
Anila bergegas keluar dari mal tempat diselenggarakannya pameran. Bertolak kembali ke Jakarta. Malam ini adalah malam penghargaan. Penghargaan untuk The Best Employee Of The Year. Tahun lalu Anila berhasil mendapatkannya. Tahun ini pun dia digadang-gadang sebagai calon terkuat penerima penghargaan itu kembali. Strategi pemasaran Anila selalu tepat guna. Target jauh terlampaui. Bagi hasil akhir tahun melonjak berkali lipat.
Anila tidak pernah perhitungan tentang jam kerja. Dia rela bekerja melampaui waktu, bahkan di hari libur, tanpa dihitung lembur. Dedikasi dan loyalitasnya tidak diragukan.
Anila melaju dengan kecepatan rendah. Jalanan padat di akhir pekan. Terutama tempat-tempat wisata seperti Bogor.
Tempat wisata … Bogor … Viona. Anila mengembus nafas masygul.
***
“Selasa besok kamu ada acara?” tanya Ranala di Minggu pagi.
“Mas ini ngejek aku atau apa, sih?” Anila memajukan bibirnya cemberut.
“Loh, Mas, kan, cuma nanya. Siapa tahu kamu udah punya rencana, begitu. Emang salah, ya?” tanya Ranala heran melihat istrinya cemberut.
“Aku, kan, pengangguran, Mas.”
“Mahasiswi …,” ralat Ranala. “Kan, belum lulus,” lanjut Ranala menggoda.
“Mas Rana ini mau ngehibur atau ngejek aku, sih?” Anila semakin kesal.
Ranala terkekeh melihat marahnya Anila yang menggemaskan.
“Emang mau ada apa Selasa nanti?” tanya Anila. Sepertinya kesalnya sudah menghilang. Cepat sekali marahnya reda.
“Jadi gini.” Ranala berdiri dari sofa kulit hitam di depan Anila. Berpindah ke samping Anila. Memegang paha atas Anila. Sedikit penjelasan. Ranala itu tipikal orang yang suka menyisipkan physical touch dalam komunikasi. Jangan ngeres dulu, physical touch di sini itu seperti tos, fist bumb, menepuk pundak, mengelus kepala. Ya ... hal-hal seperti itu, biasanya untuk memfokuskan perhatian lawan bicara. Ilmu-ilmu public speaking gitu, lah.
Duh, bulan puasa. Anila panik. Kali ini bukan lagi desiran, tetapi lebih kuat. Ada setrum yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Perut kosongnya karena puasa terasa penuh. Bukan penuh dengan makanan, tetapi dengan benda terbang entah apa.
“Masih inget, kan, Viona pernah bilang mau ngajak buka puasa?”
Anila beranjak mengambil majalah di meja. Berharap bisa membuat tangan Ranala lepas dari pahanya. Usahanya berhasil. Ranala menarik tangannya agar tidak menghalangi gerak Anila.
“Iya inget,” jawab Anila singkat.
“Nah, Selasa besok Viona libur. Dia mau ke Bandung, sekalian buka puasa bareng.”
“Wah, ayo. Boleh,” seru Anila kegirangan.
“Tapi …,” ragu Ranala.
“Tapi?” tanya Anila meminta Ranala meneruskan kalimatnya.
“Viona pengen minta tolong sama kamu. Boleh?”
“Minta tolong? Aku? Emang aku bisa apa?” tanya Anila heran.
“Viona bilang, dia seneng lihat cara kamu berpakaian. Dia seneng lihat cara kamu pakai kerudung dan baju panjang. Nah, Selasa besok sebelum buka puasa, dia minta tolong anterin belanja baju muslim. Temenin dia ya. Sekalian ajarin pakai kerudung. Biar bajunya nggak kebuka-buka gitu. Risih Mas lihatnya.”
“Oalah, gampang itu mah. Serahkan sama Anila.” Anila menyombongkan diri dengan menepuk dadanya.
***
__ADS_1
Notifikasi pesan masuk terdengar. Cepat-cepat Anila mengeluarkan benda pipih hitam dari dalam tas selempangnya. Anila membaca dan menyunggingkan senyum bahagia.
Pesan dari Teh Viona : An, aku udah deket ya.
Tanpa menunggu dan berpikir panjang, Anila mengetik : Oke, Teh. Aku udah di lokasi.
