Anila Untuk Anala

Anila Untuk Anala
BAB 29 - MAMI


__ADS_3

"Bener-bener, ya. Anggep aja nggak ada orang," sindir Maliq sambil mengemudikan mobil memecah kemacetan jalan menjelang maghrib.


"Eh?" perempuan yang disindir tidak menyadari.


"Ngelamun terus. Kesambet, loh, nanti," celetuk Maliq yang memperhatikan Anila melalui ujung matanya.


"Bulan puasa, setan nggak ada. Ni aja satu ketinggalan," balas Anila ketus seraya melirik laki-laki di kursi kemudi.


"Sembarangan. Mana ada setan ganteng?" dalih Maliq membuat gelak tawa keduanya pecah. "So… Did something happen?" tanya Maliq, seketika menghentikan tawa keduanya.


Perempuan dengan kemeja satin hitam yang kini digulung lengannya mengangguk. "Tadi aku ketemu Mas Rana."


"Kok, bisa? Kamu nyamperin dia?" tuduh Maliq. Gestur yang menjauh dan menghadapkan badan ke Anila menandakan keterkejutannya. Ada nada tidak suka dalam bicaranya.


Tidak mungkin Anila sengaja mendatangi laki-laki yang telah membangun kecewa. Perempuan itu menggeleng pelan, "Aku kangen Papi."


"Papi?" tanya laki-laki yang tengah menelusuri keramaian lalu lintas.


"Papanya Mas Rana," jawab Anila singkat. Dibalas dengan mulut Maliq yang membulat. "Awalnya aku berniat melihat Papi dari kejauhan. Berharap itu bisa mengobati rinduku. Tapi Mas Rana tiba-tida datang."


"Mau apa dia?" potong Maliq.


"Cuma minta aku untuk ketemu Papi. Tapi aku pikir, tidak saat ini, tidak dengan kondisi aku seperti ini." Anila melihat dirinya sendiri yang sudah tidak berjilbab. "Lagi pula, aku belum siap ketemu Mami."


"Mami? Kenapa?"


***


Mengetahui isi hati Ranala sudah merupakan pukulan yang sangat berat. Anila berharap bisa menutupi kondisi rumah tangga mereka demi menjaga aib suami dan dirinya sendiri. Betapa rendah harga dirinya bila orang lain tahu bahwa hati sang suami bukanlah untuknya. Setidaknya itu yang berusaha Anila tutupi.


Namun, kenyataan berkata lain. Hal yang ditutupnya rapat-rapat, dengan mudah diumbar oleh Ranala.


"An, Ranala sudah cerita ke Mami." Mami membuka pembicaraan saat Anila menemani Mami belanja bulanan.


"Hah? Ten…tentang apa, ya, Mi?" tanya Anila. Perempuan berpashmina hitam itu sontak berhenti mendorong troli dan menghadap ibu mertuanya. Berharap apa yang dipikirkan tidak sama dengan isi kepala perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat modis itu.


"Kamu, harus bisa ambil hati Rana. Rana suka sama perempuan yang mandiri, nggak cengeng, juga nggak cemburuan. Mami itu nggak pernah marahin Rana sejak kecil, makannya dia deket banget sama Mami. Apa-apa cerita ke Mami. Kamu harus belajar banyak dari cara Mami memperlakukan Rana," jelas Mami panjang lebar seraya berjalan melanjutkan memilah kebutuhan. Perempuan dengan rambut potongan sebahu itu meletakkan belanjaan pada troli yang kembali di dorong Anila mengikutinya.


"Rana sudah biasa hidup bebas selama 35 tahun. Tidak ada yang mengekang. Tentu sulit baginya bila harus tiba-tiba hidupnya jadi serba diatur. Apalagi diatur sama anak kecil yang dia belum percaya," lanjutnya dengan terus berjalan menjauhi Anila.


Setetes bulir jatuh dari pelupuk perempuan berkemeja flannel itu. Entahlah, meskipun sebenarnya nasihat Mami bertujuan untuk menguatkan hasrat Anila berjuang mendapatkan hati suaminya, tetapi ada miris yang dirasa. Mengapa seolah harus hanya istri–Anila, yang mengerti kebiasaan suami dan memberi pemakluman. Lantas bagaimana dengan sifat, kebiasaan, dan karakternya? Apakah Mami akan meminta Ranala untuk mengerti pula?

