
“Sar, udah siap semuanya?” Anila mengecek barang pada mobil minibus kantor.
“Su … sudah, Mbak,” jawab Sari sambil menggigit ujung bibirnya ragu.
Anila melepas napas kasar. “Terus, kita tunggu apa?” Anila membalikkan badan menghadap Sari dengan tangan bersedekap. Anila tahu ada yang tidak beres.
“A … anu, Mbak.”
Anila menaikkan kedua alisnya cepat bersamaan gerakan kepala. Tidak sabar menunggu jawaban Sari.
“Bapaknya Rima masuk rumah sakit, Mbak,” kata Sari cepat dalam satu tarikan napas.
“Rima? Siapa Rima?” sindir Anila.
“Rima, SPG (Sales Promotion Girl) kita, Mbak. Yang rambutnya ….”
“Saya enggak peduli dengan rambutnya, mukanya, kakinya. Yang saya tanya, siapa Rima sampai kita harus nunggu dia? Sampai kita harus nunda keberangkatan.” Tidak ada jawaban. Sari menundukkan kepala dalam-dalam.
“Kapan dia kasih kabar?” Anila sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Sari yang makin tertunduk.
“Se … semalam, Mbak.”
“Semalam? Selama itu juga kamu nggak cari pengganti?” Suara Anila tidak lantang, tetapi berhasil mengintimidasi Sari.
“Tapi Rima butuh kerjaan in ….”
“Kalau dia memang butuh, dia akan memprioritaskan, Sari!” sanggah Anila. “Ini semua salah kamu,” jeda Anila sebelum melanjutkan, “Kalau kamu enggak punya pengganti buat nyusul kita sekarang, kamu yang harus gantiin Rima.”
“I … iya, Mbak.”
“Sudah mau subuh lagi,” bisik Anila pada dirinya sendiri. Anila melihat jam rantai bermerek yang melingkar di tangannya. “Pak, kita jalan aja!” perintah Anila pada supir kantor. Diikuti beberapa SPG masuk ke dalam mobil minibus ber-branding serba merah. “Sari, kamu ikut mobil saya!” perintah Anila tiba-tiba.
“Ba … baik, Mbak.” Sari terhenyak. Kepalanya langsung terangkat, segera membawa seluruh keperluan pameran.
***
Hening tanpa suara di dalam mobil sedan putih itu. Baik Sari maupun Anila sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Anila konsentrasi dengan jalanan yang masih gelap dan lengang.
Perempuan berusia lebih dari seperempat abad itu menikmati sepi seperti ini. Tampak sang bulan rela bergeser, siap diganti. Sebagian besar penduduk kota metropolis memilih berlindung di balik tembok bata, melindungi diri dari dinginnya pagi. Hanya ada beberapa yang sama melintas.
__ADS_1
Sementara Sari sibuk memikirkan bahan pembicaraan untuk mencairkan suasana. Namun, tak juga menemukan topik yang pas. Topik yang dia pikir bisa membuat Mbak Anila melupakan kesalahannya. Akhirnya dia memilih diam melihat kosong ke luar jendela.
Sedan putih melambat, menepi, kemudian berhenti tepat di depan bangunan bernuansa hijau. Sari menengok ke arah pengemudi, berharap ada penjelasan, mengapa berhenti. Padahal mereka sedang mengejar waktu, untuk tiba di lokasi pameran sebelum jalanan ramai di akhir pekan.
“Telepon supir kantor, suruh mereka berhenti di sini juga,” perintah Anila tetap tanpa penjelasan.
Dengan cepat Sari menekan benda pipih hitam yang sedari tadi berada di genggamannya. Sari melihat sekitar, menemukan tanda yang cukup mencolok. Berharap tanda itu bisa mempermudah supir kantor menemukan keberadaanya. Gadis
tinggi semampai khas SPG itu terlibat perbincangan singkat, makin samar terdengar oleh Anila.
Anila sudah keluar dari mobilnya, menunggu Sari melakukan hal yang sama. Namun yang ditunggu tidak kunjung keluar. Anila terpaksa membuka kembali pintu kemudi. “Sar, ayo!” ajak Anila.
“A … anu, Mbak. Ayo ke mana, ya?”
“Kenapa? Kamu lagi halangan?” tanya Anila heran. Bukankah jelas suara adzan nyaring berkumandang. Rasanya tidak perlu Anila menjelaskan ke mana tujuannya.
Bibir Sari membulat tanpa suara. Namun tetap bergeming. “Saya … tunggu di mobil saja, ya, Mbak. Sa … ya sudah make up-an.” Sari terbata-bata mencari alasan.
Bos yang terkenal judes itu membuka mulutnya tidak percaya dengan yang baru saja didengar. “Keluar sekarang, kita salat!” desak Anila tidak mengindahkan alasan konyol Sari.
Anila dan Sari jalan hampir berdampingan. Posisi Sari sedikit di belakang. Anila melambatkan langkahnya hingga sejajar dengan Sari. "Gaji kamu enggak seberapa. Jangan sampai kamu sengsara di dunia, sengsara juga di akhirat.” Anila kembali mempercepat jalan mengikuti panah bertuliskan ‘wudu wanita’.
