Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 12 - SEPERTI DULU


__ADS_3

Cahaya matahari menembus vitrase. Anila memang terbiasa membuka gorden sebelum matahari mendahului. Hari ini terasa berbeda, tidak seperti hari-hari kemarin yang terasa hanya sebuah keteraturan. Kebiasaan yang berulang. Namun, kali ini seperti ada ruh yang menciptakan lengkung bibir pada setiap kegiatan.


"Selamat pagi," sapa Anila begitu memasuki ruang marketing dengan gelas kecil berbahan kertas berisi espreso.


"Pa … pagi, Mbak?" jawab salah seorang stafnya ragu. Sementara yang lainnya beradu pandang, sama bertanya dalam hati, Si Bos kenapa?


Anila tak acuh dengan pandangan heran beberapa bawahannya. Dia berjalan menuju ruangan yang dikelilingi kaca. Berisi satu meja besar miliknya sendiri. Meletakkan tas tangan dan kopi di atas meja, kemudian menghidupkan laptop.


Setelah memeriksa beberapa email yang masuk, Anila menghubungi resepsionis melalui telepon kabel di mejanya. "Mbak, Sari udah datang? Saya hubungi handphone-nya tapi nggak nyambung."


"Belum, tuh, Mbak Anila." jawabnya.


"Oke. Kalau sudah datang, suruh ke ruangan saya, ya," pinta Anila pada seseorang di meja resepsionis. Lawan bicara Anila menyanggupi. "Thank you," seru Anila ceria menutup telepon.


"I … iya, Mbak," jawab resepsionis sedikit tercengang.


Tidak berapa lama, perempuan berambut sebahu mengetuk pintu kaca ruangan Anila. "Masuk," perintah Anila sembari tetap menatap layar laptopnya.


Perempuan dengan kemeja dan celana panjang masuk dengan menunduk.


"Duduk," ujar Anila menunjuk kursi di seberang miliknya.


"Mbak …," ucap Sari hendak menjelaskan sesuatu tapi urung. "Maaf tadi teleponnya nggak diangkat. Lagi di ojek."


"It's oke. Belum jam masuk kerja juga, kan?" jawab Anila dibarengi dengan senyuman.


Kalau Mbak Anila udah senyum-senyum begini tandanya hanya dua. Senyum basa-basi atau senyum kemenangan karena memiliki kunci untuk menjatuhkan. Di mana keduanya sama-sama akan hilang dalam sekejap mata, dan berganti dengan kalimat sekakmat.


Jantung Sari serasa lepas dan terjun bebas dari tempatnya. Pasrah, Sari tidak berani menatap bosnya.


"Kamu belum kirim email laporan event kemarin?"


Hal yang ditakutkan Sari terjadi. Sari terlalu lelah semalam sehingga tidak sempat mengerjakan laporan. Lagi pula mengirim laporan minggu malam juga baru akan dibuka saat Senin pagi. Bela diri dalam hati. Nahas belum sempat Sari menyelesaikan laporan, sudah keburu ditanya Anila.


"Sejam cukup, ya?" tanya Anila membuyarkan pikiran Sari.


"Buat apa, ya, Mbak?"


"Selesaikan laporannya, terus kirim ke saya untuk saya pelajari. Setelah itu arrange waktu untuk rapat evaluasi seluruh tim sebelum makan siang."


"Ba … baik, Mbak. Segera saya selesaikan dan saya kirim."


"Oke." Anila menunjuk pintu keluar dengan telapak tangan terbuka. Memberi gestur percakapan telah berakhir.


Sari beranjak berbalik membelakangi Anila menuju pintu kelur. Baru saja dia memegang gagang pintu dan bersiap menarik, Anila memanggil, "Sari."

__ADS_1


Si pemilik nama berbalik, "Ya, Mbak."


"Terima kasih, ya."


Sari membulatkan matanya takjub. "Sa … sama-sama, Mbak."


