
"Feby? Siapa Feby?" tanya Anila heran saat Maliq menyebut nama itu.
"Sambil cari makan sahur, yuk," ajak Maliq seraya melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul tiga dini hari.
Anila mengiyakan dengan mengekor Maliq. Perempuan itu mengikuti ke mana Maliq menuju, sebuah warung nasi angkringan tidak jauh dari lokasi masjid. Keduanya memilih tempat duduk lesehan agar bisa berbincang lebih intim.
"Sejak kamu nikah, beberapa kali aku sempat dekat dengan perempuan … secara tidak sengaja. Semuanya memang bukan aku yang mendahului. Kamu tahu aku, kan?" Maliq mengawali ceritanya.
Ya, memang. Maliq bukan tipe laki-laki yang suka mengejar perempuan. Dia cenderung pasif dan tidak mudah didekati. Kalau pun berhasil dekat, berdasarkan pengalaman, perempuan akan menyerah karena kekakuannya. Tidak seasik yang terlihat. Hanya pada Anila dan Hauna saja dia bisa tampil apa adanya.
Anila mengangguk mengiyakan pernyataan Maliq. "Terus?" tanyanya meminta Maliq melanjutkan cerita.
"Aku pernah ditampar perempuan," katanya melanjutkan.
"Kamu kurang ajar sama dia?" Mata Anila membulat mendengar pernyataan laki-laki yang kemeja PDL krem dengan kancing yang terbuka seluruhnya, sehingga memperlihatkan kaus putih polos sebagai **********.
Anila pun sebenarnya tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia tahu Maliq adalah laki-laki sopan. Perempuan itu hanya ingin menggoda laki-laki gondrong di sampingnya.
"Karena kamu," jawab Maliq mengagetkan Anila.
"Kok?"
"Tanpa aku sadari saat aku bareng sama perempuan. Siapa pun itu, yang aku omongin itu tentang … kamu."
Anila menautkan alisnya tidak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki kencan dengan seorang perempuan tetapi membahas perempuan lain, dirinya.
"Ya, tanpa aku sadar. Aku selalu membandingkan mereka dengan kamu. Aku benar-benar nggak sadar. Saat mereka melakukan sesuatu, aku selalu komentar, kalau Anila dia nggak gitu, dia akan begini. Dan itu sering. Reaksinya, beberapa menyerah. Dan yang terakhir, aku ditampar. Dia nampar sambil nangis dan bilang kalau dia bukan Anila." Maliq bercerita sambil mengingat-ingat setiap kejadian.
"Dari beberapa perempuan, hanya Feby yang bertahan. Feby memang keras kepala. Tapi keras kepalanya itu yang membuat dia bersikukuh menunggu perasaanku berubah, dan tidak lagi menyebut nama kamu. Sudah setahun ini kami dekat, dan kita …." Maliq menatap Anila, berusaha menelisik apa yang dirasakan Anila. Marahkah, cemburukah, atau kecewa? Namun perempuan yang masing mengenakan pashmina hitam secara sembarang, sehingga rambutnya keluar dari arah depan dan belakang itu masih bergeming dengan pandangan yang Maliq susah artikan.
"...kita berencana untuk menikah." Terdengar helaan napas Anila. Ternyata sedari tadi dia menahan napas saat menunggu kelanjutan kalimat Maliq.
"Benar dugaanku." Anila tidak marah, tidak juga berapi-api tetapi reaksi itu justru membuat Maliq khawatir. "Oke, terus?" Sekuat tenaga Anila menahan kecewa yang bergemuruh mendesak untuk dikeluarkan, tetapi sadar dia bukanlah siapa-siapa yang berhak mengatur kehidupan Maliq.
__ADS_1
"Ta–tapi aku … aku sudah cerita sama Ibu. Aku bilang kalau … aku mau kamu," jelas Maliq.
Anila memejamkan matanya. Membayangkan kekecewaan yang Ibu–orang tua Maliq–rasakan. Kecewa anaknya mengakhiri hubungan dengan calonnya, hanya demi seseorang dengan status janda, yang akan disandangnya bila memang benar nanti terjadi perpisahan.
Anila sendiri bingung bukan main. Di sisi lain dia ingin tetap berada dalam keindahan rasa saling, rasa yang berbalas-balasan, bukan hanya tentang rasa sendiri. Namun, di sisi lain hubungannya dengan Maliq tidak hanya menoreh luka orang-orang di sisinya, melainkan di sisi Maliq juga.
"Kita sahur aja dulu, ya," ajak Anila setenang mungkin seraya menyiapkan nasi dan lauk-pauk untuk Maliq. Dia hanya butuh waktu lebih untuk memikirkan semua ini.
...***...
Pandangan nanar Anila pada gerak-gerik sekitar yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Apa mungkin dia tega menghancurkan mimpi orang lain? Atau memang kali ini dia harus sedikit egois untuk mendapatkan kebahagiaan yang dimau?
Feby? Seperti apa dia? Apakah dia layak mendapat kekecewaan? Ah, seburuk apa pun Feby, dia tetap tidak memiliki kesalahan pada Anila sehingga harus merelakan kebahagiaan demi perempuan masa lalu calon suaminya.
"Nah, Anila yang akan menjelaskan lebih lanjut. Silakan, An?" Pak Rohidin mempersilakan Anila mengambil alih area presentasi.
"Terima kasih, Pak Rohidin," sambut Anila dengan memaksakan senyum datarnya.
"An, masalah jangan dibawa-bawa ke kantor. Baru kali ini saya kecewa sama kamu. Yang tadi kamu lakukan hanya membacakan data, bukan menganalisis. Tunjukkan kalau saya tidak salah memilih orang," ucap Pak Rohidin setelah ruangan hanya tersisa Anila dan dirinya. Tanpa menunggu jawaban, laki-laki paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Anila sendiri.