Bersemangat, itu perasaan Anila saat ini. Viona adalah teman hangout pertama Anila di Bandung. Selama ini temannya hanya tukang sayur, ibu warung, mas-mas gas dan galon. Mentok-mentok satpam komplek.
Sehabis sahur Anila sibuk memilih baju yang tepat untuk dipakai seharian bersama Viona. Keliling berbelanja sekaligus buka puasa bersama di resto hotel. Harus pakaian yang nyaman di siang hari, sekaligus semi formal untuk malamnya.
Pashmina hitam andalan menutupi mahkota. Kaus putih polos dengan luaran earth-tone flannel. Scuba kulot hitam sebagai bawahan. Sepatu kets putih sebagai penyempurna. Tidak lupa tas selempang sedang cukup memuat ponsel, dompet, dan mukena parasitnya. Sesederhana itu.
Suara klakson mengagetkan Anila. Anila memicingkan mata untuk melihat lebih jelas si pengendara. Kaca mobil turun. Viona melambai dari dalam, meminta Anila bergegas masuk. Terlalu lama mobil berhenti bisa mengakibatkan kemacetan panjang.
Anila berlari kecil mendekat, kemudian duduk di samping kursi pengemudi. Memasang seatbelt sambil spontan melihat ke kursi penumpang belakang. “Ade nggak ikut, Teh?” tanya Anila setelah melihat kursi belakang kosong.
“Enggak, lah, An.” Viona melajukan mobil setelah mengecek melalui spion tengah dan samping kanan. “Bisa heboh kalo dia ikut. Enggak jadi belanja kita, malah yang ada ngejar-ngejar dia,” lanjut Viona diiringi kikikan anggun.
Cantik untuk perempuan seusianya. Dress kemeja biru langit garis-garis horizontal putih selutut. Menampakkan kulit putih meratanya. Rambut dicepol sembarang dengan aksesoris scraft yang ditali simpul sederhana dibagian atas kepala. Siapa yang mengira dia perempuan dengan anak yang hampir seusia Anila.
“Oke, ke mana kita sekarang?” tanya Viona membuyarkan kekaguman Anila pada perempuan matang di sampingnya.
“Dari yang deket dulu ya, Teh. Kita ke Jalan Sulanjana. Di sana ada beberapa toko baju muslim. Kita jelajahi semuanya!” seru Anila bersemangat.
“Hahahaha … siap, Bos! Let’s go!” seru Viona tidak kalah bersemangat diiringi tawa renyahnya. “Wait. Hampir aja lupa. Mampir ke Skin Care Salon dulu ya. Aku udah chat dokternya, tinggal ambil aja, kok. Don’t worry.” Tawa renyahnya berganti senyum yang sesaat menghilang. Berganti dengan mata yang fokus pada kondisi jalan, dan tangan yang lihai memutar setir. Sepertinya Viona sudah sangat familiar dengan jalanan di Bandung.
“Teteh enggak puasa?” tanya Anila memecah keheningan. Melihat ada beberapa kotak berisi buah-buahan.
“Iya, aku bocor tadi pagi. Sebel deh.” Viona memajukan bibirnya. “Maaf ya,” sesalnya.
“Itu bekasnya, belum habis, sih.” Viona menunjuk dengan kepala. Sementara mata Viona tetap lurus menatap jalanan. “Nanti sambil jalan nggak apa-apa, ya, kalau aku makan?”
“Enggak apa-apa, lah, Teh. Aku, kan, bukan anak kecil yang gampang kegoda sama makanan. Eh, tapi Teteh yakin makan itu aja? Nggak mau mampir beli yang agak berat, gitu? Roti?”
“No … I’m just eating real food, An.”
Anila menautkan alisnya tanda kurang mengerti.
“Kan aku udah nggak muda lagi, An. Almost 40. Metabolisme udah nggak se-OK perempuan usia 20 tahunan. Jadi harus jaga pola makan. Ya itu, deh, makanan aku.”
“Emang kenyang, Teh?” tanya Anila penasaran.
“Kalau udah biasa, kenyang-kenyang aja,” jawab Viona masih menyunggingkan senyum cantiknya.
Bibir Anila membulat. Pantas saja, Viona sangat cantik di usianya. Merawat diri dengan menjaga pola makan, skin care rutin. Ah, beruntung sekali suami Viona. Suami? Baik Viona dan Ranala tidak pernah menyinggungnya.