Benar saja, Sari menepati ucapannya. Belum juga satu jam, email berisi laporan pameran kemarin sudah bertengger manis di deretan teratas kotak masuk. Lengkap dengan slide presentasi yang akan dijelaskan Sari saat evaluasi.


Pukul sembilan lebih, Sari sudah menyiapkan ruang pertemuan. Laptop dan LCD proyektor untuk menampilkan presentasi. Tidak lupa air mineral dan buah sebagai kudapan. Sari paham betul, bosnya menghindari kudapan berbahan terigu. Jadi, Sari memilih aman dengan menyajikan buah-buahan.


Anila memasuki ruangan yang sudah lengkap dengan seluruh personel timnya.


"Silakan, Sari." Anila mempersilakan Sari maju dan menjelaskan segala capaian, kejadian, hambatan temuannya saat pameran.


"Oke. What would you do then?" tanya Anila mendorong Sari menemukan solusi sendiri.


Sari mengemukakan pendapatnya. Belum sepenuhnya tepat. Masih ada sedikit kurang, tetapi tidak ada intimidasi dari Anila.


"Oke, bagus. Sedikit tambahan saja dari saya. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pengunjung mal. Nggak bisa kita berpangku tangan sama penyelenggara untuk mendatangkan massa. Tolong buat janji dengan bagian IT untuk kita kolaborasi terkait setiap pameran dan event yang kita buat. Minta akses untuk bisa update real time. Ini bisa touch orang secara langsung. Apalagi kalau tahu persediaan barang menipis atau diskon mau berakhir. Bisa bikin efek latah. Itu sangat menguntungkan buat kita," jelas Anila panjang lebar tanpa beranjak dari kursinya.


Sesuai rencana, rapat evaluasi berakhir sebelum azan Dzuhur. Anila berencana mengambil mukena di ruang kerjanya, kemudian menuju musala. Namun, seseorang dari meja resepsionis manggilnya. "Mbak Anila, maaf, ada kiriman."


Anila bertanya-tanya dalam hati. Rasanya dia tidak sedang menunggu paket. "Makasih, ya."


Anila membalik kantong kertas coklat untuk mengeluarkan sisa isinya. Hanya ada selembar tisu dan sepasang sendok-garpu plastik. Tidak ada keterangan pengirimnya.


Anila mengambil ponselnya berharap ada jawaban di sana. Dia menggulirkan layar daftar pesan yang masuk. Beberapa di-skip. Hingga terhenti pada sebuah nomor yang belum juga disimpannya.


08XXXXXXX39 : "Biar jauh, seengaknya kita makan dengan menu yang sama lagi. Lotek dan es cendol."


Sebuah pesan konyol yang mampu membuat Anila tertawa sendiri. Dasar, absurd.


"Mbak, salat sekarang?" tanya seseorang tiba-tiba. Entah kapan datangnya, ia sudah ada di muka pintu ruangan Anila yang masih terbuka. Semoga dia tidak menyadari kelakuan anehku, harap Anila.


"Iya," jawab Anila datar seraya meninggalkan makanannya di meja, membawa tas mukena dan ponselnya. Anila menunggu pintu lift terbuka sambil mengetik pesan balasan, "Salat dulu, kali." Anila berusaha membalas sedatar mungkin.


...***...


Matahari sudah tergelincir. Bulan merangkak naik menggantikannya. Anila yang sudah melaksanakan salat Maghrib berbenah sebentar sebelum meninggalkan ruangan. Sepi, ruangan marketing sudah kosong, tidak ada orang.


Besok puasa hari pertama. Sebagian besar memilih pulang tepat waktu mengejar tarawih hari pertama di masjid bersama keluarga. Sementara Anila, menyambut Ramadan dengan biasa-biasa. Tarawih pun di apartemen saja, seorang diri.


Sebuah motor berdiam tepat di samping pos jaga. Mesinnya menyala, begitu pun lampunya. Sedikit menyilaukan sehingga tidak terlihat jelas motor maupun si pengendara.


Saat Anila tepat di samping pos jaga untuk men-tap kartu parkir, Anila menemukan Maliq sedang duduk di atas motornya. "Maliq?" panggil Anila.

