Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 14 - FLASH BACK


__ADS_3

Bismillah. Semoga ini bisa sedikit melegakan.


Anila menarik nafas panjang demi mengisi penuh paru-parunya. Berharap cukup untuk lancar bercerita, tidak tercekat karena menahan nyeri.


"Orang mungkin punya banyak memori baik tentang Ramadan, tapi aku enggak. Rasanya emang nggak adil, membandingkan dua dengan belasan kali sebelumnya. Ya, cuma dua kali aku mencicipi pahitnya Ramadhan. Tapi itu cukup membuatku ya ... nggak se-exciting orang-orang, lah." Anila terdengar hati-hati sekali memilih kata.


Maliq setia mendengarkan tanpa interupsi.


"Entah kabulnya doa atau justru penguji kesabaran, tapi keduanya sama-sama berat buat aku, Mal. Aku yang keimanannya masih segini-gininya berasa kayak … dipukul mundur."


Maliq larut dalam pikirannya sendiri, tetapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Dia sadar betul, Anila masih butuh banyak waktu untuk bisa lebih membuka dirinya.


"Ya, udah. Yang penting semua udah lewat. Sekarang kita di sini. Kan, kamu yang ngajarin aku untuk selalu mensyukuri saat ini. Kita nikmati aja hari ini, ya." Maliq mencoba menghibur. "Eh, udah azan. Siap-siap salat Subuh, yuk!" ajak Maliq.


"Oke, aku tutup, ya. Makasih udah bangunin dan nemenin sahur."


"Never mind … Assalamualaikum." Dengan berat hati Maliq menutup telepon. Berharap semoga Anila kuat menghadapi hari ini.


...***...


Ternyata membuka luka yang masih basah menghabiskan banyak energi. Terlebih Anila tidak dapat memejamkan matanya sedetikpun sedari malam.


Turun naik perasaan dalam semalam membuatnya lelah. Anila memutuskan izin tidak masuk ke kantor hari ini. Berdiam di apartemen, melakukan deep cleaning sebagai cara healing. Demi dapat mengembalikan mood-nya.


Anila mengeluarkan seluruh barang dari dalam laci, lemari, dan rak. Nantinya akan disusun kembali. Membuang barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan. Melipat kembali pakaian dalam satu ukuran yang sama. Menyusun berdasarkan jenis dan warna. Menyusun kembali buku-buku berdasarkan ukuran. Membuang beberapa kertas bukti pembayaran dan dokumen yang tidak terpakai.


Cara ini paling efektif selama lima tahun terakhir pelariannya. Pengalihan energi dan perhatian. Tidak melulu menuruti kecewa dan sedihnya.


Sebuah buku catatan kecil terjatuh diantara tumpukan barang. Anila memungut buku bersampul kulit sintetis itu. Dengan enggan akhirnya Anila membuka buku yang bertuliskan, 'Kumpulan Resep ala Ristanila.' Anila ingat dia pernah berjuang demikian gigih untuk menang.


...***...


"Kalau Ranala, sih, sukanya yang kuah-kuah, ya," jelas Viona di seberang telepon.


"Sop ikan?" terka Anila.


"Boleh dicoba, aku, sih, belum pernah masakin itu."

__ADS_1


Ada baiknya dicoba. Anila sudah mulai putus asa bertanya pada Ranala. Selalu dijawab, "Terserah … apa saja … bebas". Namun, tidak satu pun menu makanan yang bisa membuatnya lahap bahkan tambah. Ekspresinya kelewat datar. Akhirnya, Anila beranikan diri bertanya pada Viona, sahabat Ranala.


Setelah Anila menemukan resep, Anila menuliskannya di buku catatan kecilnya. Buku yang mudah dibawa kemana-mana. Isinya pun berantakan. Beberapa resep masakan dicoret dan dikoreksi setelah dipraktikkan. Ternyata tidak setiap resep bisa ditiru sama persis. Selalu ada improvisasi sesuai selera orang yang memasak itu sendiri.


Awalnya sulit, Anila bahkan tidak tahu perbedaan fisik antara jahe dan lengkuas. Terlebih lagi perbedaan kegunaanya.


Anila membeli seluruh bumbu dapur. Jahe, lengkuas, kunyit, kencur, ketumbar, merica, pala. Kemudian mencicipinya satu persatu. Sehingga saat memasak nanti dia bisa mengira-ngira apa yang perlu ditambahkan untuk sebuah dominasi rasa.


Berhasil? Tentu tidak semudah itu. Ikan yang masih amis, ayam yang masih ada darah di bagian dalam, rasa kuah yang getir karena bawang putih belum matang, dan masih banyak kegagalan yang memaksa Anila menghabiskan makanannya sendiri. Daripada dibuang, mubazir, pikirnya.


Belajar dari banyak kesalahan, Anila mulai bisa dan terbiasa. Anila punya resep andalan kesukaan Ranala, kari ayam. Kali pertama Anila mendapat pujian tentang masakannya.


"Hemm, enak, nih. Resep dari mana? Kayak masakannya Viona," tanya Ranala saat mencicipi kuah kari. Ranala hafal, bahwa Anila rajin mencoba resep dari berbagai sumber.


Tidak dapat dipungkiri, resep kali ini salah satunya karena bocoran dari Viona. Ada rasa senang berhasil membuat makanan yang Ranala sukai, tetapi ada satu sisi hati Anila yang merasa ... cemburu?


