Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 21 - DO YOU LOVE ME?


__ADS_3

"Tadi ada pesan dari Queen." kata Anila naif.


Mendadak Ranala menepikan mobilnya. Membuka ponsel dan tidak menemukan pesan yang Anila sebutkan.


"Tadi nggak sengaja kehapus karena kaget waktu Papi marah," jelas Anila. "Maaf," lanjutnya sambil menunjukan wajah mengiba, sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan hidungnya.


Tanpa menjawab, Ranala menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menghembus nafas kasar. Tidak cukup, Ranala melempar sembarang ponselnya ke atas dashboard. Anila sempat tersentak dengan suara yang tidak siap didengarnya. Namun tetap berpikir, bukan apa-apa, hanya efek suara dari gerakan meletakkan barang dari ketinggian tertentu. 


"Kalau aku boleh tahu, Mas semalam jalan sama Viona?" tanya Anila yang masih belum menyadari amarah Ranala.


Tanpa menjawab, Ranala menggeser tuas persneling pada Drive, kemudian menjalankan mobil dalam diam.


***


"Aku udah sampai," ucap Anila pada headset bluetooth yang menempel di telinganya. Anila mematikan mesin mobil.


"Aku … dua belokan lagi sampai. Ya udah, tutup aja, gih."


"Hati-hati, ya," pesan Anila pada Maliq yang masih tersambung melalui voice call.


"Oke. Kerja yang bener. Nggak usah banyak dipikir, ya. Nanti aku jemput."


Anila tersipu dengan perhatian Maliq.  "Bye," katanya menyudahi percakapan. Tanpa disadari, sebuah lengkungan tercipta di bibir Anila.


"Wa'alaikumsalam," sindir Maliq.


"Eh, iya. Assalamu'alaikum ustaz," goda Anila. Kali ini lengkungan sudah berubah menjadi gelak.


"Wa'alaikumsalam," jawab Maliq sambil menyimpan senyumnya.


Ada rasa bahagia sekaligus bersalah. Bahagia karena Anila mau membuka diri. Bersalah karena awal pernikahan Anila, Maliq sempat marah. Mengumpat, mendoakan kejelekan untuk Anila. Bila benar dugaannya, Anila tidak bahagia dalam pernikahannya.


***


Anila menyandarkan punggungnya kasar pada jok mobil. Dilema dirasa. Satu sisi beban yang selama ini dipikul sendirian, akhirnya mulai terbagi. Terasa lebih ringan, memang. Namun sisi lainnya, fiuuuh. Perempuan berambut kecolatan itu mengembuskan nafas melalui mulutnya. Membuat poninya sedikit terangkat, sebelum jatuh kembali pada posisi semula.


"Mbak, tim IT sudah datang. Kita mulai rapatnya?" Sebuah pesan masuk.


Sementara, biarkan aku menikmati semua rasa nyaman ini. Hingga nanti dia akan mencari muaranya sendiri. Anila keluar dari mobilnya, melangkah ringan menuju ruang rapat dengan seringai mengembang.


***


"Hai, udah datang?" Anila tidak menyangka Maliq akan datang secepat itu.


"Ayo, cepat. Keburu macet nanti."

__ADS_1


Anila yang tidak tahu ke mana tujuannya hanya mengekor di belakang Maliq. Kebiasaan Maliq selalu berjalan mendahului, berjalan di depan Anila. Bukan hanya Anila, tetapi di depan semua perempuan. Karena lebih mudah menjaga pandangan, menurutnya.


Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan langkahnya dapat diikuti Anila.


"Basement?" tanya Anila saat Maliq menekan tombol B,basement pada lift.


"Mobil kamu di basement, kan?"


"Iya. Tapi aku pikir kita mau buka di deket sini. Tinggal jalan, kan?"


"Kunci!" pinta Maliq tanpa menjawab pertanyaan Anila.


"Loh, kamu nggak bawa motor?"


"Kunci!" ulangnya.


Dasar, pemaksa. Bodohnya, Anila ikut saja lagi.


Maliq membuka kunci melalui remote. Laki-laki dengan rambut terikat itu setengah berlari menuju kemudi. Anila pun mengikuti dengan langkah panjang dan cepat. Buru-buru amat. Mau ke mana sih?


"Nah, sekarang baru kita bahas semua pertanyaan kamu tadi." Akhirnya Maliq bersuara setelah keluar dari gedung kantor Anila.


"Aku nggak bawa motor. Motor kutaruh di kantor. Tadi aku ke sini naik ojek online supaya lebih efektif dan hemat bensin." Maliq berbicara dengan lancar tanpa jeda, selancar memutar kemudi dengan pandangan fokus ke jalan. Terlihat dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu.


"Oke. Tapi di...?" Anila menggantung kalimatnya untuk dilanjutkan Maliq.


"We'll see. Yang jelas aku sudah buat jadwal tour tarawih untuk kita selama satu bulan." Maliq menyengir hingga terlihat gigi-gigi kecilnya.


"What? Jadi kita pindah-pindah masjid gitu?"


"Iya, seru 'kan?"


Anila mengangkat bahu, tidak tahu pasti akan seru atau tidak. Yang jelas ini kali pertamanya tarawih random bersama orang random yang hanya bermodalkan maps.


