
"Karena kamu ada di Bandung." Maliq berhenti sesaat, "Siapa tahu, ada satu saat di mana menu makanan kita sama," lanjutnya.
"Dasar manusia random. Terus esensinya makan dengan menu yang sama apa? Ya, kali yang makan timbel aku doang," cibir Anila. Anila tidak habis pikir dengan cara berpikir Maliq yang menurutnya menjadi sangat … tidak masuk akal.
Maliq hanya terkekeh tidak melanjutkan pembahasan tentang makanan.
"Motor Bapak?" Anila memutar kepala melihat motor tua Maliq terparkir di bawah rinai hujan.
Maliq menggeleng, kemudian sama menatap motor yang kini basah kuyup diguyur titik-titik air yang berjatuhan tanpa jeda. "Sudah dijual," jawabnya. Keduanya sama terdiam. Tujuh tahun tentu banyak kabar yang Anila lewatkan. "Untuk berobat," lanjut Maliq.
"Bapak sakit?" tanya Anila dengan mata membulat.
Lagi-lagi Maliq menggeleng. Bukan hanya mata Anila membulat, kini alisnya pun saling mendekat. "Sekarang ... Bapak udah nggak sakit," ujar Maliq dengan senyum yang dipaksakan. "Bapak udah nggak ngerasain sakit lagi. Insya Allah husnul khatimah."
Innalillahi. Anila serba salah, "Maaf, aku nggak tahu."
"Tahun terberat," seru Maliq dengan suara hampir tercekat. "Dua orang yang paling berarti pergi." Anila membiarkan Maliq melanjutkan cerita tanpa menyela. Pasti berat menceritakan tentang kepergian orang yang dicinta. "Sempet hopeless. Nggak pengen nyelesein kuliah. Kalau bunuh diri dibolehin, mungkin …."
"Astaghfirullah. Istighfar, Maliq," sanggah Anila.
"Kan, kalau," balas Maliq mulai cengengesan lagi. "Tapi enggak, lah. Lagian aku belum nikah. Rugi amat udah mati," goda Maliq melihat Anila yang masih membulatkan mata tidak percaya.
"Ih, nggak lucu. Bukan bahan candaan yang bagus." Anila sewot, berpaling. Bibirnya mengerucut.
Ada sisa tawa di bibir Maliq melihat kelakuan Anila. Kemudian kembali hening, sama larut dalam pikiran masing-masing.
...***...
__ADS_1
"Hujannya makin deras. Kamu naik Taksi Online aja, ya," saran Maliq.
"Kamu?"
"Aku ikutin Taksi Online kamu sampai apartemen."
Anila melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah malam memang. Anila harus mempersiapkan beberapa berkas untuk presentasi besok. Maliq pun pasti sama. Banyak yang harus dikerjakan menjelang hari Senin.
Anila mengangguk, tidak mempunyai pilihan lain. Maliq memesankan Taksi Online dari ponselnya.
"Udah datang," kata Maliq seraya melihat aplikasi dalam ponselnya.
"Aku pulang, ya," pamit Anila dengan berat hati. Tidak dipungkiri, ada bahagia saat bersama Maliq.
"Oke, aku di belakang kamu."
Dari balik jendela mobil yang bertitik air, Anila memastikan Maliq sudah siap dengan jas hujannya. "Tunggu sebentar, ya, Pak," perintah Anila pada supir Taksi Online. Setelah yang ditunggu siap, Maliq sudah tampak duduk di kursi kemudi motornya. Anila pun memerintah, "Jalan, Pak, tapi pelan-pelan aja. Biar motor belakang nggak ketinggalan."
Begitulah persahabatan mereka terjalin. Saling peduli tanpa banyak interogasi. Memahami tanpa ikut mendalami. Membiarkan untuk menemukan nyaman kemudian mengungkapkan.
...***...
Anila memasuki ruang apartemennya. Kondisinya masih sama seperti tadi pagi saat ditinggalkan. Anila melewatkan jadwal bersih-bersih apartemen. Sehari penuh dilalui bersama Maliq. Berbagai rasa menjadi satu. Senang, nyaman, sekaligus cemas disaat bersamaan. Entahlah, ada satu perasaan yang mengganjal, mengisyaratkan ada sesuatu yang salah.
Setelah membersihkan diri, Anila kembali teringat pada Maliq. Apa dia sudah sampai di rumah? Dia masuk angin enggak, ya? Ah, bodohnya. Seharian penuh dihabiskan bersama Maliq, tetapi mereka tidak saling bertukar nomor.
Anila memutar-mutar ponsel dalam genggamannya. Membuka kuncinya, melihat layar yang menyala, kemudian mematikannya kembali. Ragu, tetapi keingintahuan yang besar mendorongnya. Anila menekan rangkaian nomor yang tidak tersimpan dalam memori ponselnya. Namun, jari-jarinya cepat menguntai sebelas nomor, yang masih sangat diingat oleh otak dan reflek jarinya.
__ADS_1
Anila : "Hai."
Anila : "Sudah sampai?"
Anila : "Ini aku, Anila."
Anila menatap layar ponsel yang menampilkan ruang chat. Rasanya lama menunggu tanda jam menjadi centang. Anila hampir menyerah. Sepertinya memang betul, semua akan berubah seiring waktu. Termasuk nomor yang Maliq gunakan. Maliq pasti sudah mengganti nomornya.
Hilang harap, Anila meletakkan ponsel yang masih menyala di atas nakas samping tempat tidur. Namun, tiba-tiba tanda jam berubah menjadi centang satu, dan dengan cepat berubah menjadi centang dua. Cepat-cepat Anila mengambil kembali ponsel dengan satu tangan. Sementara tangan lain yang masih terbebas menahan teriakannya dengan menutup mulutnya sendiri. Maliq benar, tidak semua tentangnya berubah. Bahkan nomornya pun masih sama.
Satu menit, dua menit kemudian. Anila berusaha mengalahkan rasa lelah dan kantuknya demi menunggu balasan dari Maliq. Pesannya tidak kunjung dibaca Maliq. Tanda centang dua belum berubah warna. Anila memandang sambil merebahkan tubuhnya, penuh harap. Hingga matanya lelah terlalu lama menatap layar. Sedetik Anila terlelap, benda dalam genggamannya bergetar. Menimbulkan efek seperti hypnic jerk, atau sentakan dalam tidur.
Perlu beberapa kali Anila mengerjapkan mata untuk mengembalikan fokus penglihatan.
08XXXXXXX39 : "Alhamdulillah sudah sampai di kontrakan. Thank you for today."
Detak jantung yang semula tenang karena lelap yang sekejap, sontak ingin melompat dari tempatnya saat membaca chat balasan Maliq.
Anila mengetik membalas : "Alhamdulillah, syukur kalau sudah sampai. Selamat istirahat. Sama-sama. Lain kali aku yang traktir, ya."
Alih-alih menekan tombol kirim, Anila menghapus pesannya. Mengetik kembali dan mengetik sebelum mengirimkannya.
Anila : "Anytime."
...***...
...***Duh, Anila gengsian parah, ya....
__ADS_1
...Pakai hapus dan ketik ulang. Takut dibilang agresif, tuh. 🤭***...