“Yuk, turun,” ajak Viona menyadarkan Anila bahwa mereka sudah sampai.
“Iya, Teh,” setuju Anila.
Toko berpendingin dengan alunan musik rohani. Menemani pengunjung memilah ratusan baju muslim yang terpajang rapi. Anila dan Viona berpencar tidak terlalu jauh. Meneliti, mengusap bahan, hingga membayangkan saat dikenakan.
“Kamu suka warna apa, An?” tanya Viona pelan.
__ADS_1
“Em, aku, kan, item, ya, Teh. Jadi aku pedenya pakai warna-warna earth tone, gitu.”
“No. Kamu enggak hitam. Hanya mungkin em…butuh sedikit perawatan biar kulitnya kelihatan sehat.” Viona menelisik dari atas kepala hingga kaki Anila. Membuat Anila agak risih.
“Jadi, teteh udah dapet bajunya?” Anila mengalihkan pembicaraan.
“Yup, ini … ini … ini … Kalau ini bagaimana, ya?” Viona menunjukkan beberapa baju pilihannya.
“Bagusnya sih kalau awal pakai hijab, pilihan warna bajunya yang netral aja dulu, Teh.” Anila memberi saran. “Biar kalau bajunya masih itu-itu aja, enggak kelihatan kentara gitu. Nah, jilbabnya deh yang varian warnanya lebih banyak. Gimana?” tanya Anila memastikan sarannya dapat diterima Viona atau tidak.
“Iya, juga sih. So, hijau ini nggak oke? Pink ini juga nggak oke?”
“Bukan nggak oke, Teh. Nanti, ya, bertahap.” Anila mengusap punggung Viona.
“Ya, udah. Aku nurut kamu aja, deh.”
Anila membalas dengan senyum.
Anila mengepaskan beberapa baju lengan panjang pada tubuh Viona. Memilihkan beberapa warna netral.
“Oke. Done.” Anila puas dengan beberapa baju pilihannya. Viona pun setuju. Viona lebih bersemangat memilih pashmina dengan hampir semua warna, berbagai bahan, dan motif. “Teh, are you sure?” tanya Anila begitu melihat tumpukan jilbab pilihan Viona.
“Ini bukan untuk aku semua, An.” Viona merogoh tas belanjaannya. “Ini untuk kamu.” Viona memberikan dua pashmina berwarna biru muda dan salem. “Kita kembaran!” Viona semangat menunjukkan dua pashmina sama persis dengan yang diberikan pada Anila.
***
Dengan pashmina sama, Anila dan Viona tiba di parkiran hotel. Tuas rem tangan ditarik, mesin dimatikan. Viona melepas seatbelt, dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya. Dalam diam dia menggulirkan ponselnya.
“Oke, Ranala udah nunggu kita di dalam,” sahut Viona kemudian.
Anila mengalihkan pandangan pada ponselnya. Tidak ada notifikasi pesan masuk dari Ranala. Mengapa Ranala justru mengabari Viona?
“Hai, udah lama nunggunya?” Viona menarik kursi pada meja bundar.
“Enggak juga,” jawab Ranala singkat. Pandangannya bergantian melihat Viona dan Anila seraya berkata, "Kalian…," kemudian jeda dan kembali menatap Viona lebih lama, “Cantik.”
“Ah, thank you.” Viona tersipu. Anila yang dandanin aku.
Ranala menyadari mereka tidaklah berdua. Ada Anila yang sudah duduk di sampingnya. Duduk dalam diam. Merasa asing sendirian.
“How's your day?” Ranala menepuk paha Anila, menyadarkan Anila bahwa pertanyaan itu tertuju untuknya.
“Great, Mas.” Anila tidak dapat menyembunyikan senyum getirnya.
Allahuakbar … Allahuakbar…
Alhamdulillah
“Kalian buka, dulu, gih.” Viona menyodorkan dua mangkuk kolak pisang.
Satu mangkuk kolak pisang tandas sebagai pembuka. Anila berdiri pamit untuk mengerjakan salat magrib. “Mas, salat dulu, yuk,” ajak Anila.
“Aku nanti, kamu duluan aja. Aku ada perlu dulu sama Viona.”
__ADS_1
***