
"Maliq?" Anila setengah memekik dan melebarkan matanya. "Kamu ngapain kaya setan begitu?"
"Sembarangan. Bulan Ramadhan setan juga di rante, kali. Kunci!" seru Maliq sambil mengangkat tangan, gestur meminta.
"Mal, aku udah kesiangan. Jangan macem-macem, deh."
"Ya, makannya, ayo berangkat. Cepat! Mana kuncinya!"
Perempuan yang masih membawa dua tas di tangannya mengernyit tanda tidak mengerti.
Laki-laki bertopi itu seolah bisa membaca raut heran muka Anila. "Aku bosen, An. Sabtu, nggak ada kerjaan, nggak ada temen. Aku ikut ke Bandung, ya?" Wajahnya memelas. Membuat Anila tidak bisa menolaknya.
"Fine. Nih!" ujar Anila seraya melemparkan kunci ke arah Maliq.
"Woooo… untung reflek aku masih bagus." Maliq berhasil menangkap kunci yang tiba-tiba dilempar Anila.
...***...
Angka petunjuk kilometer semakin membesar. Pertanda semakin dekat dengan tujuan. Manik mata Anila terpaku pada pepohonan yang seolah berlari menjauh satu demi satu.
Rute ini, jalan ini, tidak banyak berubah, hanya perbaikan kecil di sana-sini. Rute yang pernah Anila tempuh dua hingga tiga kali balikan dalam sepekan. Lelah? Sudah barang tentu. Perempuan yang masih duduk di bangku kuliah tingkat akhir itu, harus ke Jakarta menyelesaikan kewajiban sebagai mahasiswi, sekaligus menunaikan kewajiban sebagai istri di Bandung.
Cinta yang besar, hanya itu sumber kekuatan Anila bertahan.
"An, ini kita ngikutin petunjuk arah aja?" tanya Maliq memecah lamunan Anila.
"Iya, nanti kalau udah kilometer 120an, cari tulisan petunjuk Pasteur. Kita keluar tol Pasteur."
"Oke." Maliq memberi jeda sesaat, "Kamu…nggak apa-apa?" tanya Maliq lembut.
Anila menggeleng seraya memalingkan pandangannya dari Maliq. Dia tahu, dia tidak akan pernah bisa berbohong pada Maliq. Maliq terlalu mengenalnya. Berbohong sambil menatap Maliq, sama saja seperti mengakui kebohongan di depan mata.
__ADS_1
"Kalau emang nggak apa-apa, ngobrol, dong. Diem-diem aja. Ada Nicholas Saputra di samping dianggurin," gurau Maliq.
"Idih, jauh," cemooh Anila. Meskipun tidak dapat dipungkiri, siluet wajah Maliq–tampak samping, memang mirip Nicholas Saputra. Hanya saja rambutnya yang gondrong serta kulitnya yang kecokelatan membuatnya terlihat lebih…gagah.
"Kenapa? Terpesona lihat Nicholas Saputra?" ucap Maliq tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Anila mengerjapkan mata, tidak menyadari sudah berapa lama terpaku menatap laki-laki gondrong di samping.
"Asli jauh, Maliq." Anila salah tingkah, memalingkan wajahnya menatap jendela.
"So… Apa yang bikin kamu…cemas?"
"Sorry," sanggah Anila. Seingatnya sedari tadi dia tidak mengutarakan kecemasannya.
"Nggak usah bohong sama aku, An. Percuma. Kamu, tuh, ya. Ibarat buku yang kebuka. Ke…ba…ca. Cuman aku aja yang males baca sampe akhir untuk tahu kamu kenapanya."
"Emang iya?" Perempuan berambut kecokelatan itu membuka cemin pada Sun Visor dan menilik wajahnya. "Ah, enggak," elak Anila.
"Nggak akan kelihatan di cermin. Lihatnya 'kan pakai ini." Maliq memberi gestur dengan memegang dada kirinya, tempat jantungnya berada.
