
Langit bersih menjingga, udara dingin khas Bandung saat Ramadhan berdesir. Anila menikmati di pelataran Masjid sebuah mal terbesar di kota itu. Ada rindu pada suasana ini, mengingatkan Anila pada sosok bersahaja, Papi.
Apa kabar Papi? Lima tahun Anila memutus kontak dengan Ranala beserta keluarganya, termasuk Papi. Entah apa yang Anila pikirkan, saat ini dia sedang berada dalam mobil menelusuri jalan ke arah rumah berpelataran luas, rumah Papi.
Perempuan berambut kecokelatan itu, tidak dapat menahan hasrat untuk sekadar melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi Papi. Orang yang rela menjadi pertahanan terdepan saat Ranala menyakitinya. Orang yang akan memberi pelajaran pada siapa pun yang melukai Anila. Sosok tegas berhati lembut.
Anila memarkir kendaraan di seberang sebuah rumah satu lantai. Rumah bergaya tahun 90-an. Dinding putih dan pernis transparan membuat gurat jati pintu serta kusen menonjol. Pagar hitam berjarak lebar, membuat Anila dapat melihat jelas ke dalam.
Taman luas nan rimbun dengan pohon jambu serta sirsak kesukaan Papi masih subur seperti sedia kala. Papi pasti masih rajin memberinya pupuk dan menyirami dengan air beras. Setiap kali panen, Papi pasti menyimpan buah pertama untuk Anila sebelum dibagikan pada yang lain. Kata Papi, buah pertama dari setiap musim panen adalah yang terbaik, termanis, dan terenak.
__ADS_1
Setiap itu pula, Anila menolak dan meminta Papi untuk menikmatinya terlebih dahulu. "Papi sama Mami udah tua, udah sering makan yang enak-enak. Buat kamu sama Ranala aja, An." Begitu dalih Papi.
Menjelang Maghrib begini, Papi biasanya duduk di salah kursi lenong di teras. Mata tuanya lebih nyaman membaca di luar. Seringnya Papi membaca di teras dengan menggunakan sarung, tak lupa kacamata baca yang sedikit merosot.
Dengan terbata-bata Papi membaca huruf demi huruf dalam kitab suci Al Quran. Papi memang baru belajar Islam saat berkuliah di Surabaya. Belajar dari keluarga ayah Anila, sehingga kemampuan membaca Al Quran-nya masih perlu banyak perbaikan. Namun, semangat membaca dan mempelajari isinya tidak meredup kendati usia tak lagi muda.
Seketika pintu rumah terbuka perlahan. Papi. Anila ingin memekik namun ditahannya dengan membungkam mulutnya sendiri. Papi masih sama seperti yang ada dalam bayangan Anila. Kecuali rambutnya yang sudah banyak memutih, dan tubuhnya tidak segempal dulu. Sepertinya, Papi kehilangan beberapa kilogram bobotnya. Sekuat tenaga Anila menahan keinginan diri berlari, dan mendekap sosok tua itu.
Anila tidak dapat mendengar suara Papi sama sekali dari jarak demikian jauh. Dia hanya bisa memejamkan mata dan membayangkannya, hingga terasa begitu nyata.
__ADS_1
Tok…tok…tok…
Anila terkesiap. Sebuah ketukan pada kaca mobil membuyarkan segala lamunannya. Sosok yang tidak diharapkan untuk bertemu saat ini. Laki-laki dengan wajah campuran Jawa-Sunda. "Mas Rana?"
......***......
...***Berkenalan dengan sosok Papi Adrian, yuk....
...Kebiasaan ayah kalian sama dengan Papi, nggak? FYI, sosok Papi ini mengambil dari tokoh papa mertua author lho. Hanya beliau sudah tidak ada. Jadi author sisipkan sosok Papa pada cerita ini untuk mengobati kerinduan....
__ADS_1
...Semoga Papa bahagia di syurga. aamiiin***....