***


"So...gimana kelanjutannya?" tanya Maliq sambil melihat liuk jalan dari ketinggian puncak. Ya, mereka sudah di puncak, Bogor. Salat Maghrib dan tarawih di sana. Masjidnya memang indah. Imamnya syahdu membacakan surat. Tidak sia-sia jauh-jauh ke sini. Jelas bisa membuat hati adem, seadem udaranya.


"Sorry?" tanya Anila tidak paham ke mana arah pembicaraan Maliq. Sekilas Anila memandangi rahang Maliq yang terlihat jelas karena rambutnya sudah diikat rapi kembali. Ya, saat salat Maliq melepas ikatan rambut sebahunya. Makruh hukumnya mengikat rambut bagi laki-laki saat salat. Di mana jika dilakukan tidak akan mendapat dosa, namun jika ditinggalkan akan mendapat pahala.


"Ya, cerita kamu. Belum selesai, 'kan?"


"Oh, tentang Mas Rana?" Anila memastikan.


"Ya, tentang itu." Entah kenapa menyebut nama Ranala menjadi sulit bagi Maliq. Rasanya sudah di ujung bibir, tapi tidak bisa terucap.

__ADS_1


"Ya, dasar aku memang naif. Aku nggak sadar kalau Mas Rana marah saat itu. Sama sekali," tegas Anila memulai ceritanya.


***


"Mas," panggil Anila pada Ranala yang langsung membanting pintu mobil setibanya di rumah. Ranala meninggalkan Anila masuk ke dalam rumah.


Mungkin Mas Rana terlampau lelah. Hingga malas bicara, gumam Anila dalam hati.


Perempuan berkemeja flannel itu memasuki rumah yang masih menyala beberapa lampu penerang, akibat ditinggal semalaman. Sambil mematikan saklar, Anila menyapu pandangannya. Tidak ada Ranala, sepertinya sudah masuk ke kamar.


Saat pintu kamar Anila buka, Ranala yang sedang duduk di sisi tempat tidur beranjak. Melewati Anila yang masih terpaku di muka pintu. Anila baru menyadari, Ranala menghindarinya. 


Tanpa berpikir panjang, Anila mendahului langkah Ranala, dan memblokir jalannya. "Mas, mas kenapa, sih?" tanya Anila polos.


Laki-laki dengan kumis dan jenggot yang menyatu itu tidak punya pilihan lain selain menjawab. Toh dia tidak bisa beranjak, mengingat Anila tengah memblokir jalannya dengan tangan terlebuka. "Come on, Anila. Kamu masih tanya aku kenapa?" Ranala berbalik menjauhi Anila.


Anila tatap mengejar Ranala. Baginya masalah itu harus dibicarakan, bukan dibiarkan. "Ya … aku memang nggak tahu salah aku apa. Tapi tadi kita masih baik-baik aj…."


"Ya, baik-baik saja. Kita baik-baik saja sebelum saya tahu kalau kamu buka HP saya. Saya nggak pernah, ya, ngusik privasi kamu. Dan saya harap kamu juga bisa seperti itu."


Wajah Anila memanas. Kata ganti saya-kamu lagi? "All right, fine. Selama ini aku tidak pernah mengusik ranah pribadi Mas Rana. Meskipun kalau aku masuk ke sana juga ... itu wajar. Kita mas, bukan saya atau kamu. Pernikahan sudah menciptakan kita. Bukan lagi rumahmu, rumahku, tapi rumah kita. Bukan lagi masalahmu, masalahku, tapi masalah kita. Bukan lagi tentangmu, tentangku, tapi tentang kita. Kita, Mas. Kita!" Anila sama sekali tidak mengedip, menunjukan betapa serius kalimatnya.


"Kenapa Mas Rana seolah memberi batas. Sampai segini, loh, kamu boleh tahu tentang aku." Anila mengangkat kedua telapak tangan berhadapan, memberi gestur hanya sebagian area itu yang boleh Anila masuki.


"Aku ngerasa, aku sama sekali nggak kenal Mas Rana. Wajar, kan, kalau aku tanya-tanya. Tanyanya juga langsung ke Mas, nggak ke orang la…," belum juga Anila menyelesaikan kalimatnya, Ranala memotong.


"Kalau sudah tahu juga belum tentu kamu paham," ketus Ranala. Baru kali itu Anila mendapat perlakuan ketus suaminya. Meskipun biasanya memang tidak hangat, tetapi tidak kasar seperti itu juga.


"Just let me try!" tantang Anila.


"Nggak usah mulai, deh. Awas!" Ralana berusaha menyingkirkan Anila yang menutupi jalannya.


"Bagaimana, kalau mulai … apa Mas cinta sama aku?"


Ranala menghentikan pemberontakannya. Memandang Anila seolah berkata, apakah kamu yakin dengan pertanyaanmu?


Anila mengangguk seperti paham dengan pikiran Ranala.


"Minggir!" perintah Ranala.


"Come on. It's not a hard question. Do you love me?" paksa Anila.


Ranala menyerah dengan sikap Anila yang pantang menyerah. Dia tidak akan berhenti sampai mendapat jawaban.


"I'm trying to…,"

__ADS_1


__ADS_2