Anila mencebik, meskipun dalam hatinya membenarkan semua ucapan Maliq.
...***...
Pelukan pertama dari seseorang selain keluarga, membuat Anila menaruh kepercayaan penuh pada Ranala. Percaya bahwa Ranala akan benar-benar belajar mencintainya.
"Assalamu'alaikum, Mba Erni," sapa Anila pada penerima tamu di meja depan kantor Ranala.
"Wa'alaikumsalam, Bu Anila," jawab Erni seraya bangkit dari duduknya dan mengangguk sopan.
"Jangan Bu, dong, Mbak. Mbak Erni, 'kan, lebih senior dari saya. Panggil aja…Mbak Anila, gimana?" usul Anila.
Seseorang yang disebut Erni merasa sungkan, "Baik, Bu, eh, Mbak," ralatnya.
__ADS_1
"Mas Rana ada, Mbak?"
"Ada, sih. Tapi kayaknya lagi ada tamu. Cuman Erni nggak tahu siapa tamunya. Tadi pas tamunya datang, Erni lagi di kamar mandi," jelas sang penerima tamu.
"Oh, ya, nggak apa-apa. Saya tunggu di sini aja sama Mbak Erni boleh?" tanya Anila ramah sambil menarik kursi di depan meja penerima tamu.
"Boleh, dong, Bu, eh, Mbak," jawab Erni meralat kata sapaan untuk Anila. "Justru Erni seneng ada temen ngobrol. Di sini cuman Erni pegawai perempuannya." Maklum perusahaan IT, sangat langka makhluk berjenis kelamin perempuan.
"Mbak Erni udah nikah?" tanya Anila kemudian mencari bahan pembicaraan.
"Udah, Mbak," jawab Erni yang sudah mulai terbiasa dengan kata sapaan Mbak. "Udah punya buntut lagi," lanjutnya.
"O ya? Berapa?"
"Baru satu, Mbak. Eh, ngomong-ngomong tentang nikah, Mbak Anila kok bisa, sih, dijodohin sama Pak Ranala? Kayak jaman Siti Nurbaya aja, deh, Mbak."
Deg. Sebuah kalimat narasi yang sangat Anila hindari, tentang penjelasan bagaimana awal pernikahan mereka–dijodohkan. Bagi Anila kata dijodohkan mengandung konotasi negatif; dipaksa, diwajibkan, diharuskan melakukan pernikahan. Sedangkan Anila melakukan atas dasar keikhlasan, kesadaran penuh, dan rasa cinta.
Lalu siapa yang menghembuskan rumor perjodohan di kantor Ranala. Tempat yang Anila sendiri tidak terlalu familiar. Mungkinkan Mas Rana?
"Nah, itu dia Pak Ranala sudah ke…," kata Erni tercekat, seketika menghentikan kalimatnya.
Anila lantas melihat ke arah Erni, mencari tahu kenapa Erni menghentikan kalimatnya. Namun, dia malah menemukan sebuah pemandangan. Pemandangan di mana Erni membulatkan matanya sempurna, menatap pada satu titik tanpa berkedip.
Anila mengikuti arah penglihatan Erni. Dilihatnya pria dengan kemeja biru tua, ah, tentu saja, prianya, Ranala. Namun seseorang mengekor tepat di belakang Ranala.
Perempuan dengan sepatu wedge, membuat tingginya hampir menyamai Ranala. Berjalan santai dari ruangan Ranala. Langkahnya terhenti setelah maniknlnya bertemu dengan manik mata Anila.
"An," sapa Ranala dan perempuan berambut hitam sepinggang itu kompak. Sama kompaknya dengan pandangan mereka kepada Anila. Pandangan yang Anila sendiri sulit untuk mengartikan.
...***...
__ADS_1
...Ada yang bisa tebak siapa perempuan berambut hitam sepinggang itu? ...
...Habis ngapain, ya, sama Ranala sampai Erni keselek begitu? ...