Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 25 - ANILA'S POWER


__ADS_3

...Bab ini mengandung emosi yang diaduk-aduk. Siapkan jantung agar tetap aman. Enjoy it....


"An," sapa Ranala dan perempuan berambut hitam sepinggang itu kompak. Sama kompaknya dengan pandangan mereka kepada Anila, pandangan yang Anila sendiri sulit artikan. 


"Mas Rana," jawab Anila, kemudian sedikit melongok ke balik punggung Ranala. "Teh, Viona." Anila memaksakan senyum ramah, mengangguk pada sosok di balik punggung Ranala.


"Ada apa?" tanya Ranala seraya bergerak menutup pandangan Anila pada perempuan berambut hitam sepinggang di belakangnya. 


"Nggak ada apa-apa. Tadi aku chat Mas Rana, pengen buka bareng di luar. Tapi karena lama nggak ada jawaban, ya, udah, aku susul ke sini," jawab Anila sambil memajukan bibirnya manja yang dibuat-buat olehnya. Jelas sangat bukan Anila.


"Buka?" Ranala melihat jam tangan yang melingkar pada tangan berbulunya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima. "Oh, iya, udah mau buka, ya." Ranala berbalik, "Kita buka dulu, ya," ajaknya pada Viona yang masih terpaku sejajar di belakangnya. 


"Oh, iya, boleh," jawab Viona kikuk. 


Kedekatan Viona dan Anila bukan sekadarnya. Mereka dekat, sangat dekat. Komunikasi mereka begitu intens, hingga terkadang Ranala mengetahui informasi tentang Viona melalui Anila. Sebaliknya, Anila banyak tahu tentang Ranala dari Viona. Viona perempuan komunikatif, mudah menceritakan hal-hal yang memang ingin Anila tahu. Makanan, minuman, hingga genre film kesukaan Ranala.


Namun mengapa, kali ada perasaan tidak suka menodai hati Anila. Ketidaksukaan pada kedekatan Viona dengan Ranala yang seolah mengabaikan dirinya. 


"Tapi mobil aku masih di car wash." 


"Ya, udah, naik mobil aku aja," tawar Viona. "Gak apa-apa, kan, An?" 


Anila mengangguk terpaksa. Sebenarnya dia hanya ingin buka puasa berdua saja dengan Ranala. Dengan harapan, semakin banyak waktu bersama, semakin cepat mereka saling mengenal, semakin mudah timbul benih-benih cinta diantaranya. 


"Ini." Seperti sudah reflek, Viona menyerahkan kunci ke tangan Ranala. 


Dengan jelas perempuan berkemeja flannel itu melihat jemari Ranala dan Viona saling bersentuhan saat memberikan kunci. Rasanya tidak perlu se-kena itu. Ada panas yang menjalari tubuh Anila. Panasnya terasa hingga bulir matanya ingin meleleh. 


"Anila duduk di depan aja," saran Viona mempersilakan dengan hangat. 


Tanpa basa-basi dan penolakan, Anila mengambil tempat di samping kursi kemudi yang diduduki Ranala. Memang sudah seharusnya aku yang ada di samping Ranala, gerutu Anila dalam hati. 


Perempuan berpashmina hitam dengan kemeja flanel oversize mengikatkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Spontan dia memperhatikan gerak-gerik Ranala yang ada di sisinya. Rasanya ingin protes, karena mengikutsertakan Viona pada rencananya. 


Mata Anila membesar disertai kerutan pada dahi, saat menyaksikan Ranala langsung mengambil karcis yang tersimpan di dalam dompet STNK. Bagaimana Mas Rana bisa tahu kalau Viona menyimpannya di dalam sana? Semakin lama, semakin banyak tanya tentang kedekatan Ranala-Viona.


"Mau makan di mana?" tanya Ranala setelah menyerahkan karcis parkir pada pos jaga. 


"Rumah Makan Sunda," jawab Anila bersamaan dengan Viona yang menjawab, "Suki."

__ADS_1


"Rumah Makan Sunda, Mas!" tegas Anila mengulang keinginannya tanpa mempedulikan perempuan di bangku belakang. Anila ingin menunjukkan power-nya. 


"Rumah Makan Sunda juga enak," kilah Viona. 


Mobil melaju dalam hening, tidak ada satu pun yang bersuara. Suasana terasa kikuk. Tidak ada keinginan Anila untuk berbasa-basi. Kalau pun iya, nada bicaranya pasti tidak bisa senormal biasanya. 


Mobil terparkir cukup jauh dari pintu masuk Rumah Makan. Mereka perlu berjalan kaki menuju ke sana. Dalam perjalanan, Anila mendekatkan tubuh pada suaminya hingga tak berjarak. Dia melingkarkan tangan kirinya pada tangan kiri Ranala. Sementara jemari tangan kanannya merajut mesra di antara jemari kiri Ranala, menggenggam kuat. Gesturnya mengatakan, pria ini milikku. Dia ingin menganggap tidak ada Viona bersama mereka. 


"Duduk di sana, aja." Anila menunjuk pada meja dengan empat tempat duduk di selasar, samping kanan pintu masuk. 


Ranala mengangguk. Sementara Viona hanya mengikuti arah Anila dan Ranala berjalan tanpa memberikan saran sedikit pun. 


Anila menarik dua kursi yang berdampingan. "Duduk sini, Mas." Anila tersenyum mengarahkan Ranala duduk di sisinya, lagi-lagi tanpa menganggap Viona ada. 