***
Sayup terdengar musik religi yang mengalun di radio. Anila memindahkan saluran melalui tombol pada kemudi. Berganti suara ceramah. Alih-alih menyimak, Anila memilih mematikannya. Selepas subuh seperti ini, tidak banyak pilihan siaran radio menarik baginya. Siaran radio kalau bukan ceramah, ya, lagu religi.
“Sar,” seru Anila pelan tetapi mengagetkan Sari.
“Iya, Mbak.” Sari langsung memusatkan pandangan. Matanya tertuju pada perempuan dengan rambut cepol model Korean Bun di samping. Sejenak dia mengagumi kecantikan atasannya meski tanpa riasan.
“Kamu buka laci dashboard.” Anila memerintah dengan tangannya menunjuk laci di depan Sari. Membuat Sari terkesiap. “Itu amplop isinya uang untuk pelunasan stand. Jangan lupa minta kuitansi. Kamu enggak lupa bawa materai, kan?” tebak Anila.
“Enggak, Mbak. Saya bawa beberapa untuk cadangan juga.” Kali ini Sari percaya diri.
“Oke. Sisanya buat uang makan, dan transport anak-anak SPG. Masih ingat pesan saya?”
“Ingat, Mbak. Belikan makanan sehat untuk SPG. Jangan kasih mentahnya.”
“Bagus! puji Anila. “Saya enggak mau kerja sama orang penyakitan. Apa lagi yang penyakitnya dibuat sendiri. Bikin repot,” lanjut Anila. “Bikin jadwal istirahat dan salat mereka. Jangan sampai telat makan dan salat.”
__ADS_1
“Iya, Mbak.”
“Udah?” tanya Anila memastikan.
“Apanya, Mbak?”
“Bikin jadwal, Sari!”
“Siap, nanti saya bikin, Mbak.”
“Terus sekarang kamu mau ngapain? Menikmati pemandangan? Kamu pikir kita lagi tamasya? Sekarang, Sari! Kamu saya ajak di mobil saya buat koordinasi, bukan buat rekreasi!” sindir keras Anila lagi.
Tanpa bantahan lagi, Sari membuka aplikasi Note di ponselnya. Sibuk sesaat. “Sudah, Mbak.”
“Nah, gitu dong. Biar ada gunanya kamu ikut saya.” Kali ini ada senyum hangat dari ujung bibir Anila. Sehangat matahari yang mulai berani menampakkan diri.
Di atas kemudi, Anila memainkan cincin emas putih yang melingkar di jari manis. Hal itu mengusik rasa ingin tahu Sari. Suasana yang sudah mulai menghangat. Ini bisa dijadikan bahan basa-basi, pikir Sari.
"Mbak, weekend gini Mbak enggak jalan sama suami? Ke Bandung, gitu? Atau suami Mbak enggak ke Jakarta?" Sari bertanya tanpa sungkan. Karena dia memang sungguh penasaran dengan sosok suami dari bosnya. Laki-laki seperti apa yang bisa menaklukan perempuan setangguh dan semandiri Anila. Pastilah laki-laki sukses dengan penuh wibawa, yang mampu mengimbangi Anila, pikir Sari.
Perempuan di balik kemudi itu menengok sekilas ke arah Sari. Tidak percaya dengan pertanyaan yang berani Sari kemukakan. Berharap Sari menganulir pertanyaannya. Namun, si penanya tidak peka pada kesalahannya.
"Sari,” seru Anila dengan nada rendah kemudian melanjutkan, “saya hire kamu untuk ngurusin urusan kerjaan. Bukan ngurusin urusan saya."
Sari segera menyadari kesalahan dari pertanyaannya. "Ma … maaf, Mbak."
Sialnya, pertanyaan Sari membawa pikiran Anila kembali pada memori tujuh tahun silam. Saat Anila memutuskan menerima Mas Ranala sebagai suaminya.
***
Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha bil Mahril Madzkur Haalan.
Bacaan yang tidak terlalu panjang, tetapi sakral. Mampu menyatukan dua insan yang semula bukan siapa-siapa, menjadi halal di mata Allah. Kalimat yang tidak hanya mengandung keromantisan, tetapi kewajiban, tanggung jawab, dan yang paling penting rida Sang Maha Cinta.
Dengan adat Sunda, Ranala—laki-laki selisih lima belas tahun dengan Anila—mengenakan beskap putih. Berpayet senada yang menjulur dari pundak hingga dada. Balutan kain berwana putih coklat sebagai bawahan. Blankon dengan warna dan motif yang sama, membingkai wajah tegas Ranala.
Anila dan Ranala duduk bersebelahan. Penghulu meminta mereka saling berhadapan. Memberi instruksi pada Ranala untuk memegang ubun-ubun Anila. Menuntun kalimat demi kalimat, membacakan doa yang mengandung arti, "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
Inilah puncak dari keromantisan. Tidak hanya sekedar kalimat I Love You. Namun penerimaan secara utuh pasangan, baik dan buruknya. Ada bulir bening menetes di ujung mata Mas Ranala. Namun segera dihapus saat tahu Anila memergokinya. Anila pun sama terharunya. Embun bening itu sama menetes. Namun belakangan baru Anila sadari perbedaan arti air mata mereka.
__ADS_1