Sekuat tenaga Anila menampik rasa itu. Dia harus percaya pada Ranala. Dan Viona? Dia bukan tipe perempuan nakal yang suka menggoda suami orang. Anila bisa merasakannya, dia orang baik.


Hingga saat itu tiba. Buka puasa bersama di rumah Mami Ranala. Anila menawarkan diri untuk memasak, dan tentu saja Mami mengamini.


Rawon Surabaya. Makanan khas kampung halaman Anila. Sesungguhnya Anila mengambil resiko yang besar. Memasak makanan Jawa timur untuk orang Sunda. Resep dari Nenek yang diturunkan pada Bunda. Bunda yang meyakinkan bahwa resep ini tidak pernah gagal.


"Eh, Papi ... Papi suka rawon, nggak?"


"Suka, dong. Papi, kan, lama kuliah di Surabaya. Tinggal di rumah kakek kamu bareng sama Ayah. Kalau nggak rawon, ya penyetan makanannya. Kangen Papi sama masakan Surabaya."


"Semoga rawonnya sesuai ekspektasi Papi, ya," kata Anila sambil mengaduk-aduk bumbu halus yang sudah dimasukkan ke dalam panci.


Meja makan jati dengan delapan tempat duduk. Lima diantaranya sudah diduduki. Papi di ujung. Mami dan Ranala saling berhadapan. Sementara Anila di samping Ranala berseberangan dengan Anna, adik perempuan Ranala.


Anila menyajikan rawon lengkap dengan telur asin, tauge kecil, dan emping sebagai pelengkap.


Mami menata meja dengan enam placemat atau alas piring. Anila sempat bertanya-tanya, siapa tamu yang akan datang. Hingga bel berbunyi, seolah menjawab pertanyaan Anila.


"Biar Mami aja." Dengan semangat Mami bangkit dari tempat duduknya dan membukanan pintu.


"Assalamualaikum," sapa suara perempuan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, akhirnya si geulis datang juga. Kirain nggak akan datang. Boro Mami udah kecewa."


"Datang, dong, Mi. Jalan macet banget jam-jam buka puasa," jelas suara perempuan di teras. "Oh, ya. Ini, Viona nggak bawa apa-apa. Cuma bawa pepes kesukaan Mami."


Deg! Viona? Viona diundang juga? Anila pikir, ini hanya acara keluarga. Fakta baru yang cukup mengejutkan Anila. Ternyata Viona tidak hanya dekat dengan Mas Rana, tapi juga keluarga Ranala.


Anila dan Anna kompak berdiri menyambut Viona. Namun tidak dengan Adrian. Tanpa menyapa Viona, Adrian berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Sementara Ranala, seperi biasa. Ranala kurang ekspresif memang, jadi agak susah menebak pikirannya. Hanya senyum sesekali saat menatap Viona.


"Na, pindah!" Mami menyenggol Anna yang bergeming di tempat duduknya. Memberi gestur pada Anna untuk memberikan tempat duduknya pada Viona. Anna sempat mencebik dan beralih di sebelah Anila setelah Anila menepuk kursi di sampingnya.


"Pi, udah azan. Buka, yuk," panggil Anila sambil mengetuk pintu kamar Papi Adrian.


"Iya, Nak."


Semua makan dalam diam. Menikmati menu makanan yang disediakan. Papi lahap menyantap rawon buatan Anila. Sementara Mami yang orang Sunda asli lebih memilih pepes ikan yang dibawa Viona.


"Aneh, kuahnya item," tolak Mami.


Anila sudah biasa dengan komentar orang awam tentang rawon. Jadi tidak ada sakit hati. Yang terpenting Ranala mau mencicipinya. Ranala suka, meskipun kuah rawonnya berlaukkan pepes ikan. Emang enak, ya, campur-campur begitu?


"Pi, Mi, Viona pamit dulu ya."


"Loh, langsung pulang?" tanya Mami.


"Iya, biar nggak kemaleman. Makasih untuk undangannya." Viona mencium punggung tangan Mami yang dijulurkan. Mami membalas dengan mencium kening Viona.


Viona beralih ke depan Papi mengambil tangan Papi yang tidak juga terjulur. Menunjukkan ketidaksukaannya pada Viona. Jelas terlihat, Papi sama sekali tidak mengajaknya bicara.


"Rana, antar Viona ke depan," perintah Mami.


Ranala mengekor di belakang Viona menuju pintu depan. Spontan Anila menyejajarkan jalannya di samping Ranala. Ikut mengantar Viona. Anila merasa sudah sewajarnya dia tidak membiarkan suaminya berduaan dengan lawan jenis, sekalipun sahabat.


"Aku pulang, ya," pamit Viona.


Anila mendekatkan diri pada Viona. Sedikit berjinjit mengimbangi tinggi Viona, terlebih dia menggunakan sepatu hak tinggi. Anila menempelkan pipinya pada pipi Viona.


"Hati-hati, ya, Teh," pesan Anila yang dibalas anggukan.

__ADS_1


Anila berbalik membelakangi Viona, menghadap Ranala yang berdiri di belakang mereka. Tinggi Anila yang hanya seleher Ranala, menangkap sesuatu dari ujung matanya.


Ranala sedang berisyarat pada Viona melewati pandangan di atas kepala Anila. Isyarat tanpa suara, hanya gerak bibir yang terbaca tidak sengaja, "Nanti aku telfon."


__ADS_2