"Vi?" Ranala berpaling mencari Viona yang terdiam sejak tadi. 


"Aku di sini aja," kata Viona dengan senyum yang dipaksakan. Dia menarik kursi tepat di seberang Ranala. 


"Sini aja, Teh. Depan aku. Biar enak kita ngobrolnya," instruksi Anila dengan senyum sinisnya. "Bener, nggak, Mas?" 


Ranala mengangguk kaku. Sementara Viona tetap memaksakan senyum sok manisnya di hadapan Ranala sambil berpindah tempat duduk. 


"A, mau order!" panggil Anila pada seseorang dengan pakaian pangsi–pakaian khas Sunda untuk pria –yang dijadikan seragam pramusaji Rumah Makan itu. 


"Iya. Saya timbel komplit ayam bakar. Mas Rana mau sop buntut?" tawar Anila dengan senyum manis sambil mengelus lengan berbulu suaminya. 


"Boleh," jawab Ranala singkat. 


"Saya disamain aja, A," seru Viona tanpa ditanya. 


"Minumnya?" tanya pramusaji.


Sementara Anila sedang membuka-buka buku menu, "Jus strawberry tanpa susu," seru Ranala dan Viona bersamaan. 


Sontak Anila mengangkat kepalanya melihat ke arah Ranala dan Viona bergantian. Membuat Viona jengah dan tertunduk. 


"Kamu mau minum apa?" tanya Ranala pada Anila meredam suasana. Yang ditanya menyandarkan punggungnya seraya menutup kasar buku menu yang ada di hadapannya. 


"Es jeruk," jawab Anila asal.

__ADS_1


"Tambah es jeruk satu, ya, A. Sudah cukup, itu saja dulu," pinta Ranala ramah pada pramusaji. 


Allahuakbar Allahuakbar ....


"Silakan," seru seorang pramusaji lain yang melewati tempat duduk mereka, seraya menyodorkan ta'jil. 


Ketiganya menikmati ta'jil dalam hening. Suasana seperti ini jelas jauh berbeda dengan buka bersama yang pernah mereka bertiga lakukan sebelumnya. 


Setelah tandas ta'jil ketiganya, seorang pramusaji dengan nampan penuh berisi makanan mendatangi tempat duduk mereka. "Silakan, pesanannya." Dia meletakkan satu demi satu makanan tepat di hadapan pemiliknya.


"Makasih, A," seru Ranala ramah. "Makanan udah datang kita …." 


"Salat aja dulu, yuk." Anila bangkit dan mengangguk pada Viona. Gesturnya mengajak Viona untuk ikut serta dengannya. 


Viona melirik ke arah Ranala seolah meminta izin, dan mendapat jawaban berupa anggukan kecil Ranala tanda mengizinkan. Anila melihat seluruh detail kejadian itu dengan sudut matanya. 


"Nitip, ya, Mas. Kita salat dulu," pesan Anila disertai senyum kelewat lebar pada Ranala. "Yuk, Teh," ajak Anila lagi, memaksa Viona segera bangkit dan mengikutinya. 


"Ayo," jawab perempuan dengan kemeja bergaris dan celana panjang itu. Viona belum juga menutup mahkotanya, padahal mereka sudah belanja banyak untuk itu. Entah apa yang menghambatnya. Namun begitu, pakaiannya sudah lebih tertutup.


Sepanjang perjalanan menuju musala Anila mendiamkan Viona. Dia menyadari, kondisi saat ini hanya akan sia-sia bila harus berdiskusi. Waktu yang singkat dan kondisi hati yang panas. Mungkin nanti selepas salat, suasana hatinya akan membaik.


Sembari melipat mukena, Anila memulai membuka percakapan. "Ke Bandung, kok, nggak ngasih tahu aku, Teh?" tanya Anila dengan nada normal. Benar adanya, salat bisa membuat suasana hati lebih baik, tidak lagi panas. 


"Iya, dadakan," jawab perempuan yang ditanya. Ada nada tidak siap dari jawabannya. 


"Oh, udah lama di kantor Mas Rana?" telisik Anila mengetes kejujuran Viona. 


"Baru, sih."


"Oh, ya? Padahal aku nunggu di meja penerima tamu ada, lah, satu jam. Tapi, kok, bisa nggak lihat, ya, pas Teteh lewat?" tanya Anila sebelum melanjutkan lirih, "kayak setan, kasat mata." Kemudian tersenyum penuh kemenangan sambil menoleh ke arah Viona. 


Viona menundukkan kepala lebih dalam.  


"Eh, kalau nggak salah inget, Teteh pernah bilang. Kata Teteh, aku udah kayak adik sendiri. Betul begitu?" Anila mengusap paha perempuan di sampingnya yang sudah selesai melipat mukena. 


Viona mengangguk, kemudian mengangkat kepala menatap Anila. "Iya, Teteh udah nganggep kamu seperti adik Teteh sendiri."


"Makasih, ya, Teh." Anila meletakkan telapak kirinya di dada, sebagai gestur terenyuh dengan kalimat Viona. Memang seharusnya Anila tersentuh mendengar kalimat Viona. Namun sayang, tidak lagi.

__ADS_1


"Kalau memang Teteh sudah menganggap aku kayak adik Teteh sendiri, alangkah sopannya kalau Teteh izin terlebih dahulu bila ingin bertemu dengan suami adik Teteh ini," saran Anila sambil tersenyum dan tak lepas menatap serius pada sosok perempuan, yang kini memalingkan wajahnya dari tatapan Anila.


...***...


__ADS_2