Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 43 - PERMINTAAN PAPI


__ADS_3

"Terima kasih, Ummi," ujar Anila saat hendak berpamitan pada Ummi, istri Ustaz Rahmat. Ummi-lah penguat Anila hingga mampu menyelesaikan tahap demi tahap terapi emosi.


"Sama-sama, Teh. Jangan sungkan kalau ada yang mau ditanyakan. InsyaAllah HP Abi saya yang pegang, jadi nggak usah ragu kalau mau WA," ujar Ummi sembari mengusap punggung tangan Anila.


"Baik. Saya pamit, Ummi."


"Mari saya antar, Teh." Ummi membersamai perempuan berkerudung hijau army itu menyusuri lorong kelas darurat yang disekat triplek. Sekolah sederhana untuk para penghafal Quran. Anila tidak dapat menahan diri menelisik ruangan-ruangan seadanya itu melalui sudut matanya. "Pikiran manusia itu terbatas, Teh. Kadang kala kita tidak perlu tahu semuanya. Kita cukup menyaring apa yang penting," ujar perempuan sederhana itu. Mungkin karena memergoki Anila yang terlihat meneliti seluruh penjuru kelas yang dilewati.


"Oh, maaf, Ummi," sesal Anila.


Perempuan sederhana tanpa riasan wajah itu melambaikan tangan pada Anila yang berlalu dengan taksi online. Perempuan bersahaja yang menenangkan siapa saja yang berada di sampingnya. Pantas saja Ustaz Rahmat sangat bergantung pada keberadaan perempuan itu. Terbias harapan di benak Anila bisa menjadi sosok menenangkan layaknya Ummi.


Anila menghenyakkan punggungnya pada sandaran jok taksi online, merasa dirinya memiliki banyak PR untuk memperbaiki diri. Biarlah fokusnya kali ini hanya untuk perbaikan diri, tentang Ranala, dia yakin bisa mengikuti.


Mobil sedan hitam terparkir di pelataran rumah Papi. Ranala? Tumben masih sore dia sudah pulang, batin Anila.


Perempuan stylish itu memasuki pelataran menuju pintu depan yang terbuka. Ada Ranala yang duduk memunggungi pintu. Laki-laki yang masih rapi dengan kemeja body fit-nya tidak menyadari kedatangan Anila. Laki-laki itu tampak terlibat perbincangan akrab dengan seseorang di telepon.


"Ya, nanti aja kita ketemuan untuk ngebahasnya, ya. Nggak enak kalau dibahas di telepon." Suara lembut itu jelas bukan cara berkomunikasi sesama laki-laki. Terlalu menggelikan.


"Assalamu'alaikum," sapa Anila pelan tetapi membuat Ranala tersentak.


"An?" katanya kikuk.


"Orang salam itu dijawab, Mas," sindir Anila dengan nada bicara rendah tetapi sukses membuat wajah itu membeku beberapa detik. Anila tidak menunggu Ranala menjawab salamnya, dia memilih berlalu dan masuk ke kamar tidur Anna, tempat istirahatnya sementara saat di rumah Papi.


Setelah pintu kamar ditutup, Anila terduduk lemas di balik pintu. Dia menarik sebuah jaket yang tergantung di sandaran kursi, jaket parasut Maliq. Perempuan yang masih berpakaian formal lengkap itu meremas jaket parasut dan memeluk dirinya sendiri. Dalam bayangannya jelas wajah Maliq-lah yang sedang mendekapnya.


Maliq, maaf aku ingkar. Biarkan aku menangis hari ini saja. Besok aku janji akan kembali bahagia, seperti janjiku, batin Anila.


"An, Allah sedang mengujimu, untuk tahu sekuat apa niat hijrahmu. Aku akan terus bersamamu, setidaknya doaku. Sama-sama kita berjuang. Tenang, tidak akan lama, setidaknya cukup seumur hidup saja. Setelahnya hanya akan ada bahagia." Sosok Maliq menghilang bersama datangnya kabut.


"Mal?" Anila terhenyak dari tidurnya di atas lantai marmer yang dingin. "Astaghfirullah." Dilihatnya jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Ternyata Anila tertidur selama satu jam sembari memeluk lututnya yang terselip jaket parasut Maliq.

__ADS_1


Anila menarik nafas masygul, menguatkan kakinya untuk berdiri menopang beban tubuhnya. Kakinya yang masih terasa lemas dibantu oleh kedua tangannya yang berusaha menggapai sandaran kursi sebagai pegangan. Perlahan, Anila kembali tegak, mulai merasa kuat, bukan hanya berdiri tetapi menghadapi apa pun kemungkinan yang terjadi. Bersamai terus aku, Ya Allah, pinta Anila dalam hati.


...***...


Rumah Anna dibuat sedemikian rupa seperti cottage. Terletak di tempat tujuan wisata salah satu alasannya. Supaya bisa jadi tempat jujugan—dalam bahasa jawa berarti tempat singgah—keluarga dan teman, begitu katanya. Agar tamu bisa memiliki privasi, tambah Mas Dani—suaminya..


Anila memasuki bangunan berukuran 4 x 8 meter persegi itu. Sebuah ruangan besar tanpa sekat. Di dalamnya terdapat tempat tidur king size dengan sprei putih, lengkap dengan guling dan bantal serta balutan bed cover senada.


Baiti Jannati, begitu Anna dan Mas Dani, menamai rumah mereka ini. Tidak seperti rumah pada umumnya. Kumpulan rumah dalam satu blok ini lebih menyerupai cottage. 


