
Maliq memicingkan mata sebelum dapat mengenali perempuan itu. Tidak mungkin. "Anila?"
Dia tidak menjawab, malah makin mendekat. Makin jelas, betul dia Anila. Tidak mungkin Maliq lupa wajah Anila, meskipun sekarang banyak perubahan padanya. Anila menjulurkan tangan untuk membantu Maliq berdiri. Sontak Maliq mundur dan mengangkat kedua tangannya. Menghindari tangan Anila yang hampir menyentuh lengannya.
"Kamu itu, kalau di parkiran jalannya pelan-pelan, kenapa, sih?" tegur Anila.
"Hah? Kecepatan aku cuma 20 km/jam, An. Kamu yang enggak lihat-lihat ke kiri," sanggah Maliq.
"Enggak mungkin kalau kecepatan kamu cuma 20 km/jam, kenapa bisa tiba-tiba muncul begitu?"
Terlalu lelah dan sakit kaki Maliq untuk berdebat. Maliq mengangkat satu tangannya memberi gestur pada Anila untuk menyudahi perdebatan. "Tas aku?"
"Nih." Anila menyerahkan tas ransel Maliq dengan kasar ke pangkuan.
"Ck …," keluh Maliq melihat kondisi motor yang tidak mungkin dipaksa berjalan.
"Mau ke mana?" tanya Anila mencegah Maliq.
Maliq tidak menjawab. Bukan karena tidak suka dengan pertemuan itu, hanya ada rasa aneh yang membuat Maliq menghindar. Maliq berjalan menuju pos satpam. Menemui seseorang berseragam di dalamnya, menjelaskan duduk perkara, dan bermaksud menitipkan motor hingga esok.
Maliq melihat ponselnya yang bertuliskan 'No Network'.
"Hei, mau ke mana?" tanya Anila seraya berlari mendekat. Terdengar dari bunyi suara sepatu tingginya yang semakin jelas.
"Ke luar basement. Di sini enggak ada sinyal," jawab Maliq setelah mengetahui Anila sudah sejajar dengannya.
__ADS_1
"Iya, mau ngapain?" Anila mengejar Maliq dengan pertanyaannya.
Sebelum menjawab, Maliq membuang nafas masygul. "Tuh," tunjuk Maliq ke motornya. "Ban motor aku bengkok. Kalau dipaksa jalan, tambah rusak. Aku mau pulang pake ojek. Motor udah aku titip ke satpam, besok pagi aku ke sini lagi."
Maliq melanjutkan jalannya menjauhi Anila dengan sedikit susah payah. Baru beberapa langkah, Maliq mendengar teriakan Anila, "Aku antar!". Tidak percaya, sontak Maliq menghentikan langkahnya dan berbalik. Maliq mengernyitkan dahi, memasang baik-baik pendengarannya. Dia takut salah tangkap.
"Aku antar," ulang Anila dengan nada lebih tenang.
Entah harus senang atau bagaimana. Sosok yang begitu Maliq rindukan, kini ada di depan mata. Menawarkan waktu lebih lama untuk bersua. "Enggak usah, udah malam. Kamu pulang aja, takut kemalamam," jawab Maliq sekuat mungkin menahan keinginannya berlama-lama. Rasa khawatir lebih besar daripada kerinduannya. Pikiran Maliq memang kelewat kompleks. Banyak ketakutan yang selalu muncul terkait perempuan di hadapannya.
"Kamu mau masuk sendiri, atau harus aku tarik?" ancam Anila seraya memerintah Maliq masuk dengan gerakan matanya.
Tidak mau terjadi hal seperti ancaman Anila, Maliq memilih bergerak mendekati pintu penumpang. Terlihat sekilas dari ujung mata Maliq, Anila tersenyum puas.
Maliq memilih diam selama perjalanan. Berusaha memusatkan perhatian dan pendengaran pada suara penyiar dari tape mobil Anila. Belum juga jelas terdengar, Anila sudah memindah saluran radio yang didominasi lagu-lagu romantis.
Maliq menjawab dengan bahu. Tidak tahu apa yang diharapkannya untuk didengar. Magnet Anila begitu kuat. Menarik manik mata Maliq untuk melirik. Anila … Maliq beristighfar dalam hati, sekuat tenaga membuang pandangan pada jalanan, sesekali pada tangan di pangkuan. Ke mana saja, asal tidak kalah dengan magnet Anila.
"Besok aku panggil montir." Suara Anila berhasil mengagetkannya lagi.
"Buat?" tanya Maliq, kini dia membuang tatapan pada tangan di pangkuannya.
"Ya, benerin motor kamu."
"Buat apa? Kamu, kan, enggak salah."
__ADS_1
"Ini bukan masalah siapa bener, siapa salah, ya." Nada bicara Anila meninggi. Diam sesaat, kemudian melanjutkan, "Sorry," lirih Anila tanpa disangka.
"Kamu berubah." Kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut Maliq. Rasa bahagianya tertutup kekecewaan yang begitu besar melihat penampilan Anila.
"Sorry?" tanya Anila seolah tidak mendengar. Tidak mungkin Anila tidak mendengar. Ucapan Maliq singkat dan jelas. "Everybody's changing," kata Anila kemudian tanda dia paham betul ke mana arah pernyataan Maliq .
"Not all, of course," jawab Maliq. "Everything is still the same for me," lanjutnya. Ya, semua masih sama bagi Maliq. Hati dan pikirannya belum berubah. Memikirkan, mengkhawatirkan sosok yang mungkin sudah melupakannya.
"Enggak jelas." Anila menyerah.
"Depan belok kanan. Rumah nomor 29," pinta Maliq.
Maliq keluar dari mobil Anila seraya berpesan, "Tunggu sebentar."
Maliq masuk ke dalam rumah sewaan. Masih terdengar deru mesin mobil Anila. Maliq yakin, Anila akan menurutinya.
Tergantung di dalam lemari jaket parasut biru-abu, pemberian Anila tujuh tahun silam. Saat itu Anila meminjamkan untuk Maliq bawa ke Gunung Andong. Sebagai obat penawar kesedihan atas ketidakikutsertaan Anila. Saat itu menyeruak wangi tubuh Anila yang kini hilang dimakan waktu.
Jaket yang menjadi pengganti ketidakhadiran Anila. Bukan saat di Gunung Andong saja, tetapi saat mengetahui keberangkatan Anila ke Bandung untuk menikah. Jaket pengobat rindu, jalan menuju ruang kenangan Maliq dan Anila, yang masih rutin Maliq datangi. Mungkin ini saatnya jaket itu kembali pada pemiliknya. Pertanda tidak diperbolehkannya lagi mengunjungi ruang kenangan, karena Maliq harus membuka lembaran baru.
Dengan membawa jaket itu, Maliq ke luar menuntun motor pinjaman bapak indekost.
"Mau ke mana lagi?" tanya Anila heran.
"Aku antar," jawab Maliq. Mata Anila membulat seketika.
__ADS_1
"Hah? … Enggak usah. Aneh banget," tolak Anila.
"Cepetan jalan," perintah Maliq. "Tunggu … pakai ini." Maliq memberikan jaket parasut outdoor berwarna biru kombinasi abu. Maliq tidak rela orang lain melihat keindahan tubuh Anila yang terbuka.