Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 20 - QUEEN?


__ADS_3

Tergeletak ponsel Ranala di atas nakas dalam keadaan mati. Benar, ponsel Mas Rana mati. Anila menyambungkan ponsel pada sumber listrik, setelahnya muncul level meter baterai menunjukan angka 71%.


Baterai ponsel Mas Rana masih penuh. Kenapa mati? Apa ponselnya error. Sehingga menunjukkan daya baterai yang tidak sesuai?


Anila menghidupkan ponsel yang tidak terkunci. Ranala memang tidak pernah mengunci ponselnya, begitu pun Anila. Tidak pernah memeriksa ponsel suaminya.


Masuk beberapa pesan termasuk dari Anila saat ponsel dinyalakan. Ponsel dalam mode diam itu tidak menimbulkan bising, hingga sebuah pesan baru muncul pada tampilan awal.


Queen : "Thank's for today. Selamat istirahat."


**


Rana! Ranala!" teriak Papi dari luar kamar. Mungkin Papi melihat mobil Ranala di luar, sehingga tahu bahwa anaknya sudah pulang.


"Keluar!" Teriakan Papi membuat Ranala menggerakan kakinya, kemudian tangannya. Matanya berkedut sebelum akhirnya membuka sempurna.


Anila yang melihat pergerakan Maliq reflek menekan lambang tempat sampah, mengakibatkan terhapusnya pesan dari seseorang yang bernama Queen–seseorang dengan foto profil kaki putih bersepatu wedge. Foto profil yang sama dengan Viona.


"Hmm... Ada apa, sih? Kok ribut?" tanya Ranala dengan suara berat khas orang bangun tidur. Masih dalam posisi tertelungkup.


Anila sudah meletakkan ponsel Ranala kembali pada tempatnya semula, bahkan sempat mencabutnya dari sumber daya.

__ADS_1


"Nggak tahu," jawab Anila dengan menggeleng cepat karena panik. "Aku keluar, cari tahu ada apa." Anila memutuskan bersegera keluar dari kamarnya, sebelum Papi mendobrak, merusak pintu.


"Kenapa, Pi? Mas Rana lagi…." Saat Anila hendak menutup pintu kembali, Papi mendorong masuk.


"Pi!" teriak Mami. "Inget, bulan puasa. Sabar."


"Dari mana kamu?" tanya Papi tidak mengacuhkan peringatan Mami maupun kondisi Ranala yang masih setengah sadar.


"Apaan, sih, Pi?"


"Dari mana?!"


"Kayak gini kelakuan kamu setiap hari? Bertingkah kayak masih single. Mengabaikan istri kamu. Kasian Anila. Semalaman dia nggak tidur nungguin kamu. Semalaman dia nangis khawatirin kamu."


Deg. Anila terkesiap mendengar ucapan Papi. Padahal sebisa mungkin dia bertindak biasa, tetapi ternyata Papi menyadari keresahannya.


"Apa, sih, Pi? Ayo!" Ranala menarik pergelangan tangan Anila, menyeretnya berjalan cepat melalui Papi dan Mami. Tangan berambut lebat itu meraup kasar ponsel sekaligus kunci mobil, kemudian membanting pintu kamar dari luar. Mereka pergi meninggalkan Papi dan Mami yang diam tertegun menyaksikan adegan secepat kilat itu.


...***...


Berulang-ulang Anila menghapus air mata yang tidak bisa dicegahnya keluar. Baginya, Papi Adrian sudah seperti orang tuanya sendiri. Ada perasaan sakit menyaksikan Papi diperlakukan kasar oleh suaminya. Namun, di lain sisi, dia pun kasihan Ranala.

__ADS_1


"Ini, nih. Yang bikin aku males pulang." Ranala memukul setir kemudi. "Papi nggak pernah bisa ngertiin aku."


Tenggorokan Anila sakit. Tidak bisa mengeluarkan pembelaan untuk Papi. Dalam batinnya, Papi mungkin tidak akan semarah itu kalau Ranala bisa dihubungi dan tidak membuat Anila menunggu semalaman.


Dengan tenggorokan yang tercekat, Anila hanya mampu meraih tangan lain Ranala yang memegang tuas persneling. Mengusap punggung tangan putih dengan urat menonjol itu tanpa bisa berkata-kata. Mendekatkan pada pipinya, dan menempelkan telapak dingin itu padanya. Semoga ini mampu meredakan amarah Ranala.


Berangsur nafas cepat Ranala melambat, hingga ritmenya menjadi normal. Bersamaan dengan air mata Anila yang sudah dapat disumbat.


Ranala sudah mengemudi dalam keadaan lebih tenang. Kecepatan kendaraan rata-rata membelah hiruk pikuk pasar tumpah minggu pagi. Wajah Ranala kembali datar, tidak ada lagi amarah terpancar. Anila memutuskan ini waktu yang tepat untuk bicara.


"Mas," panggil Anila. Akhirnya Anila berhasil mengeluarkan suara yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya.


"Hmm?"


"Tadi ada pesan," Anila memberitahu.


"Dari?" tanya Ranala. Alis tebalnya makin menyatu, hingga tak berjarak.


"Dari... Queen." kata Anila naif.


...***...

__ADS_1


__ADS_2