Ummi kembali mendekati Anila dan mengusap punggungnya seolah memberi kekuatan. Anila terisak ketika harus menyebutkan sebuah nama–Viona. Entah mengapa, lidahnya kelu, kaku, tidak bisa meneruskan meskipun hanya membaca.
"Saya nggak bisa, Ummi. Saya belum memaafkannya. Saya nggak bisa bohong." Anila mengadu lirih di telinga Ummi.
__ADS_1
"Katakan saja, meskipun hati belum mampu. Saat kita sudah berkata, pikiran kita akan memerintahkan seluruh organ tubuh untuk melakukan apa yang sudah kita afirmasikan. Katakan berulang kali sampai teteh merasa lega."
Anila mengangguk tanda paham instruksi Ummi. Tidak lancar, tetapi Anila berusaha mengeja setiap suku kata. Kali pertama Anila membutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk menyelesaikan membaca ketiga kalimat yang dibuatnya. Kali kedua lebih cepat dan ringan hingga kali kesekian, Anila pun tidak ingat, dia seperti sedang membaca tulisan biasa tanpa arti. Cepat dan ringan tanpa beban. Seolah sesuatu yang membebaninya telah diambil.
"InsyaAllah sudah lebih lega, ya?" tanya Ustaz Rahmat yang dijawab anggukan semua peserta. Beberapa diantaranya masih mengelap jejak air mata di pipi. Beberapa sudah terlihat lebih kuat dan tegar kendati mata membengkak, seperti Anila. "Itu lah, penyakit shadr. Saat penyakit itu kita tinggalkan, hidup akan terasa lebih ringan."
"Sekarang, kita ambil wudu. Sama-sama kita salat taubat dilanjut salat hajat. Kenapa salat taubat? Karena segala keburukan yang terjadi pada diri kita tidak lepas dari dosa masa lalu yang belum kita taubati. Silakan." Ustaz Rahmat mempersilakan seluruh peserta menggambil wudu dan melaksanakan salat dua rakaat. Setelahnya, sebutkan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan.
"Ya Allah, ampuni aku karena tidak mempersungguh belajar ilmu-Mu, maafkan aku yang tidak mengerjakan syariat-Mu dan menolak kebenaran-Mu dengan segala dalih pembenaran pikiranku." Anila terus menyebutkan berbagai kesalahan yang diingatnya. Tentu tidak semua, karena yang tidak disadari tentu lebih banyak. "Aku mohon ampun atas kesalahan yang aku sadari atau tidak." Anila mengakhiri doa setelah salat taubat.
Kelima peserta sudah memegang mushaf masing-masing di tangan. Selepas salat hajat mereka diminta untuk memohon petunjuk melalui Quran. Memohon nasihat Allah melalui firman-Nya.
Satu demi satu diminta membuka mushaf dengan mata tertutup, kemudian menunjuk ayat. Setelah itu, peserta diminta membuka mata dan membacakan ayat beserta artinya. Hingga tiba giliran Anila.
Anila memohon sungguh-sungguh dalam hati, mengumpulkan keyakinan penuh pada apa yang akan dilakukannya. Berkali-kali Anila membuka, menutup kembali, dan mengulangi kembali permohonannya. Hingga pada satu titik, Anila merasa begitu yakin dengan apa yang dibuka dan ditunjuknya.
"Silakan dibaca, Teh," pinta Ustaz Rahmat.
"Surat An-Nur ayat 22," jeda Anila sebelum membacakan arti dari ayat tersebut. "Artinya, Jika kamu menyatakan suatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa." Anila menatap penuh tanya pada Ustaz Rahmat dan Ummi bergantian. Dia masih tidak terlalu paham dengan arti yang dibacakannya.
Seolah paham makna tatapan itu, Ustaz Rahmat menambahi. "Diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani yang artinya, Barang siapa memaafkan saat ia mampu membalas, maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan." Ustaz Rahmat membalas wajah heran Anila dengan senyum yang menenangkan.
"Hidup ini tidak selamanya. Ada batasnya, ada akhirnya. Sama halnya sedih, sakit juga pasti ada akhirnya. Kalau sedih, langsung ingat tujuan akhir kita. Terus saja perbaiki hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan manusia. Kerjakan hanya apa-apa yang membuat Allah senang." Ustaz Rahmat mengakhiri pertemuan.
...***...
__ADS_1