Setelah merenung beberapa saat, perempuan itu beranjak naik ke lantai atas. Berniat menemui atasan yang telah dibuat kecewa karena ketidakprofesionalannya.
"Permisi, Pak. Kalau bapak mengizinkan saya mau ambil cuti tahunan sekaligus, Pak," izin Anila. Jatah cuti tahunan Anila terbilang masih banyak. Bahkan dalam lima tahun terakhir, dia merelakan jatah cutinya hangus karena memang tidak pernah digunakan.
"Sebaiknya, sih, begitu, An. Jangan terlalu keras sama diri sendiri," pesan Pak Rohidin sebelum membubuhi tanda tangan pada surat permohonan cuti Anila.
"Terima kasih, Pak. Kalau bapak atau teman-teman butuh bantuan saya, saya siap 24 jam. Hanya mungkin saya bisa bantu secara virtual."
"Udah, cuti, ya, cuti aja," ucap Pak Rohidin sembari menepuk pelan pundak Anila. "Take your time," sambungnya saat Anila hendak menutup pintu, dan dibalas dengan senyuman penuh terima kasih pada laki-laki yang sudah dianggap seperti ayah.
Sebenarnya Anila belum memiliki rencana, apa yang akan dilakukan selama cuti. Pulang kampung atau kembali ke Bandung, sama saja. Kedua tujuan itu membutuhkan persiapan mental yang matang.
Perempuan yang masih menggunakan pakaian kerja lengkap itu mengenyakkan diri di sofa ruang tengah apartemen-nya. Lelah sekali pikirannya. Betul apa yang Ustadz Rahmat pernah sampaikan. Seperti gelas di dalam air yang diguncang, seperti itu keadaanya kini. Ternyata selama ini dia hanya berputar-putar tanpa menemukan solusi, malah meluap tidak keruan.
__ADS_1
Anila merasa dia terlalu sombong karena hanya mengandalkan diri sendiri tanpa melibatkan Sang Penulis takdir.
...*** ...
"Mari kita telaah Quran Surat An Nur ayat 26 yang memiliki arti, 'Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula'. Menurut saudara-saudaraku muslimin dan muslimat apa makna dari ayat tersebut?" buka Ustaz Rahmat saat memulai kajian seusai tarawih.
"Saudaraku, pernahkah menyadari? Mengapa kita dipertemukan dan didekatkan dengan orang-orang yang…istilah kerennya, sih, satu frekuensi dengan kita." Gemuruh tawa terdengar begitu ustaz Rahmat menggunakan istilah masa kini itu.
"Kita yang suka makan, akan bertemu dengan orang-orang yang suka kulineran. Kita yang ngefans sama artis, akan bergabung dengan fans club-nya yang sama-sama mengidolakan sang artis. Kita yang suka naik gunung, akan bergabung dengan komunitas pecinta alam. Kenapa?" tanya Ustaz Rahmat untuk menciptakan suasana kajian dua arah, dan tidak monoton.
"Karena, ternyata manusia itu adalah magnet bagi manusia lainnya. Saat kita berbuat kebaikan, secara otomatis kita akan menarik orang-orang baik di sekitar kita. Begitupun sebalikannya." Mata Ustaz Rahmat menyapu audience.
"Jadi, saat kita bertemu dengan orang yang tidak menyenangkan, jangan langsung membencinya, ya. Lihat ke dalam diri kita dulu, jangan-jangan kita sama tidak menyenangkannya bagi orang lain." Ustaz Rahmat menarik kesimpulan di akhir dakwahnya. Ceramah yang tidak menyalahkan orang lain, tetapi lebih pada ujaran mengintrospeksi diri sendiri.
...***...
Selesai kajian, Anila membenamkan diri di atas sajadahnya, berdiam di dalam masjid, berlama-lama dengan kegiatan yang hanya tentang dirinya dan penciptanya. Bermesraan, berdua, dan menemukan kedamaian.
Mendekati sahur, Anila beranjak meninggalkan masjid. Dengan kerudung tertutup rapi, mata perempuan itu menangkap sosok yang begitu diinginkannya, Maliq.
Pria itu tidak henti menatap Anila tanpa berkedip. Dia tersenyum penuh arti, dan Anila tahu betul apa arti senyuman itu. "Yuk," ajaknya tanpa membahas penampilan perempuan yang kini telah menutup seluruh auratnya, meskipun belum sesuai syariat. Namun, itu sudah kemajuan besar.
"Mal," panggil Anila lembut. Laki-laki gondrong itu kembali menabrakkan netranya dengan manik hitam Anila.
"Ya, An," jawabnya tidak kalah lembut.
"Feby gimana?" tanya Anila hati-hati.
Maliq menarik napas masygul. Binar matanya meredup. Ada ketidaksukaan terpancar dari dalamnya. "Lama-lama, aku nggak tahan dengan keras kepalanya. Dia berusaha mengubah aku. Aku ngerasa, kalau sama dia, aku bukan aku. Dia selalu ingin aku jadi orang lain. Maksa aku suka ini, nggak boleh itu, harus gini. Aku capek, An, harus ikutin semua keinginan dia."
Keduanya sama-sama diam. Larut dalam pikiran masing-masing, sebelum Anila mengungkapkan isi hatinya. "Maliq, kamu orang baik. Feby juga baik. Kembalilah padanya."
...***...
__ADS_1
...***Bukan perkara mudah melepaskan seseorang yang begitu kita inginkan. Terlebih, orang itu juga mempunyai keinginan yang sama....
... Bersama, berdua***....