Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 18 - SISI API YANG LAIN


__ADS_3

"An… Please let me in?" Maliq menatap Anila tajam. Berusaha meyakinkan Anila untuk


memberi akses masuk dalam kehidupannya.


Anila diam. Semakin lama Anila diam, semakin membuat mulas perut Maliq. Jawab


cepat, please, An. Marah pun aku terima. Asal jangan diam.


"An …," panggil Maliq.


Anila menegakkan kepalanya, menatap langsung pada manik mata Maliq. Anila melihat


sebuah kesungguhan di dalamnya.


Anila mengangguk.


Apa? Apa dia baru bilang iya? Maliq sempat tidak percaya dengan jawaban Anila. Anila


baru saja menyetujui Maliq untuk masuk lebih jauh pada kehidupannya.


Hari-hari berikutnya, Anila membuka kembali lembar demi lembar perjalanan hidupnya


yang telah lalu.


...***...


Pernikahan dengan atau tanpa diawali pacaran sama saja menurut Anila. Toh, tidak


semua ditampilkan apa adanya saat pacaran. Malah terkadang sengaja dibuat-buat hanya untuk


membuat pasangan terkesan. Kalau pun ketahuan jeleknya, ya ... itu, sih, apes saja.


Kalau tidak pacaran, lalu kita tertarik pada lawan jenis, bagaimana? Ya, kalau siap tinggal


bilang saja. Kalau belum, ya, tunggu sampai siap. Lalu kalau keduluan orang? Ya namanya


belum jodoh. Kan, kalau jodoh tidak akan ke mana. Yakin, akan ada yang terbaik sebagai takdir.


Sesederhana itu pikiran Anila. Maka dari itu, saat Ranala dan keluarga memintanya, Anila


cukup istikharah dan voila ...Timbullah keyakinan besar untuk menerimanya.


Tidak ada gamang tentang masa depan. Tidak pula ragu pada masa lalu. Anila yakin,

__ADS_1


keberanian Ranala meminangnya sudah cukup sebagai tanda bahwa dia siap menanggalkan masa


lalu. Memulai lembaran baru.


Ranala pria yang baik. Tidak pernah sekalipun Ranala marah, menghardik, atau sekadar


mengungkapkan kecewa atas kekurangan Anila. Dia lebih banyak diam, atau menghindar.


Setidaknya itu yang Anila rasa setelah tiga bulan pernikahan.


Belakangan, ada yang mengganjal. Ranala, si pria introvert yang irit bicara menjadi pria


yang seru dan banyak berkisah. Bukan, bukan pada Anila tetapi pada seseorang yang lain.


Seperti malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hanya beberapa lampu


sudut dibiarkan menyala. Siluet ketapang kencana bergoyang lembut. Anila tidak dapat


menemukan Ranala di sisinya.


Setelah pencarian di dalam redup, samar terdengar tawa renyah Ranala di balik pintu kaca. Salah satu pergelangan kaki


ditopang di atas paha. Tidak diam, Anila bisa melihat dengan jelas mulutnya komat kamit. Tanda


dibicarakan.


Pintu kaca Anila geser perlahan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang


mengagetkan untuk Ranala.


"Mas, belum ngantuk?" tanya Anila ramah.


"Ya, udah. Nanti disambung lagi. Thanks, ya. Assalamualaikum." Ranala menyudahi


percakapan di telepon. "Yuk, tidur," ajak Ranala tanpa menjawab pertanyaan Anila.


Anila mengikuti arah rangkulan Ranala. Kembali ke kamar tidurnya. Namun ada sesuatu


mengusik rasa ingin tahu Anila. Membuatnya tidak dapat terpejam.


"Mas," panggil Anila dalam gelapnya kamar.


"Hmm," jawab Ranala dari sisinya.

__ADS_1


" Udah tidur?" Sulit melihat dalam gelap. Hanya siluet wajah Ranala saja yang tertangkap


netra.


"Belum."


"Boleh nanya?" Anila bertanya hati-hati.


"Apa?" Pertanyaan yang dijawab pertaanyaan.


"Telfonan sama siapa? Kok sampai malam?" Akhirnya kalimat tanya ini meluncur


dengan lancar dari mulut Anila. Sudah tiga bulan ini Anila mencari waktu yang tepat untuk bertanya. Sampai Anila menyadari, tidak akan pernah ada waktu yang tepat. Anila hanya butuh


jawaban yang cepat untuk menenangkan hatinya.


"Temen."


"Perempuan?" Anila memang pernah menangkap suara di seberang telepon. Suara


lembut. Anila yakin betul itu suara perempuan.


"Iya," jawab Ranala enteng.


"Maaf, ya, Mas. Tapi bukankah sebaiknya Mas jaga jarak dengan temen perempuan Mas?


Maksudnya... ini, kan, udah mal...."


Ranala bangkit dari posisi berbaringnya. Kini duduk di sisi ranjang menghadap Anila.


Menghela nafas kasar. Anila terhenyak dengan gerakan tiba-tiba Ranala. Spontan membuat Anila


menghentikan kalimatnya. Ikut menegakkan posisi tubuhnya, menyamakan dengan Ranala.


Menatap Ranala yang tertangkap sedang mengambil ancang-ancang untuk bicara.


"Gini, ya. Sebelum sama kamu, saya sudah punya temen. Saya kenal mereka lebih lama


daripada saya kenal sama kamu. Bukan berati saat saya nikah sama kamu, saya harus


meninggalkan temen-temen saya."


Saya-kamu? Kenapa kata ganti itu terdengar asing. Seasing sosok Ranala di mata Anila

__ADS_1


kini. Pertama kalinya Anila melihat sisi lain dari suaminya, Ranala–Sang api.


__ADS_2