__ADS_1


Cepat-cepat Anila menghapus air yanh membuat jejak di pipi dengan lengan kemejanya. Tidak ingin terlihat lemah dan menyerah sebelum berjuang.


"An," panggil Mami. "Kita ke bagian daging, ya. Mami ajarin cara buat sop buntut kesukaan Rana. Kamu harus bisa bikin sama persis dengan buatan Mami. 'Kan kata pepatah dari perut naik ke hati." Mami memberikan senyum penuh kebanggaan.


***


Maliq mengangguk-anggukan kepala tanda dapat menarik benang merah. Dia dapat mengambil kesimpulan tentang sikap Ranala dengan sikap memanjakan secara berlebihan dari Mami. Sikap itulah yang membuat Ranala hanya berpikir dari satu sisi.


"Tapi itu belum apa-apa," lanjut Anila. "Nih, batalin dulu puasanya." Anila memutar tutup botol mineral dan menyerahkannya pada seseorang yang mengemudikan mobilnya. Menunggu Maliq selesai, menerima kembali, dan menutupnya. Setelah itu, baru gantian Anila yang membatalkan puasa.


"Ternyata, kamu nggak berubah," kata Maliq tiba-tiba.


"Hah?"


"Iya, kamu dari dulu selalu ngeduluin orang lain. Padahal kamu sendiri juga perlu. Padahal aku tahu, kamu kaya gitu karena sebenernya kamu pengen diprioritaskan juga, 'kan?"


Anila membenamkan wajahnya dalam. Dia memang tidak dapat menyembunyikan hal kecil sekalipun dari laki-laki gondrong yang terikat rapi di sebelahnya.


"Memang ada orang yang nggak mau diprioritaskan?" Sebuah pertanyaan yang tidak menuntut jawaban.


***


Dengan demikian, pola pendidikan pada Ranala dan Anna didominasi oleh Mami. Apa yang diajarkan Mami, itulah yang membangun karakter keduanya.


Ranala, anak pertama yang begitu dinanti setelah mengalami dua kali keguguran. Jelas membuat Mami sangat menyayangi dan memanjakan Ranala. Terlebih sepuluh tahun Ranala menjadi anak tunggal, sebelum memiliki Anna sebagai anak kedua.


"Mas Rana itu anak kesayangan Mami banget," kata Anna. Semua keinginannya dituruti, menjadikan Ranala lemah dalam menerima kekecewaan. Termasuk kegagalan saat ditolak Viona.


Awal kekecewaan Anila pada sikap Mama yang terlalu memanjakan Ranala adalah saat itu. Hari itu Anila di rumah seorang diri. Ranala tidak mengkonfirmasi akan keterlambatan kepulangannya. Anila menunggu dalam cemas sambil terus memperhatikan jam digital pada ponselnya. 22.47 angka yang tertera.


Sop buntut hasil belajar dari Mami sudah membeku kuahnya. Bahkan, Anila pun belum menyentuhnya. Dia ingin Ranala menjadi orang pertama yang menikmatinya.


Tidak ada pesan atau panggilan yang masuk. Anila terus mencoba memanggil dan mengirim pesan. Terkirim, tetapi tidak jua dibaca apalagi dibalas. "Di mana kamu, Mas?" Berulang Anila menepis pikiran buruk yang melintas. Kecelakaan, sehingga ponselnya terpelanting. Aaaah…. Anila menggeleng-gelengkan kepala, membuang pikiran jelek yang ditakutkannya menjadi doa.


Mbak Erni. Tiba-tiba nama itu terbersit, daripada terus terpikirkan hal yang tidak-tidak.


"Assalamu'alaikum, Mbak. Maaf banget aku ganggu malam-malam."


"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Mbak?" Ada nada khawatir pada suara Erni.


"Enggak, cuma mau tanya, di kantor lagi ada lembur, nggak?" tanya Anila hati-hati. Biar bagaimana pun dia tidak boleh merendahkan harga diri suami dari bawahannya.

__ADS_1


"Wah, nggak tahu, ya, Mbak. Tadi Erni pulang on time. Temen-temen, sih, masih ada di kantor pas Erni pulang," jelas Erni. "Coba ke Pak Kardi, satpam kantor, Mbak. Hari ini jadwal beliau yang jaga."


Setelah berterimakasih, Anila menghubungi nomor yang Erni berikan. Pak Kardi yang masih berjaga, memeriksa setiap ruangan. Tidak ada seorang pun di kantor tersebut. Kondisi yang membuat Anila semakin panik.