Terdapat empat bangunan sebagai pondok, dan satu bangunan terpisah sebagai ruang kumpul. Di ruang kumpul-lah ruang makan, dapur bersih dan kotor, hingga ruang hiburan menjadi satu dalam balutan dinding kaca di ketiga sisi dan satu sisi lain ditutupi dinding bata ekspos dengan kombinasi tegel kunci.


Satu pondok tempat peristirahatan Anna dan Mas Dani, di seberangnya ditempati Mami dan Papi, di ujung terluar nantinya akan menjadi tempat rehat Ayah dan Bunda, sedangkan satu lagi, pondok yang terdekat dengan ruang kumpul adalah ruangan Anila dan Ranala.


Ranala yang kelelahan menyetir semalaman selama lebih dari delapan jam memutuskan langsung beristirahat di dalam pondok. Sementara Anila yang masih enggan satu atap dengan laki-laki itu berniat berjalan keluar menyusuri Baiti Jannati sambil melihat-lihat.


Anila keluar dari salah satu pondokan itu setelah menatap tubuh lelah yang sudah terkapar tidak berdaya di atas petiduran, bahkan tanpa sempat mengganti pakaian. Anila menyipitkan mata untuk menyaring cahaya matahari yang kontras masuk. Beradaptasi dari teduhnya ruangan pondok langsung ke langit luas tanpa batas. 


Perempuan yang sudah merubah gaya berpakaian lebih syar'i itu memperhatikan desain pondok itu. Pondok segitiga dengan dua lereng simetris ini lebih mirip tenda. Atapnya menjuntai hingga hampir menyentuh tanah, sehingga atap ini memiliki dua fungsi, yaitu atap itu sendiri dan dinding.


“Lho, An. Nggak capek? Kok nggak istirahat?” tanya Anna yang ternyata sedang berada di dapur bersih pada ruang kumpul.


“Nggak bisa tidur, Mbak. Lha wong masih terang begini,” jawab Anila menunjuk langit biru cerah tanpa awan.


“Ya udah, mau Mbak buatkan kopi?” tawar Anna.


“Nggak usah, Mbak, aku bikin sendiri aja.”


“Gelas, saringan kopi, semua di meja Mas Dani itu ya, An.”


“Iya, Mbak. Eh, ngomong-ngomong Mas Dani, kemana Mas Dani, kok, nggak kelihatan, sih?”


“Masih di Makassar dia. Nggak kebagian tiket sebelum lebaran. Jadi baru besok sorean sampenya," jelas Anna.

__ADS_1


"Loh, nggak lebaran di sini, dong?"


"Yah, mau gimana lagi, An. Yang penting, sih, nanti pas lahiran bisa nemenin." Anna mengusap perutnya yang sudah terlihat sangat besar.


Perempuan dengan kerudung segi empat yang tidak lagi diikat melainkan dibiarkan terurai menutupi dada itu tersenyum miris menanggapi kalimat Anna. Seandainya semua baik-baik saja, anaknya-lah yang akan menjadi cucu pertama di keluarga ini.


Astaghfirullah. Anila segera menepis pengandaian yang melintas, sebab Rosul membenci kata 'seandainya', karena membuka pintu bagi setan untuk masuk dan menghias-hiasi sesuatu yang sudah Allah tetapkan.


Gelas berisi robusta hitam panas tanpa ampas hasil saringan Vietnam drip dipeluk dengan telapak tangan Anila. Hangat. Cukup menghangatkan tubuh dari sejuknya hawa kaki gunung Merapi.


Anila berjalan menuju sisi lain dari ruang kumpul dengan kopi di tangannya. Tiga kursi kayu di samping luar ruang kumpul. Ketiga kursi tersebut menghadap lereng tempat aliran lahar, muntahan Gunung Merapi, yang kini menghijau, lebat, dan subur. Hal yang manusia pikir merusak, justru menjadikannya lebih baik, angan Anila melayang.


Anila menduduki salah satu dari ketiganya. Merefleksikan dengan hal yang tengah dialami, mungkinkan semua ini justru akan menjadikanku manusia yang lebih baik?


"Nak." Suara lembut Papi mengagetkan Anila.


"Iya, Pi." Anila yang terlalu larut dalam suasana tidak menyadari kehadiran Papi. "Papi mau apa? Mau kopi? atau air panas?" tanya Anila canggung.


"Engga, Nak," tolak Papi. "Makasih, ya, Nak," serunya lirih hingga nyaris tidak terdengar. "Makasih sudah mengabulkan keinginan Papi. Meski ini pasti sulit buatmu."


Anila menunduk sebentar dan kembali memperhatikan lereng aliran lahar sembari mengamini dalam hati.


"Boleh Papi minta satu hal lagi?" pinta Papi seraya memutar sedikit posisi duduknya menghadap Anila.


"Boleh, dong, Pi. Papi mau apa?" tantang Anila yang sebenernya juga ragu bisa mengabulkan permintaan Papi atau tidak. Tetapi menolak, jelas bukan saat yang tepat mengingat kondisi Papi yang terlihat lemah.


"Papi mohon, tolong ceritakan tentang Papi ke anak kamu dan Rana nanti, ya. Supaya mereka kenal Papi, dan mau mengirimkan doa untuk Papi."


"Anak?"


......***......


......Nah, loh. Belum juga rujuk, Papi udah minta cucu aja. Auto tepok jidat, nggak, si Anila?......

__ADS_1


__ADS_2