__ADS_1


"Akhirnya keluar juga. Yuk!" ajaknya.


"Ke mana?"


"Tarawih, lah. Masa bulan Ramadan pacaran," goda Maliq. "Gitu, tuh, dia, mah, Pak. Mau puasa ngajak berduaan, kan, saya nggak bisa nolak, ya," lanjut Maliq seolah bicara pada satpam. Satpam penjaga pos terlihat menyembunyikan tawa.


Anila mencebik. "Jangan dengerin, Pak." Anila menunjukan isyarat dengan menaruh telunjuk ke keningnya.


Maliq terbahak melihat Anila salah tingkah. "Ayo, ah, cepetan. Keburu isya."


Seperti kerbau dicucuk hidungnya. Anila mengekor jalan motor Maliq. Dia berbelok, dan tiba di sebuah masjid besar.


"Aku wudu dulu," ujar Anila meninggalkan Maliq menuju tempat wudu wanita. Selesai wudu, Anila yang tidak berhijab mengenakan mukena atasan untuk menutupi rambut dan kepala. Sementara mukena bagian bawah masih dijinjingnya.


"Masya Allah. Cantik banget istri ...," ujar Maliq tiba-tiba saat Anila keluar dari tempat wudu. "...Orang," lanjutnya dengan berbisik dan cengengesan menunjukan gigi-gigi kecilnya.


...***...


"Hai, istri...," sapa Maliq. "... orang," katanya lagi tapi lirih. "Gimana terawihnya?" goda Maliq yang sudah berdiri di tempat alas kaki wanita.


"Maaf, siapa, ya?" tanya Anila sambil lalu, berpura-pura tidak kenal. Membuat sebagian orang melihat heran ke arah Maliq.


"Wah, istri durhaka." Maliq mengejar Anila yang meninggalkannya. "Makan, yuk. Laper." ajak Maliq saat sudah berhasil menyejajarkan langkah Anila. Jelas tidak mendapatkan tanggapan Anila. Hanya dijawab dengan lirikan mata tajam. Anila terus berjalan menuju mobilnya.


Maliq tersenyum puas. Anila sudah di sebrang tempat duduknya. Terhalang meja kayu yang dilapisi plastik. Menunggu masing-masing satu porsi sate yang sedang dibakar.


"Kok, kamu berubah?" tanya Anila membuka pembicaraan.


"Hah?" yang ditanya tidak paham arah pembicaraan.


"Ya, kamu. Berubah. Kemarin waktu di hotel ketus banget. Tapi sekarang …." Anila menggantung kalimatnya.


"Aku nggak pernah berubah, An." Ekspresi Maliq berubah dari tengil menjadi serius. "Aku marah ...," lanjut Maliq.


"Gara-gara aku nabrak kamu?" potong Anila.


Maliq menggeleng. "Aku marah sama diri aku sendiri, An." Hening beberapa saat. "Karena kamu berubah."


"Tapi ini, kan …," sanggah Anila.


"Bukan tanggung jawab aku, memang," potong Maliq. "Aku juga bingung kenapa aku marah banget pas lihat penampilan baru kamu. Ada bagian di hidup kamu yang nggak aku dampingi, sampai akhirnya kamu memutuskan jadi begini." Dahi Anila berkerut, menyimak dengan penuh tanya tetapi tidak diungkapkan.


"Sampai akhirnya, malam itu. Aku coba berdamai. Mencoba memaafkan diri sendiri. Belum sepenuhnya, memang. Sampai sekarang masih proses, ya. Menerima kamu yang … baru." Maliq berpaling, "makasih, Mas." Sate pesanan mereka sudah datang.


Segitu berpengaruhnya, kah, perubahanku buatmu, Maliq? Mas Ranala saja biasa-biasa saja. Anila tertegun, tidak menjawab atau menanggapi Maliq. Namun, hatinya terasa pedih saat tahu bahwa Maliq bersusah memaafkan diri hanya karena perubahannya.

__ADS_1


__ADS_2