Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 15 - KHAWATIR YANG DIRINDUKAN


__ADS_3

Isyarat tanpa suara, hanya gerak bibir yang terbaca, "Nanti aku telfon."


Anila tidak berani menengadahkan kepalanya untuk mencari tahu kejelasan. Entahlah, dia hanya tidak mau semua gambaran baik dalam benaknya berubah.


Sekejap Anila memejamkan mata. Menenangkan hatinya, berbicara pada dirinya sendiri. Semua baik-baik saja.


Anila menguatkan diri berbalik. Melambaikan tangan pada mobil yang sudah berlalu.


...***...


Tanpa terasa, rupanya Anila terlalu lama larut dalam tumpukan barang-barang yang tidak keruan. Tidak satu pun telepon masuk yang diangkat, begitu pun pesan yang dibalas. Anila tenggelam dalam kekacauan ruangan dan pikirannya.


Matanya sembab. Beberapa kali dia menghentikan gerak tangannya menyusun kerusuhan yang dibuatnya sendiri, untuk menyeka matanya yang berembun. Menarik nafas lebih panjang, menenangkan diri untuk memulai kembali.


Ujung mata Anila menangkap sesuatu pada interkom. Layar interkom menunjukan gambar seseorang dengan rambut terikat. Perlu waktu bagi Anila untuk menyadari tamunya di lantai dasar. Maliq? Ngapain dia ke sini?


Anila mengganti pakaian yang lebih layak. Mengurai rambutnya, kemudian mengikat cepat dengan mengumpulkan seluruhnya di atas kepala. Anila melihat betapa buruk keadaan wajahnya. Mata sembab, wajah pucat tanpa make-up. Sempurna, kesalnya saat mencoba menutupi tapi sia-sia.


Anila menemui Maliq di lantai dasar. Berjalan dengan langkah lamban, tetapi tidak disangka. Orang yang menunggunya langsung berlari ke arahnya. Menunjukan wajah yang sulit dijelaskan. Rindukah atau cemaskah?


"An ...," katanya sambil menatap Anila lama tanpa melanjutkan kalimat. Anila jengah dengar tatapannya.


"Udah buka?" tanya Anila. Pertanyaan yang kemudian membuatnya terdengar bodoh, karena basa-basinya kentara sekali. Jelas belum buka, azan saja belum terdengar.

__ADS_1


"Be … belum?" ucap Maliq. Sepertinya dia juga bingung dengan pertanyaan Anila.


"Buka di sini saja, ya. Udah azan," tawar Anila. Basa-basi lain yang akan membuatnya menyesal. Membiarkan Maliq melihat kekacauan lebih nyata, tentangnya dan dunianya. Perfect, Anila. Sekarang Maliq akan melihat betapa menyedihkannya dirimu, runtuknya dalam hati.


"Hm … Tapi maaf apartemennya berantakan," ucap Anila sebelum membuka pintu apartemennya.


Maliq mengangguk. Pertanda bukan masalah. Namun, "Astagfirullah, An. Kamu habis ngamuk?" tanya Maliq kaget.


Anila tidak menjawab, hanya membalas dengan senyum seraya berkata, "Kamu ngapain ke sini, sih?" Anila mengalihkan pembicaraan.


"Aku ke kantor kamu, katanya kamu sakit. Salah sendiri ditelfon nggak diangkat. Bikin orang khawatir aja."


Khawatir? Ternyata ini arti tatapan itu.


Anila menghela nafas keras. "Besok-besok nggak usah kirim-kirim lagi." Anila merasa tidak enak dengan segala bentuk perhatian Maliq.


"Iya, lah. Bisa habis juga gaji aku kalau tiap hari traktir kamu," goda Maliq.


Lagi-lagi Anila hanya membalas dengan senyuman. Tidak ada bantahan. Seperti ada yang berbeda. Anila biasanya akan mendebat setiap kalimat Maliq.


"Duduk," perintah Anila menunjuk sofa. Sementara Anila sendiri bertolak menjauh. Mengambil piring, menyiapkan air minum, memotong buah, semua dilakukan dalam diam.


"Udah makan kolak kita salat maghrib dulu, ya." Maliq memecah keheningan. Anila menikmati kolak dalam diam. Anila menjawab dengan anggukan pelan. Lagi-lagi tidak ada penolakan. Kenapa Anila jadi penurut sekali, sih? Nggak seru.

__ADS_1


"Kamu habis makan, tarawih di masjid aja, ya," pinta Anila. Anila tidak mau Maliq berlama-lama melihat kondisi dirinya yang kacau. Lagi pula berlama-lama dengan lawan jenis berdua dalam satu ruangan tentu tidak baik. Apalagi Anila pernah menyimpan rasa. Pernah? Anila tidak yakin. Entah pernah atau masih.


"Iya," jawab Maliq singkat. "Tapi ... kamu baik-ba …."


"Apaan sih? I'm Oke," potong Anila cepat dengan senyum kecil dipaksakan. "Dah, yuk, aku antar." Anila beranjak menuju pintu. Maliq mengambil tasnya, mengekor tepat di belakang Anila.


Belum juga Anila membuka pintu, dia berbalik karena melupakan kunci pintu yang diletakkannya di meja. Saat berbalik, secara tidak sengaja Anila menabrak tubuh Maliq hingga tak berjarak.


Anila bisa mencium aroma maskulin Maliq dengan nyata. Ternyata ini sumber kenyamanan dari jaket parasut itu. Dadanya seperti menawarkan kehangatan. Anila mengabaikan malu, melingkarkan tangan pada tubuh Maliq. Sontak Maliq bergidik mencoba menghindar.


"Sebentar saja, Mal. Please," pinta Anila lirih. Ragu-ragu Maliq diam pasrah diperlakukan demikian. Namun kemudian, tangannya ikut melingkar merangkum tubuh Anila dengan lengannya. Isak tangis Anila merubah menjadi derai yang tidak dapat dihentikan.


Anila lelah berpura-pura, bertingkah seolah semua baik-baik saja. Anila lelah bersembunyi di balik kesibukannya. Hari ini saja. Hari ini saja dia lemah. Biarlah, hari ini saja. Ya, hanya hari ini saja untuk dia bisa jujur pada dirinya. Bahwa, dia sedang tidak baik-baik saja.


...***...


Derai Anila melemah, bersamaan dengan melonggarnya sabuk tangan yang melingkar pada tubuh Maliq. Anila menjauhkan tubuhnya dari Maliq, "Maaf," katanya dengan sisa isak.


"Yuk," Anila mengambil kunci dan menuju pintu.


"Aku turun sendiri aja," kata Maliq yang masih terpaku di tempat semula. "Kamu kelihatan capek. Masuk kamar, gih. Salat dulu, terus tidur."


Anila masih merasa janggal dengan dirinya sendiri. Tidak biasanya dia mudah rapuh di depan orang lain. Anila mengangguk. Masih, tidak ada bantahan. Menyetujui usul Maliq.

__ADS_1


Tidur adalah cara terbaik melupakan kesedihanmu. Sementara.


__ADS_2