Perempuan muda berpashmina hitam itu menyusuri pekatnya jalan kawasan Villa Dago di malam hari. Dia melewati beberapa rumah besar yang tidak berpenghuni. Entah dorongan dari mana, Anila yang takut gelap memiliki keberanian sebesar itu.


Akhirnya, Anila tiba di tempat yang dituju.  "Pak, saya pinjam motornya, boleh?" tanya Anila pada satpam komplek. "Sebentar, satu jam saja, saya…harus ke ATM." Perempuan muda itu terpaksa berbohong. "Nanti saya isiin bensinnya," tawar Anila dengan senyum dipaksakan.


Perempuan dengan kardigan rajut–bukan jaket anti air atau anti angin khusus pengendara motor–menembus dinginnya udara malam Bandung. Bulan hampir tepat berada di atas kepala, Anila menyusuri jalanan yang biasa Ranala lalui. Bulir demi bulir menetes, tetapi belum sempat turun, sudah hilang tersapu ganasnya angin malam.


Sepi, tidak ada tanda-tanda telah terjadi kecelakaan. Alhamdulillah. Satu hal yang patut Anila syukuri. Kendati pencariannya kelewat jauh dari rumahnya. Entah mengapa, Anila kini meniti jalan menuju rumah Papi. Karena memang jalanan yang Anila tahu hanya sebatas kantor, supermarket, dan rumah Papi, mentok-mentok terminal bus.


Rumah dengan halaman yang subur dengan aneka tanaman itu sepi. Tidak ada mobil Ranala terparkir di luarnya. Anila ragu, masuk atau tidak. Tiba-tiba gorden kamar Papi tersingkap. Papi pasti menyadari ada seseorang di depan rumahnya karena Anila belum mematikan mesin motor yang ditungganginya.


"An." Papi keluar rumah dengan pakaian tidurnya.


"Pi, maaf ganggu malam-malam." Anila mematikan mesin motor dan turun untuk meraih punggung tangan Papi.


"Rana mana?"


Deg. Pertanyaan yang menandakan bahwa Ranala tidak ada di tempat itu.


"Masuk," perintah Papi. "Kamu naik itu? Punya siapa itu?" Papi menunjuk motor yang kini berada di belakang punggung keduanya.


"Pinjaman, Pi," jawab Anila, jeda sesaat sebelum melanjutkan, "Pi, Anila nggak bisa lama, takut Mas Rana pulang. Kunci rumah, Anila bawa."


"Rana belum pulang. Anak itu!" Nada bicara Papi kembali meninggi, membangunkan seisi rumah, termasuk Mami.


Anila mengusap kasar wajahnya, ada rasa bersalah. Seharusnya dia tidak memperkeruh suasana dengan datang ke rumah Papi. Namun, dia benar-benar tidak dapat berpikir jernih.


"Pi, Papi yang tenang, ya, Pi." Mami ke luar kamar mengusap dada Papi menenangkan. Kemudian mengalihkan mata pada Anila dengan pandangan menintimidasi.


"Pi, Anila pamit." Anila mengambil tangan Papi dan menciumnya. "Doain Mas Rana nggak apa-apa, ya, Pi. Kalau Mas Rana sudah pulang, nanti Anila kabari."


"Iya, kabarin kita, ya, kalau Rana sudah pulang," jawab Mami. "Yuk, Mami antar ke depan." Mami merangkul Anila mengarahkan ke luar. "Papi duduk saja, ini coba hubungi Rana." Mami mengalihkan perhatian Papi dengan memberikan ponselnya.


"An, lain kali, kalau ada apa-apa telfon Mami aja, bisa?" tanya Mami dengan suara lirih nyaris tidak terdengar. "Jangan nambah pikiran Papi. Jangan buat hubungan Papi sama Ranala jadi renggang lagi. Kalau belum datang, ya, tunggu aja. Biasakan berpikir positif. Rana itu pekerja keras. Dia nggak akan pulang kalau kerjaannya belum selesai," lanjut Mami.


"Iya, Mi. Maaf. Anila salah. Anila terlalu khawatir sama Mas Rana," sesal Anila. Sekuat mungkin tidak menangis di depan Mami. Dia tidak mau terlihat lemah. Mami menuntutnya menjadi perempuan kuat seperti selera Mas Rana.


***

__ADS_1


__ADS_2