
Azan maghrib berkumandang ketika Maliq tiba di lobi hotel.
"Musala di lantai berapa, Mbak?" tanya Maliq pada seseorang di meja resepsionis.
"Lantai tiga, Kak. Keluar lift belok kanan. Tepat di sebelah restoran," jelasnya.
"Oke, makasih, Mbak."
"Sama-sama."
Maliq menuju lokasi yang diarahkan. Beruntung lokasinya bersebelahan dengan restoran. Tempat Maliq membuat janji pertemuan.
Di dalam musala sudah ada beberapa orang yang hendak menunaikan salat. Maliq berdiri di barisan makmum.
Alhamdulillah. Masih sempat salat berjamaah di awal waktu, syukur Maliq dalam hati.
Satu demi satu meninggalkan musala, mungkin melanjutkan aktivitas. Namun, tidak dengan Maliq. Maliq memutuskan menunggu di dalam musala hingga waktu yang disepakati. Tempat ternyaman untuk menunggu.
Maliq mengeluarkan mushaf dan membacanya lirih beberapa halaman. Hingga bacaannya terhenti pada ayat kesukaan … Anila. Ar Rum ayat 48 : "Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira."
__ADS_1
Ayat yang selalu membuat Anila besar kepala dan berkata, "Tuh, kan, aku tuh pembawa kebahagiaan. Allah, loh, yang bilang, bukan aku."
"Iya deh, iya," kata Maliq dengan bola mata berputar, malas berdebat.
Kalau sudah seperti itu. Anila tersenyum puas sambil menepuk dadanya. Dasar bocah, batin Maliq menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesungguhnya Maliq gemas. Kalau saja mereka belum sama-sama baligh, pipi Anila sudah habis dicubit Maliq saking gemasnya.
Astaghfirullah. Kenapa jadi memikirkan Anila? Tujuh tahun sudah berlalu. Semua kenangan itu masih jelas dalam ingatan Maliq. Sampai kapan Maliq bisa benar-benar melupakan Anila. Sahabat yang tanpa direncanakan membuat Maliq jatuh cinta dan menolak banyak perempuan.
Anila memang bukan perempuan yang membuat Maliq jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktulah yang menciptakannya, hingga akhirnya rasa itu hadir dan tumbuh. Sedikit demi sedikit tapi mengakar. Akar-akarnya menyebar dan mencengkram kuat, bahkan terlampau kuat.
Kesederhanaan Anila dalam berpikir dan bertindak. Alasan awal Maliq menaruh simpati. Namun seiring berjalannya waktu, kesederhanaan itu juga yang sering kali membuat Maliq khawatir. Menumbuhkan hasrat untuk menjaga dan melindungi. Anila tidak pernah menaruh curiga, terlalu mudah percaya pada orang. Menganggap semua orang sama seperti dirinya.
Anila tidak pernah memiliki rencana cadangan, tidak pun memiliki antisipasi. Tujuannya tunggal, pun dengan cara mencapainya. Bagaimana bila gagal? Ya ulang saja. Sesederhana itu. Pikiran Anila yang sederhana sekaligus membuat Maliq bisa menikmati hidup hari ini. Tidak banyak khawatir memikirkan masa depan, cukup bersyukur dengan hari ini.
Entahlah, semenjak di Jakarta bayang-bayang Anila lebih sering muncul di benak Maliq. Maliq lebih sering mengunjungi ruang kenangan. Rasanya begitu dekat. Mungkin karena jarak Jakarta-Bandung yang dekat membuat Maliq merasa demikian.
Suara langkah sepatu tinggi mendekat. Berhenti di sekitar muka musala sebelum akhirnya menghilang. Jam digital penunjuk waktu salat mengeluarkan suara. Tanda sudah memasuki waktu salat. Belum ada orang lain selain Maliq dan seseorang di balik tirai pembatas antara tempat salat pria dan wanita.
Tidak lama, masuk beberapa pemuda dengan seragam putih-hitam masuk. Kemungkinan pegawai training hotel. Salah satunya mendekati mimbar. Awalnya Maliq berpikir, ia akan mengimami salat. Ternyata salah, ia melafazkan ikamah. Setelah selesai, ia mempersilakan Maliq untuk memimpin salat. Maliq menengok ke belakang, memastikan bahwa dirinyalah yang sedang diberi isyarat oleh si pemuda.
__ADS_1
"Istau wala takhtalifu, fatakhtalifa qulubahum. Allahuakbar." Maliq mengawali salat.
...***...
Pertemuan lancar, setidaknya tidak terlalu banyak revisi. Insyaa Allah jadwal kepulangannya bisa sesuai jadwal. Sehingga Maliq bisa fokus mengurus hal lain. Pernikahan, misalnya. Tujuh tahun, rasanya cukup waktu untuk mengubur bayang-bayang Anila. Memulai hidup baru.
Maliq menyalakan motor tuanya dengan menyelah. Mesin yang masih terawat membuat motor menyala hanya dengan satu kali selahan. Maliq melaju dengan kecepatan sedang. Melewati beberapa mobil yang terparkir menuju pos penjaga. Parkiran hotel penuh di akhir pekan. Melewati pertigaan, tiba-tiba motornya seperti terdorong dari belakang. Membuat motor yang dikendarai Maliq oleng. Badan motor miring hingga jatuh menimpa betis Maliq, sebelum roda mobil menggilas roda belakang motor.
Maliq berusaha menarik kaki yang terjepit. Namun sia-sia. Semakin dia menarik, semakin nyeri yang dirasakan. Menegakan motor dengan kondisi duduk begini sangatlah sulit. Terlebih dia hanya bertumpu pada satu kaki yang terbebas.
Seorang perempuan keluar dengan gaun ungu tua. Rambutnya terurai hingga menyamarkan bahu yang terbuka.
"Ya Ampun," pekiknya. Dengan cepat ia mengangkat motor Maliq. Sepatu tingginya tidak menghalangi langkah cekatannya. Tangan mulusnya ternyata penuh tenaga. Sekali angkat, motor tua Maliq mampu ditegakkannya.
Selesai menegakkan motor, ia menyelipkan rambutnya yang terurai pada telinga, seraya bertanya, "Nggak apa-apa, Mas …," ia seperti berpikir sebelum melanjutkan, "Maliq?"
Maliq memicingkan mata sebelum dapat mengenali perempuan itu. Tidak mungkin. "Anila?"
...***...
__ADS_1
...Seneng, ya, kalau ketemu sahabat lama....
...Tapi kalau Anila dan Maliq kira-kira gimana, ya? Seneng juga, nggak, ya?...